Hari Raya Idul Fitri, Antara Kesedihan dan Kebahagiaan

Ditulis oleh : Riki Irfan (Dosen Universitas Islam al-Ihya Kuningan)

Tak terasa, kita semua muslim di Indonesia, telah memasuki minggu terakhir Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri sudah di depan mata kita, bahkan tunjangan hari raya bagi pegawai sebagian besar telah diberikan oleh tempatnya bekerja, agar pekerja dapat membeli kebutuhan untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga dan berlibur-mudik ke kampung halaman berkumpul dengan keluarga besar sebagai tradisi di Indonesia.  Namun, di balik kemeriahan dan persiapan lebaran Idul fitri tersebut bagi kita, mungkin ada baiknya kita mencoba menoleh kebelakang pada sejarah, bagaimana para salafus shaleh—3 generasi terbaik umat Islam (sahabat, tabi’in, dan tabiit tabi’in-para ulama awal) memaknai hari raya Idul Fitri ini. Apakah benar Idul Fitri sekadar suatu kegembiraan duniawi saja?.  Penulis mencoba merangkum makna Idul Fitri menurut perspektif salafus shaleh, generasi terbaik Islam, dengan harapan hari raya Idul Fitri kali ini tidak hanya meriah secara lahir, tetapi juga bermakna secara batin.

Sikap dan pandangan Salafus Shaleh terkait hari raya Idul Fitri

  • Bersedih terkadang menangis di Penghujung Ramadan: Salafus shaleh menangis ketika bulan Ramadan akan berlalu, bukan semata karena ditinggalkan bulan penuh berkah, melainkan dari kekhawatiran mengenai apakah amal ibadah mereka diterima oleh Allah SWT, mereka sadar amal seseorang belum tentu sempurna. Mereka berdoa: “Ya Allah, anugerahkan lagi kepada kami bulan Ramadhan, anugerahkan lagi kepada kami bulan Ramadhan, dan bulan Ramadhan…”. Idul Fitri seharusnya tidak membuat kita lalai, syawal adalah waktu awal untuk menjaga  ketakwaan kita.
  • Kembali berbuka puasa setelah satu bulan penuh berpuasa: Idul Fitri terdiri dari dua kata: “Id” yang berarti kembali/hari raya, dan “Al-Fitr” yang berarti berbuka puasa/makan. Secara harfiah idul fitri adalah hari raya dimana kita kembali berbuka puasa. Secara maknawi, di hari idul fitri adalah merayakan hari kemenangan atas berhasil melawan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa dan kembali berpuasa.
  • Saatnya meraih Kemenangan: 1) kemenangan spiritual. Terbebas dari syirik, hasad (dengki), dan kesombongan. “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams ayat 9-10); 2) kemenangan emosional. Mampu mengendalikan emosi selama Ramadan, menahan amarah, menahan diri dari pertengkaran. “Orang kuat bukanlah orang yang sering menang dalam perkelahian, akan tetapi orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya ketika marah.” (HR. Bukhari); 3) kemenangan intelektual. Kemenangan ini ditandai dengan lahirnya muslim yang mampu membedakan kebenaran dan kebatilan, kebaikan dan keburukan.

Berikut ini beberapa amalan yang dianjurkan dilakukan pada Hari Raya Idul Fitri, antara lain:

  • Saling mengucapkan Selamat: Ucapan selamat Idul Fitri bukan sekadar tradisi, melainkan amalan yang dicontohkan dan dibudayakan oleh para sahabat dan salafus shaleh. Doa yang diajarkan adalah: Taqabbalallahu minna wa minkum wa taqabbal yaa kariim. Artinya: “Semoga Allah menerima (amal ibadah) dari kami dan dari kalian semua. Terimalah wahai (Allah) Yang Maha Pemurah.” Ucapan ini bisa disampaikan sejak malam terakhir iktikaf di bulan Ramadan, dan umumnya di Indonesia dilakukan setelah khutbah salat Id .
  • Memperbanyak Takbir, tahmid dan tasbih: Mengumandangkan takbir, tahmid, dan tashih merupakan wujud syukur atas nikmat dan kemenangan yang diberikan Allah. Kegembiraan yang diekspresikan melalui lantunan takbir adalah bentuk penghambaan dan pengakuan bahwa segala nikmat berasal dari Allah semata .
  • Anjuran makan sebelum shalat Idul Fitri adalah sebagai bentuk sunnah “ta’jil” (menyegerakan berbuka) dan untuk memastikan secara praktik bahwa hari itu sudah tidak ada lagi puasa. Ini menutup pintu keraguan bagi siapa pun yang mengira bahwa puasa masih berlangsung hingga shalat Id dilaksanakan .
  • Menjalin Ukhuwah: Pada hari raya Idul fitri, umat Islam dianjurkan untuk bersalam-salaman jika bertemu, tentu harus sesuai dengan tuntunan, dimana laki laki tidak boleh bersalaman dengan lawan jenis yang bukan muhrim nya. “Sesungguhnya seorang mukmin apabila bertemu dengan mukmin lain kemudian mengucapkan salam kepadanya, dan mengambil tangannya lalu menjabatnya maka berguguranlah dosanya seperti dedaunan berguguran.” (HR. Silsilah Shahihah: 526).
  • Puasa Enam Hari di Bulan Syawal (setelah 1 syawal): Para ulama salaf sangat menganjurkan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal, sebagaimana sabda Rasululloh shallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim) .

Hal-Hal yang Harus Dihindari pada Hari Raya Idul Fitri

  • Larangan Berpuasa pada Hari Raya (1 Syawal): “Rasulullah shallahu alaihi wasallam melarang berpuasa pada dua hari, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Muslim)
  • Diharamkan berpuasa dihari Idul Fitri karena hari raya adalah waktu untuk berbuka, bersyukur, dan bergembira atas nikmat Allah. Berpuasa pada hari tersebut berarti menolak “undangan Allah” untuk menikmati karunia-Nya setelah sebulan penuh beribadah .
  • Melalaikan Kewajiban dan kembali berbuat maksiat:  kesibukan dan keseruan berlebaran, bersilaturahmi dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, terkadang membuat kita lalai terhadap waktu shalat. Ada pula muslim yang berlebihan dalam berpakaian dan berhias hingga melanggar syariat, ada sebagian yang berlebihan menghambur-hamburkan harta untuk hal yang tidak bermanfaat dan berbuat riya dan berperilaku yang menyakitkan orang lain.
  • Kembali melakukan Ibadah yang Tidak Sesuai Tuntunan (Bid’ah): para ulama telah mengingatkan agar kita berhati-hati tidak mencampuradukkan ibadah yang sudah ditetapkan waktunya dan jumlahnya dengan kebiasaan yang tidak sesuai sunnah.

Hari raya Idul Fitri dalam pandangan salafus shaleh bukanlah sekadar perayaan duniawi (makan makan), melainkan momentum evaluasi spiritual dan waktu nya untuk bertekad menjaga keimanan ketakwaan yang telah dilatih dibulan Ramadhan. Makna Idul Fitri sejati terletak pada kesadaran akan ketidakpastian diterimanya amal ibadah kita di bulan Ramadhan, sehingga memicu kita untuk terus beribadah dan tetep memperbaiki diri meskipun Ramadhan sudah berlalu. Pada hari idul fitri akan tiba sebentar lagi, kita dianjurkan untuk menghidupkan sunnah-sunnah idul fitri yang telah disampaikan diatas  dan menjauhi hal-hal yang dilarang.

Demikian, tulisan ini saya buat. Semoga catatan rangkuman ini dapat menjadi pengingat bagi saya dan kaum muslimin semuanya. Selamat mengisi waktu Ramadhan yang tinggal tersisa sedikit lagi, dengan ibadah terbaik sesuai tuntunan. Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadan di tahun-tahun mendatang. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *