Bukan Sekadar Tanam Bibit, Pemkab Kuningan Kunci 550 Hektare Kelapa Genjah untuk Lepas dari Ketergantungan Komoditas Musiman
KARTINI (Kuningan) — Pemerintah Kabupaten Kuningan mengambil langkah agresif dalam merestrukturisasi ekonomi pedesaan. Tidak lagi bergantung pada komoditas musiman yang rentan fluktuasi harga, Pemkab Kuningan mengunci perluasan lahan kelapa genjah hingga mencapai total 550 hektare sebagai mesin pendapatan baru yang terukur bagi para petani setempat.
Strategi jangka panjang ini diperkuat melalui dukungan berkelanjutan Kementerian Pertanian dari 2025 hingga 2026. Secara akumulatif, sebanyak 60.500 bibit kelapa genjah dan 181,5 ton pupuk organik telah disalurkan ke lapangan. Berbeda dengan varietas kelapa dalam yang membutuhkan waktu lama dan berisiko saat pemanenan, kelapa genjah dipilih karena sudah berproduksi pada usia 3–4 tahun dengan postur pohon yang relatif pendek, sehingga memangkas biaya pemeliharaan sekaligus mempermudah proses panen.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., menegaskan bahwa titik berat program ini terletak pada komitmen pemeliharaan aset, bukan sekadar seremonial pembagian bantuan. Dengan kerapatan 110 pohon dan 330 kilogram pupuk organik per hektare, bantuan tersebut dipastikan menjadi modal awal yang produktif untuk melengkapi basis 4.007 hektare perkebunan kelapa yang sudah ada di Kuningan.
“Jangan sampai kita kuat di penanaman, tetapi lemah di pemeliharaan. Tanaman ini adalah tabungan masa depan. Bantuan bibit dan pupuk ini bukan akhir program, melainkan awal membangun aset produktif,” ujar Wahyu saat Sosialisasi Perluasan Kelapa Genjah di Aula Diskatan Kuningan, Rabu (9/9/2026).

Menanggapi langkah tersebut, Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., menekankan bahwa keberhasilan pembangunan sektor pertanian tidak boleh berhenti pada peningkatan angka produksi atau perluasan lahan semata. Orientasi utama pemerintah daerah adalah memastikan hadirnya nilai tambah melalui integrasi dari hulu ke hilir—mulai dari pendampingan budidaya, pengolahan produk turunan, hingga kemitraan pasar—agar petani tidak terjebak sekadar menjadi penyedia bahan mentah berharga murah.
Dian meyakini bahwa ketika petani memiliki sumber pendapatan yang stabil dan bernilai ekonomi tinggi, daya beli masyarakat desa akan terangkat secara otomatis. Melalui pengawalan ketat dari masa tanam hingga panen, proyek 550 hektare kelapa genjah ini diproyeksikan menjadi benteng ketahanan ekonomi baru yang mampu menggerakkan roda perekonomian daerah secara berkelanjutan. (vr)**