Halalbihalal Diskatan Kuningan Soroti Pentingnya Budaya Kerja Solid, Seremoni atau Substansi?

KARTINI (Kuningan) – Kegiatan halalbihalal yang digelar Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan di Masjid Al-Falah, Jumat (27/3/2026), tak sekadar menjadi rutinitas pasca-Idulfitri. Di balik suasana hangat dan penuh maaf-memaafkan, tersirat pesan lebih dalam: sejauh mana nilai kebersamaan benar-benar hidup dalam budaya kerja aparatur.

Alih-alih hanya menekankan aspek spiritual, momentum ini justru memperlihatkan bagaimana organisasi diuji dalam hal kekompakan dan rasa memiliki. Kepala Diskatan, Dr. Wahyu Hidayah, menegaskan bahwa keberhasilan program ketahanan pangan tidak semata bergantung pada kebijakan dan anggaran, tetapi pada kualitas hubungan antarpegawai.

“Soliditas itu tidak dibangun dalam rapat formal saja, tapi dari kebersamaan yang tulus. Di sinilah halalbihalal menjadi penting—sebagai ruang memperbaiki relasi kerja,” ujarnya.

Menariknya, kegiatan ini diselenggarakan secara swadaya oleh pegawai, termasuk kontribusi dari mereka yang berulang tahun di bulan Maret. Hal tersebut menjadi indikator bahwa semangat kolektif masih terjaga, meski di tengah tantangan birokrasi yang sering kali kaku dan prosedural.

Di sisi lain, pendekatan ini juga membuka refleksi: apakah kebersamaan seperti ini hanya muncul dalam momen seremonial, atau benar-benar menjadi fondasi kerja sehari-hari? Pasalnya, sektor ketahanan pangan memiliki tekanan nyata—mulai dari stabilitas produksi hingga kesejahteraan petani—yang membutuhkan kolaborasi nyata, bukan sekadar simbolik.

Dalam tausiyahnya, H. Dede Wahid Hasyim mengingatkan bahwa makna silaturahmi tidak berhenti pada jabat tangan. Ia menekankan pentingnya keikhlasan sebagai dasar hubungan antarmanusia, termasuk dalam lingkungan kerja.

“Kalau silaturahmi hanya formalitas, maka tidak akan mengubah apa-apa. Tapi kalau tulus, itu bisa memperkuat kerja bersama,” katanya.

Kegiatan yang diikuti seluruh pegawai ini ditutup dengan doa dan musafahah. Namun lebih dari itu, halalbihalal kali ini menjadi pengingat bahwa tantangan organisasi bukan hanya pada capaian program, melainkan pada konsistensi menjaga nilai kebersamaan setelah acara usai.

Ke depan, publik tentu berharap semangat yang digaungkan dalam forum seperti ini benar-benar tercermin dalam kinerja nyata—terutama dalam memastikan ketahanan pangan yang berkelanjutan dan berdampak langsung bagi masyarakat. (vr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *