Ketika Grup Calung Menghidupkan Tradisi Sahur di Kampung

KARTINI – Hal yang paling dirindukan saat Ramdhan berlalu adalah berisik yang asik suara calung. Di banyak kampung di Kabupaten Kuningan, menjelang waktu sahur di bulan Ramadan, suasana dini hari menjadi begitu meriah. Dari kejauhan sering terdengar bunyi bambu (calung) dipukul berirama, diselingi nyanyian, tawa, dan langkah kaki yang berjalan menyusuri gang-gang sempit yang sering disebut koprek.

Itulah suara grup calung keliling—tradisi yang setiap tahun kembali hadir, membangunkan warga untuk sahur sekaligus merawat denyut seni budaya lokal. Bagi sebagian orang, kegiatan ini mungkin terlihat sederhana, sekelompok pemuda berjalan sambil memainkan calung. Namun di balik suara riuhnya, ada nilai seni, kebersamaan, dan tradisi yang telah hidup lama dalam kehidupan masyarakat dari generasi ke generasi.


Musik Tradisional yang Menghidupkan Dini Hari
Calung adalah alat musik tradisional Sunda yang terbuat dari bambu. Bunyi khasnya tercipta dari tabung-tabung bambu yang dipukul sehingga menghasilkan nada yang ringan, ceria, dan ritmis. Ketika dimainkan oleh kelompok pemuda yang berkeliling kampung, calung berubah dari sekadar alat musik menjadi penanda waktu. Irama yang terdengar di jalanan menjadi semacam “alarm budaya” yang membangunkan warga untuk memulai sahur. Suara bambu yang bertalu-talu itu sering diiringi lagu-lagu sederhana—kadang lagu tradisional, kadang pula pantun atau syair spontan yang mengundang senyum.

Tradisi Kolektif Anak Muda Kampung
Menariknya, grup calung sahur hampir selalu digerakkan oleh anak-anak muda. Mereka berkumpul setelah tarawih, menyiapkan alat musik, dan merencanakan rute keliling kampung. Bagi mereka, kegiatan ini bukan hanya soal membangunkan sahur. Ada kebanggaan tersendiri ketika bisa memainkan alat musik tradisional dan menghadirkan hiburan bagi warga. Di beberapa tempat, kelompok ini bahkan berlatih lebih dulu agar irama yang dimainkan terdengar kompak. Tanpa disadari, proses ini menjadi ruang belajar seni yang alami bagi generasi muda.

Hiburan yang Mendekatkan Warga
Saat grup calung lewat, tidak jarang warga membuka jendela atau keluar sebentar ke teras rumah. Ada yang tersenyum, ada yang melambaikan tangan, bahkan ada yang memberi minuman atau makanan kecil kepada para pemain. Interaksi kecil seperti ini membuat hubungan antarwarga terasa lebih dekat. Tradisi sahur keliling dengan calung bukan hanya peristiwa musikal, tetapi juga peristiwa sosial. Di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk, momen sederhana seperti ini terasa semakin berharga.


Kreativitas dalam Kesederhanaan
Meski alatnya sederhana, kreativitas dalam grup calung sahur sering muncul secara spontan. Ada kelompok yang menambahkan kentongan, botol bekas, atau ember plastik untuk memperkaya ritme. Ada pula yang menyelipkan humor dalam nyanyian mereka, membuat warga yang mendengar tersenyum meski baru saja terbangun dari tidur. Semua ini menunjukkan bahwa seni tidak selalu lahir dari panggung besar. Kadang ia justru tumbuh dari jalan kampung yang gelap, dari tangan-tangan muda yang memukul bambu dengan penuh semangat.


Tradisi yang Perlu Dijaga
Di beberapa daerah, tradisi ini mulai berkurang karena berbagai alasan—mulai dari perubahan gaya hidup hingga kekhawatiran akan kebisingan malam hari. Namun di tempat-tempat yang masih menjaganya, grup calung sahur tetap menjadi bagian yang dinantikan dari Ramadan. Bukan sekadar kegiatan membangunkan orang untuk makan sahur, tetapi juga ruang hidup bagi seni tradisional. Ketika calung itu berbunyi di dini hari, yang terdengar bukan hanya musik. Di dalamnya ada semangat kebersamaan, kreativitas anak muda, dan jejak budaya yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan selama irama calung itu masih bergema di gang-gang kampung, tradisi Ramadan yang hangat itu akan tetap hidup. (vr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *