vintage motorbike standing in a garage

The Last Ride (Perjalanan Terakhir)

Oleh : Vera Verawati

Hujan turun deras malam itu, menyapu jalanan kecil di pinggiran kota Bandung. Di sebuah rumah tua yang nyaris runtuh di ujung Jalan Akasia, tim forensik menemukan sesuatu yang mengubah keheningan jadi sedikit riuh. Kerangka manusia, terkubur di bawah lantai bengkel kecil yang berdebu, tepat di samping motor tua berwarna biru pudar. Kerangka itu milik Rafi Aditya, remaja laki-laki berusia 16 tahun yang hilang tanpa jejak empat puluh tahun silam.

Dulu, Rafi dikenal sebagai anak yang pandai memperbaiki motor. Ia bisa membuat mesin tua kembali meraung hanya dengan obeng dan ketenangan di matanya. Rafi juga dikenal dekat dengan Bayu, teman sekelasnya yang sama-sama tergila-gila pada motor balap. Mereka sering nongkrong di bengkel kecil milik ayah Bayu, memodifikasi motor-motor butut menjadi mesin yang siap ngebut di malam hari.

Sampai suatu malam di tahun 1985 — Rafi menghilang. Polisi mencari, keluarga menangis, tapi semua buntu. Bayu bersumpah tidak tahu apa-apa. Ia bahkan ikut menyebar poster hilangnya Rafi di sekitar kota.

Empat puluh tahun kemudian, rumah Bayu — yang sudah lama kosong — dijual ke seorang pria muda. Saat merenovasi, tukang bangunan mencangkul sesuatu yang keras dan dingin di bawah lantai bengkel. Laporan pun sampai ke polisi.

Ketika tim forensik menggali lebih dalam, mereka menemukan dua lokasi penguburan. Di satu sisi, kerangka tubuh bagian atas. Di sisi lain, beberapa meter dari sana, tulang-tulang kaki dan tangan yang masih terikat kawat karatan. Hasil otopsi menyebutkan Rafi meninggal karena tusukan di punggung, tepat menembus paru-parunya.

Di ruang arsip kepolisian, seorang penyidik muda membaca catatan lama. Ia menemukan laporan kecil dari tahun hilangnya Rafi.

“Saksi terakhir melihat Rafi dan Bayu berdebat di bengkel karena sebuah motor balap yang baru selesai diperbaiki.”

Menurut desas-desus lama, Rafi ingin menjual motor itu untuk membantu ibunya yang sakit. Tapi Bayu—yang dikenal ambisius—ingin motor itu dijadikan tunggangan balap ilegal mereka malam itu.

Malam-malam berikutnya, penyidik tak bisa tidur. Ia kembali ke rumah tua itu. Di pojok bengkel, ia menatap motor biru yang masih berdiri di sana, mesin berdebu tapi tampak utuh. Ia mencoba memutar kunci yang masih menempel.

Motor itu menyala.

Suara mesinnya meraung pelan, seperti bisikan samar dari masa lalu. Di spion retak, penyidik seolah melihat pantulan seorang remaja dengan jaket denim tersenyum tipis — lalu lenyap begitu saja. Ketika mesin dimatikan, penyidik menyadari sesuatu di bawah jok motor, terlipat rapat sebuah surat berkarat.

Sebuah tulisan yang hampir pudar, tangannya gemetar saat membaca,  “Aku hanya ingin motorku kembali. Dia menusukku dari belakang. Tapi aku tahu — suara mesin ini akan membawaku pulang.”

Sejak malam itu, warga sekitar bersumpah mendengar suara mesin motor yang menyala sendiri setiap kali hujan turun. Kadang terdengar raungan pendek, seolah seseorang mencoba menyalakan kembali suara terakhir yang belum sempat dimatikan. Dan rumah itu, sampai sekarang, masih berdiri di ujung Jalan Akasia.

Kuningan, 11 November 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *