Diskusi Publik “Dari Krisis ke Transformasi Diri” Digelar di Saung Kopi Hawwu

KARTINI (Kuningan) — Diskusi publik bertajuk “Dari Krisis ke Transformasi Diri” diselenggarakan pada Sabtu (10/12/2026), bertempat di Saung Kopi Hawwu, Kabupaten Kuningan. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara Kopi Hawwu, Yayasan Hibar Budaya, TBM Pondok Kata RZ, dan kartinikuningan.id. Acara tersebut diikuti oleh lebih dari 20 peserta dari berbagai komunitas dan organisasi mahasiswa, sebagai upaya menghadirkan ruang dialog yang terbuka, reflektif, dan konstruktif bagi masyarakat.

Diskusi ini mengangkat tema besar tentang pentingnya menyediakan ruang aman untuk didengar, khususnya bagi individu yang sedang berada dalam fase krisis, transisi kehidupan, maupun proses pencarian kembali makna dan kebahagiaan. Melalui forum ini, peserta diajak untuk memahami bahwa setiap pengalaman hidup—baik luka, perpisahan, maupun kegagalan—memiliki nilai pembelajaran yang dapat mengantarkan pada proses transformasi diri.

Hadir sebagai narasumber Nunung Khazanah, S.IP, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kuningan, yang memaparkan tingginya angka kekerasan seksual pada perempuan. Selain itu, Manusia Ngobrol memberikan perspektif dialogis mengenai proses penerimaan diri dan keberanian untuk berbagi pengalaman secara terbuka. Diskusi juga diperkaya oleh Ustad Dadan, yang menyampaikan pandangan spiritual terkait makna krisis sebagai bagian dari proses pendewasaan dan penguatan batin.

Peserta diskusi berasal dari berbagai latar belakang, di antaranya Himpunan Mahasiswa (HIMA) Universitas Muhammadiyah Kuningan, Komunitas Jaga Pelita, Komunitas Perempuan Perindu Surga, serta sejumlah komunitas lainnya. Keberagaman latar belakang ini memberikan kontribusi positif terhadap dinamika diskusi dan pertukaran gagasan yang berlangsung.

Salah seorang peserta, Dianreka, penyiar dari salah satu stasiun radio di Kabupaten Kuningan, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai diskusi publik semacam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

“Acaranya bagus dan perlu sering-sering diadakan. Karena pada kenyataannya, kita sering membutuhkan tempat dan teman untuk berbicara. Bukan sekadar berbicara, tetapi juga benar-benar didengarkan. Sebab, tidak jarang ketika kita berbicara, tidak ada yang mendengarkan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, para penyelenggara berharap diskusi publik dapat menjadi ruang edukatif dan partisipatif yang berkelanjutan, sekaligus mendorong tumbuhnya kesadaran akan pentingnya empati, komunikasi terbuka, serta ketahanan mental di tengah masyarakat. Diskusi ini menegaskan bahwa proses pemulihan dan transformasi diri dapat dimulai dari keberanian untuk berbicara dan kesediaan untuk saling mendengarkan. (vr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *