Skip to content
-
Berlangganan buletin kami & jangan pernah ketinggalan postingan terbaik kami. Berlangganan Sekarang!
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Home/Berita/BEEK Resmi Dibuka, Cagar Budaya Graha Wangi Beralih Fungsi Jadi Ruang Kreatif
BeritaSeni & Budaya

BEEK Resmi Dibuka, Cagar Budaya Graha Wangi Beralih Fungsi Jadi Ruang Kreatif

By admin_kartini
Februari 9, 2026
0

KARTINI (Kartini) – Gedung Graha Wangi yang selama bertahun-tahun lebih sering menjadi saksi diam perjalanan sejarah Kuningan, kini mulai menemukan kembali denyutnya. Sabtu (7/2/2026), bangunan heritage itu tak hanya menjadi lokasi peresmian Balai Edukasi dan Ekosistem Kuningan (BEEK), tetapi  juga simbol perubahan cara memandang cagar budaya: dari ruang yang “disimpan”, menjadi ruang yang “digunakan”.

Bagi para seniman dan komunitas budaya Kuningan, kehadiran BEEK merupakan jawaban atas kebutuhan lama akan ruang berkarya yang terbuka, inklusif, dan berkelanjutan. Setelah satu tahun aktivitas Yayasan Tulisan dan Gambar (TUDGAM), transformasi menjadi BEEK dipandang sebagai langkah berani untuk memperluas dampak kerja-kerja kebudayaan yang sebelumnya tersebar dan bersifat sporadis.

“Yang kami butuhkan bukan hanya panggung, tapi rumah,” ungkap salah satu pegiat seni yang hadir. Rumah yang memungkinkan ide diuji, karya dirawat, dan dialog terus berlangsung—tanpa sekat antara seniman, masyarakat, dan pelaku ekonomi kreatif.

Peresmian BEEK turut dihadiri perwakilan Kementerian Kebudayaan RI, Pemerintah Kabupaten Kuningan, Bank Indonesia Cirebon, serta para seniman lintas disiplin. Namun di balik jajaran pejabat dan sambutan resmi, perhatian utama justru tertuju pada bagaimana ruang ini akan dijalani ke depan.

Gedung Graha Wangi, yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya, kini tidak lagi hanya diposisikan sebagai objek pelestarian pasif. Melalui BEEK, bangunan ini difungsikan sebagai laboratorium kreatif yang menampung berbagai inisiatif, mulai dari Kuningan Biennale, Sekolah Baik, Adu Ide, hingga kolaborasi UMKM kreatif berbasis budaya.

Sekretaris Ditjen Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Judi Wahjudin, menyebut pemanfaatan cagar budaya sebagai ruang publik kreatif sebagai praktik yang relevan dengan tantangan kebudayaan hari ini. Menurutnya, kebudayaan hanya akan bertahan jika diberi ruang untuk tumbuh dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Bagi komunitas, pernyataan itu menjadi harapan sekaligus pengingat. Ruang seperti BEEK tidak cukup hanya diresmikan, tetapi harus dijaga konsistensinya sebagai ekosistem yang adil, terbuka, dan berpihak pada proses kreatif.

Dengan semangat gotong royong antara pemerintah, komunitas, dan pelaku seni, BEEK diharapkan menjadi contoh bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti membekukan masa lalu. Di Kuningan, Graha Wangi kini belajar berbicara kembali—melalui karya, pertemuan, dan ide-ide baru yang lahir dari dalamnya. (vr)

Tags:

BEEKGraha Wangi Cagar BudayaKreatifWabup Kuningan
Author

admin_kartini

Other Articles
word written on paper
Previous

Quotes Hari Ini

a woman and child looking at a cell phone
Next

Balita Anteng Bukan Berarti Baik-Baik Saja, Dampak Gadget pada Kesehatan Mental Anak

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kartini Kuningan adalah media portal berita independen yang menghadirkan informasi tepercaya, aktual, dan mendalam seputar dinamika Kabupaten Kuningan hingga beragam peristiwa penting di tingkat nasional.

Mengusung slogan "Phalosa Inspiratif", kami berkomitmen menjadi ruang informasi yang tak hanya menceritakan fakta, tetapi juga memancarkan cahaya inspirasi (phalosa) bagi masyarakat. Kami percaya bahwa setiap berita, kisah lokal, dan dinamika daerah memiliki potensi untuk mengedukasi, menginspirasi, serta mendorong perubahan positif.

  • Facebook
  • X
  • Instagram
  • LinkedIn
Copyright 2026 — Kartini Kuningan. All rights reserved. Theme By Derijck Nugroho