Skip to content
-
Berlangganan buletin kami & jangan pernah ketinggalan postingan terbaik kami. Berlangganan Sekarang!
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Home/Roman/Pesan Terakhir Ibu
person in black coat standing in forest
Roman

Pesan Terakhir Ibu

By admin_kartini
November 6, 2025
0

Oleh : Vera Verawati

Malam itu, hujan turun pelan di atas atap rumah reyot di pinggir desa Karangjati. Lampu minyak berkelap-kelip, menyorot wajah pucat seorang perempuan paruh baya yang terbaring di tikar pandan. Napasnya tersengal, dada naik-turun perlahan. Di sampingnya duduk dua anak perempuan — Lila, 13 tahun, dan adiknya, Sari, baru 7 tahun.

“Ibu sudah tak kuat lagi,” bisik sang ibu lirih, tangan kurusnya menggenggam jemari Lila.

“Kalau Ibu nanti pergi, jangan beritahu warga. Kuburkan Ibu di belakang rumah saja. Jangan biarkan orang datang. Ibu takut mereka ikut terkena kutuk itu.”

Lila menahan tangis.

“Ibu, kutuk apa?”

Namun ibu tak menjawab. Ia hanya menatap langit-langit, seolah melihat sesuatu yang tak kasat mata. Satu napas terakhir keluar dari bibirnya, lalu sunyi menelan malam itu.

Selama tiga hari, kedua anak itu berdiam di rumah. Lila melakukan apa yang diperintahkan. Dengan tangan kecilnya, ia menggali tanah di belakang rumah, sementara Sari menangis, memeluk boneka lusuh mereka.

Saat tubuh sang ibu diturunkan ke liang, Lila berbisik, “Maafkan Lila kalau salah, Bu. Kami akan diam seperti pesan Ibu.”

Sejak saat itu, rumah itu menjadi sangat sepi. Tak ada aroma masakan, tak ada suara ibu memanggil dari dapur. Hanya desau angin dan sesekali bisikan yang entah dari mana asalnya.

Hari demi hari berlalu. Persediaan makanan habis. Lila mencoba mencari singkong liar di kebun, tapi malam hari selalu datang dengan rasa takut. Kadang ia mendengar langkah kaki di dapur. Kadang terdengar suara ibu memanggil.

“Lila, Sari, Ibu lapar.”

Sari semakin ketakutan. Ia sering menatap ke arah halaman belakang dan berbicara sendiri.

“Lila, Ibu berdiri di dekat pohon pisang. Ibu basah, Lila. Ibu marah karena kita tidak membawakan selimut.”

Lila berusaha menutup telinga, tapi suara itu makin sering terdengar — kadang dari sumur, kadang dari kamar ibu. Suara itu lembut, namun membawa dingin yang menggigit tulang.

Dua minggu kemudian, bau busuk mulai tercium oleh warga yang melintas di jalan kecil dekat rumah itu. Beberapa orang merasa curiga — tak ada kabar dari keluarga itu sejak lama. Ketika mereka datang, pintu rumah terkunci dari dalam. Setelah didobrak, pemandangan di dalam membuat semua yang hadir membeku.

Lila ditemukan terduduk di pojok ruangan, tubuhnya kurus kering, mata menatap kosong ke arah jendela. Di pangkuannya, Sari terbaring lemah, bibir pecah, kulit pucat. Di sebelah mereka terdapat piring berisi nasi basi dan air kotor.

Namun yang paling mengerikan bukan itu. Dari arah belakang rumah, warga mencium bau lebih tajam. Saat mereka menggali tanah di bawah pohon pisang, ditemukan jasad sang ibu — namun posisi tubuhnya terbalik, wajahnya menghadap ke atas dengan mata yang masih terbuka lebar.

Beberapa warga mengaku melihat mata itu bergerak, menatap mereka satu per satu. Lila tiba-tiba menjerit.


“Jangan ganggu Ibu! Ibu belum selesai makan!”

Sejak hari itu, Lila tak pernah sadar lagi. Ia kini dirawat di Rumah Sakit Jiwa, selalu memeluk boneka lusuh adiknya, berbisik hal yang sama setiap malam.

“Ibu belum kenyang, jangan buang makanannya.”

Dan di rumah tua yang kini kosong itu, warga kadang masih mendengar suara langkah kaki pelan dari dapur — seolah seseorang sedang mencari piring untuk makan malam.

Kuningan, 5 November 2025

Tags:

Cerita PendekFiksiHoror
Author

admin_kartini

Other Articles
Previous

Kemenangan PESIK Kuningan Lebih dari Sekadar Skor di Lapangan

green and brown coconut trees under clear blue sky
Next

Quotes Hari Ini

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kartini Kuningan adalah media portal berita independen yang menghadirkan informasi tepercaya, aktual, dan mendalam seputar dinamika Kabupaten Kuningan hingga beragam peristiwa penting di tingkat nasional.

Mengusung slogan "Phalosa Inspiratif", kami berkomitmen menjadi ruang informasi yang tak hanya menceritakan fakta, tetapi juga memancarkan cahaya inspirasi (phalosa) bagi masyarakat. Kami percaya bahwa setiap berita, kisah lokal, dan dinamika daerah memiliki potensi untuk mengedukasi, menginspirasi, serta mendorong perubahan positif.

  • Facebook
  • X
  • Instagram
  • LinkedIn
Copyright 2026 — Kartini Kuningan. All rights reserved. Theme By Derijck Nugroho