Skip to content
-
Berlangganan buletin kami & jangan pernah ketinggalan postingan terbaik kami. Berlangganan Sekarang!
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Home/Artikel/Opini/Merawat Bumi, Menjaga Titipan. Memaknai Kekayaan dan Ujian Alam
Opini

Merawat Bumi, Menjaga Titipan. Memaknai Kekayaan dan Ujian Alam

By admin_kartini
September 16, 2026
0

KARTINI – Bumi yang kita tinggali ini sungguh tempat yang sangat istimewa. Bayangkan saja, Allah telah melengkapinya dengan berbagai sumber daya alam yang menjadi penopang utama kehidupan kita sehari-hari. Di bumi tercinta ini ada gunung yang kokoh, sungai yang mengalirkan kehidupan, hutan yang sejuk, laut yang luas, air tanah yang menyegarkan, hingga aneka mineral yang bermanfaat.

Semua ini adalah nikmat luar biasa yang Allah berikan kepada makhluk-Nya. Hutan bertindak sebagai penyimpan cadangan air, laut menjadi sumber penghidupan, sungai menjadi pusat peradaban, sementara gunung dan tanah yang subur menyediakan berbagai kebutuhan dasar manusia. Melihat semua limpahan karunia ini, sudah sepatutnya kita senantiasa banyak bersyukur.

Namun di sisi lain, Allah juga menetapkan bumi memiliki berbagai potensi bencana, seperti banjir, tsunami, tanah longsor, kekerangan, letusan gunung api, hingga gempa bumi. Bencana-bencana ini tentu bisa mendatangkan kerusakan serta kehancuran bagi alam dan manusia. Bagi orang yang beriman, kekayaan alam yang melimpah dan bencana alam bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya adalah ketetapan Allah yang sama-sama mengandung hikmah mendalam serta menjadi bentuk ujian bagi kita semua.

Karunia Kekayaan Alam, Amanah yang Harus Dijaga

Al-Qur’an berulang kali mengajak kita untuk memperhatikan alam sebagai tanda kebesaran-Nya. Air hujan yang turun dari langit, tumbuh-tumbuhan yang menghijau, gunung yang menjulang, dan lautan luas adalah karunia yang membuat kehidupan ini bisa terus berlangsung.

Air—baik dari sungai, danau, mata air, maupun air tanah—menjadi sumber utama kehidupan kita. Ketersediaan air ini sudah semestinya kita syukuri dengan cara menjaga kebersihan dan kelestarian tempat-tempat sumbernya. Selain air, Allah juga menganugerahkan tanah yang subur serta hutan yang menghasilkan oksigen bersih untuk kita bernapas.

Bagi orang beriman, seluruh kekayaan alam ini bukan sekadar sumber ekonomi semata, melainkan sebuah amanah. Kita dilarang keras berbuat kerusakan di muka bumi. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)

Manusia memang diberi hak untuk memanfaatkan alam, namun hak itu datang bersama tanggung jawab besar untuk merawatnya. Kekayaan alam adalah tanda kekuasaan Allah bagi mereka yang mau berpikir, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 164:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al-Baqarah: 164)

Ujian Bencana Alam, Cermin Diri dan Sarana Muhasabah

Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian kerusakan lingkungan yang terjadi hari ini merupakan akibat dari ulah tangan manusia sendiri. Ketika keserakahan mengambil alih dalam mengeksploitasi sumber daya tanpa memerhatikan keseimbangan, alam pun akan memberikan respons berupa berbagai masalah lingkungan.

Kita sering menyaksikan sendiri bagaimana banjir dipicu oleh penggundulan hutan, pendangkalan sungai akibat sampah, hilangnya daerah resapan air, hingga pembangunan yang kurang ramah lingkungan. Begitu pula dengan tanah longsor yang kerap diperparah oleh penebangan pohon di lereng-lereng bukit. Allah SWT telah mengingatkan kita melalui firman-Nya:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar-Rum: 41)

Bencana alam pada dasarnya adalah cobaan keimanan. Ia hadir sebagai pengingat agar kita tidak merasa paling kuat dan paling berkuasa di bumi, serta menjadi sarana muhasabah (introspeksi diri) agar kita mau memperbaiki diri dan belajar menjadi lebih bijak terhadap lingkungan. Musibah ini bisa menjadi momentum berharga untuk memperbaiki cara hidup kita. Allah berfirman:

