Skip to content
-
Berlangganan buletin kami & jangan pernah ketinggalan postingan terbaik kami. Berlangganan Sekarang!
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Home/Roman/Hutan Larangan
trees on a dark forest
Roman

Hutan Larangan

By admin_kartini
Oktober 31, 2025
0

Erwin merutuk: ini jalan yang menyebalkan, tidak beraspal, muka jalan berupa tonjolan batu-batu besar. Ditambah lagi harus berhati-hati melangkahkan kaki karena dari arah awal berangkat dan dari arah menuju tujuan, berseliweran truk-truk besar berumur tua pengangkut marmer—yang konon, marmer-marmer itu nantinya akan diolah, menjadi lantai, meja, kursi, serta diekspor ke negeri Timur Tengah. Truk-truk dari arah awal masih mendingan karena bak-baknya kosong, sialnya, truk-truk dari arah tujuan di bak-baknya penuh terisi bongkahan marmer—yang ditumpuk begitu saja tanpa pengikat.

Di satu tempat, di bawah pohon kersen, Erwin berhenti. Batang pohon kersen tampak kusam oleh buliran-buliran debu yang tebal. Saat mendongakkan kepala ke tajuk, rupanya sama saja, terlihat daun-daun menjadi abu-kehijauan oleh debu-debu residu marmer yang bertaburan tak henti dari truk-truk marmer.


Mulanya, Erwin akan berhenti beristirahat agak lama untuk melepas lelah, akhirnya urung tersebab tidak mau terus-menerus terkena debu. Bagaimana kalau sampai terjadi sesak napas? Usai membetulkan tas punggung, tiba-tiba seorang tukang ojek pangkalan menepi, bertanya hendak ke mana. Erwin menjelaskan akan ke Hutan Larangan.

“Tempat tujuan masih jauh, iya di awal-awal jalan ini, jalan masih relatif datar, tetapi nanti di atas, ada beberapa tanjakan, juga tikungan. Bang,” jelas tukang ojek.

“Kelihatannya, kau orang kota? Ayolah lebih baik ojek saja, nanti kecapaian.” Bujuknya lagi.

Tukang ojek juga mewanti-wanti, berjalan kaki di jalan ini harus ekstra hati-hati. Ada kalanya bongkahan marmer jatuh dari bak truk, menggelinding.

“Ngeri juga rupanya. Bagaimana cerita kejadian utuhnya?”

“Menimpa orang, menggencet paha.”

Erwin pada akhirnya mengalah, mau naik ojek. Di satu tikungan yang cukup menanjak, tampak satu truk mogok.

“Nah, truk yang mogok ini juga berbahaya. Kadang suka mundur sendiri, rem tangan tidak kuat menahan.”

“Oh ya. Bener ngeri.”

Selama dibonceng, Erwin menutup mulut bila berpapasan dengan truk tersebab gelinding-gelinding ban akan lebih banyak mengeluarkan debu. Tetapi, sebetulnya, biarpun tidak berpapasan dengan truk, jalan masih tetap berdebu. Erwin lega saat telah tiba di depan rumah tetua desa—kuncen Hutan Larangan. Usai membayar ongkos yang terjangkau disertai ucapan terima kasih karena tiba dengan selamat, Erwin langsung mengetuk pintu rumah tetua.
Erwin tahu tentang Tetua ini dari tetangganya di kota. Tetua kabarnya memiliki pengetahuan mistik yang mumpuni. Erwin ingin, dengan bantuan Tetua ini, bisa tiba di Hutan Larangan dengan lancar dan selamat. Kata tetangga itu, Tetua juga sudah dikenal di mana-mana. Tetua menyilakan dahulu Erwin beristirahat.

“Aku mau menerimamu sebagai tamu karena tadi malam aku bermimpi dahulu. Aku juga akan membantu orang yang benar-benar membutuhkan, benar-benar darurat mendesak. Memang, apa yang kau butuhkan?”

“Aku ingin agar hatiku bisa tenang setelah berkunjung ke Hutan Larangan, iya selama ini kan aku sibuk dengan aktivitas sehari-hari di kota, aku ingin menyepi, mengasingkan diri, biar hatiku bisa tenang.”

“Tidak ada keinginan lain, misalnya ingin agar karier bisa maju?”

“Tidak.”

“Tidak apa-apa, aku tetap bersedia mengantar.”

Tetua lalu menyilakan minum dahulu seraya menikmati rebusan ubi jalar.

“Lokasi Hutan Larangan, tidak jauh, di belakang rumahku, sekitar dua puluh menit berjalan kaki.”

Keduanya terus melangkahkan kaki. Sebelum memasuki pintu masuk Hutan Larangan, keduanya berjalan menurun di jalan setapak. Tetua berjalan dengan kecepatan seperti berjalan di jalan yang datar karena sudah terbiasa. Lain halnya dengan Erwin yang amat hati-hati berjalan, menjadi lambat, tidak mau tergelincir, dan ini berkibat Erwin sering tertinggal. Tetua pun menjadi sering berhenti berjalan agar posisinya tidak jauh. Saat tiba di muka Hutan Larangan, tampak satu pohon kiara, berbatang putih besar tinggi menjulang.

“Nah, kini sudah sampai di pintu masuk Hutan Larangan, kita sekarang akan menuju ke satu tebing, di bawah tebing itu ada satu tempat yang menjorok dan datar, sebuah gua kecil, tempat orang bertapa. Ini untuk informasi saja.”

Sebelum sampai, Erwin tak henti mengamati Hutan Larangan.

“Pak, katanya ini Hutan Larangan, tetapi kenapa pohon-pohonnya sedikit. Pohon yang segelintir, tumbuh juga kerdil. Malahan hutan ini bisa dikatakan gundul.” Erwin bercerocos mengomentari keadaan yang dilihatnya.

“O itu, ya, begini, kan di hutan ini tanah-tanah yang sedikit bercampur dengan batu-batu marmer. Akarnya tentu tidak akan bisa menembus batu marmer, akibatnya pohon-pohon tidak bisa tumbuh dengan baik.”

Erwin kecewa.

Kuningan,   Agustus 2025 

Penulis :
Vera Verawati, aktif sebagai relawan di TBM Pondok Kata Rz, menulis di berbagai media online diantaranya kartinikuningan.id dan kompasiana.com. Kesukaanya kopi, buku dan hiking.

Tags:

CerpenHoror
Author

admin_kartini

Other Articles
Previous

Kuningan Siap Guncang Liga 4, Dukungan Warga Jadi Energi Utama untuk Pesik

smiling man in suit and woman in skirt in city
Next

Baju Kerja yang Cocok Dipakai di Musim Hujan, Tetap Nyaman dan Profesional di Cuaca Dingin

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kartini Kuningan adalah media portal berita independen yang menghadirkan informasi tepercaya, aktual, dan mendalam seputar dinamika Kabupaten Kuningan hingga beragam peristiwa penting di tingkat nasional.

Mengusung slogan "Phalosa Inspiratif", kami berkomitmen menjadi ruang informasi yang tak hanya menceritakan fakta, tetapi juga memancarkan cahaya inspirasi (phalosa) bagi masyarakat. Kami percaya bahwa setiap berita, kisah lokal, dan dinamika daerah memiliki potensi untuk mengedukasi, menginspirasi, serta mendorong perubahan positif.

  • Facebook
  • X
  • Instagram
  • LinkedIn
Copyright 2026 — Kartini Kuningan. All rights reserved. Theme By Derijck Nugroho