Menertawakan Absurditas Kekuasaan Lewat Satir Tandi Skober
Judul : Ketika Cikeas Kentut
Penulis : Tandi Skober
ISBN : 978-602-18849-3-5, 140 halaman; 6,69×9,05 inch
Penerbit : Bumen Pustaka Emas
Peresensi : Vera Verawati (Ketua Forum TBM Kuningan, Kolomnis)
KARTINI – Mengingat berbagai gejolak yang bertubi-tubi menghantam negeri belakangan ini, rasanya ada rasa getir yang sukar dihindari. Cerita duka di balik program kecukupan gizi yang berujung keracunan massal, hingga maraknya bangunan berlabel “merah putih” yang berdiri di pinggir sawah, pelosok desa, bahkan merambah ke kawasan hutan.
Membaca kembali buku kumpulan esai Ketika Cikeas Kentut karya almarhum Tandi Skober seperti membuka kembali album kenangan bangsa. Di dalamnya, potret-potret serupa rupanya pernah terjadi pada masanya—membuktikan bahwa dinamika kekuasaan di negeri ini sering kali berulang dalam pola yang ironis.
Melalui buku ini, Tandi Skober menunjukkan bahwa kritik sosial dan politik tak selalu harus disampaikan dengan bahasa yang kaku, tegang, apalagi menggurui. Lewat judulnya saja yang nyeleneh dan jenaka, kita sudah diajak menengok dinamika sosio-politik Indonesia dari sudut pandang yang berbeda: santai, penuh satir, namun amat tajam.
Dalam setiap esainya, Tandi Skober bertindak bak seorang pengamat jeli di sudut warung kopi. Beliau menangkap absurditas dari kebijakan penguasa lintas rezim, lalu membongkarnya lewat metafora dan analogi yang renyah. Bukannya membuat kita berang, humor dan sindiran halus di dalamnya justru membuat kita tertawa kecil—sebelum akhirnya terdiam dan berpikir mendalam.
Kekuatan utama buku ini terletak pada gayanya yang lugas. Obrolan politik yang biasanya terkesan rumit dan berjarak mampu disulap menjadi tulisan yang sangat ramah dicerna siapa saja. Walau ditulis merespons konteks zaman tertentu, isu-isu tentang moralitas publik, janji politik, hingga karakter masyarakat yang diangkatnya tetap terasa hangat dan teramat relevan dengan situasi hari ini.
Membaca Ketika Cikeas Kentut bukan sekadar ajakan bernostalgia dengan karya salah satu sastrawan kenamaan tanah air, melainkan sebuah latihan menjaga daya kritis masyarakat dengan cara yang bijak dan berani.Buku ini sangat direkomendasikan untuk siapa saja—terutama generasi muda dan para penikmat literasi—yang ingin belajar memahami perjalanan serta dinamika bangsa tanpa harus kehilangan rasa humor.