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)

Ikhtiar dan Mitigasi, Wujud Nyata Iman dan Tawakal

Sebagai orang beriman, kita tentu memandang bencana alam secara lebih luas—bukan sekadar peristiwa fisik cuaca atau pergerakan bumi semata. Penjelasan ilmiah mengenai bencana tentu benar dan sangat penting dipahami agar kita bisa melakukan mitigasi. Namun, seorang mukmin juga meyakini bahwa seluruh hukum alam tersebut berjalan atas izin Allah SWT.

Terkadang, ada kekeliruan di tengah kita yang menganggap bahwa menghadapi bencana cukup dengan berdoa saja tanpa melakukan ikhtiar. Padahal, Islam selalu mengajarkan keseimbangan yang indah antara tawakal dan ikhtiar (usaha).

Sebagai keluarga Muslim, mari kita terus panjatkan doa agar senantiasa dijauhkan dari marabahaya. Di saat yang sama, mari wujudkan doa tersebut dengan tindakan nyata:

  1. Menjaga alam sekitar di lingkungan rumah kita.
  2. Terus belajar mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi demi mengurangi risiko bencana.
  3. Mematuhi arahan pemerintah dan para ahli kebencanaan.
  4. Saling membantu dan menguatkan sesama ketika musibah datang.

Melakukan langkah-langkah mitigasi dan persiapan diri adalah bagian dari ikhtiar yang wajib kita tunaikan. Allah SWT berfirman:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…” (QS. Al-Anfal: 60)

(Ayat ini menginspirasi pentingnya kesiapan dan kehati-hatian dalam menghadapi segala situasi sulit).

Bersyukur dalam Kelimpahan, Rendah Hati dalam Ujian

Alam semesta ini bukanlah sekadar objek mati yang bebas dieksploitasi sesuka hati. Ia adalah ayat-ayat kauniyah—tanda kebesaran Allah—sekaligus amanah yang harus kita jaga kelestariannya.

Kekayaan alam mengajarkan kita untuk pandai bersyukur kepada Allah, sementara bencana alam mengajarkan kita untuk senantiasa rendah hati di hadapan-Nya. Baik saat menikmati limpahan kekayaan alam maupun saat diuji dengan bencana, keduanya mengingatkan satu hal penting: manusia adalah makhluk yang lemah dan senantiasa membutuhkan pertolongan-Nya.

Mari kita ingat janji Allah dalam firman-Nya:

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7)

Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur, mampu menjalankan amanah sebagai penjaga bumi (khalifah fil ardhi), serta dapat mengambil hikmah terbaik dari setiap peristiwa yang terjadi. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (rk)**

Ditulis Oleh Riki Irfan :

Dosen Universitas Islam Al-Ihya Kuningan, Pemerhati Lingkungan, & Penulis Buku Mitigasi Bencana Alam

Tags:

AlamBersyukurBumiLingkunganMenjagaMerwatRiki IrfanSumberdaya
Author

admin_kartini

Other Articles
Previous

1.653 Sertifikat Tanah Elektronik Resmi Dibagikan di Cirendang, Bupati Dian Ingatkan Warga Jangan Digadai untuk Konsumtif

Next

Kronologi Pembangunan RS Permata Tidak Memiliki AMDAL Sikap Bupati Kuningan Akan Melesat Atau Meleset?

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kartini Kuningan adalah media portal berita independen yang menghadirkan informasi tepercaya, aktual, dan mendalam seputar dinamika Kabupaten Kuningan hingga beragam peristiwa penting di tingkat nasional.

Mengusung slogan "Phalosa Inspiratif", kami berkomitmen menjadi ruang informasi yang tak hanya menceritakan fakta, tetapi juga memancarkan cahaya inspirasi (phalosa) bagi masyarakat. Kami percaya bahwa setiap berita, kisah lokal, dan dinamika daerah memiliki potensi untuk mengedukasi, menginspirasi, serta mendorong perubahan positif.

  • Facebook
  • X
  • Instagram
  • LinkedIn
Copyright 2026 — Kartini Kuningan. All rights reserved. Theme By Derijck Nugroho