Skip to content
-
Berlangganan buletin kami & jangan pernah ketinggalan postingan terbaik kami. Berlangganan Sekarang!
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Home/Berita/Kejar Tayang Revitalisasi Gedung Sjahrir, Sejarawan Ingatkan Keaslian Situs
BeritaSosial Ekonomi

Kejar Tayang Revitalisasi Gedung Sjahrir, Sejarawan Ingatkan Keaslian Situs

By admin_kartini
April 4, 2026
0

KARTINI (Kuningan) — Rencana pemerintah untuk merevitalisasi Gedung Sjahrir tahun ini memicu pertanyaan besar di kalangan pemerhati sejarah. Apakah proyek yang ditargetkan selesai dalam beberapa bulan ke depan ini benar-benar didasari oleh kebutuhan mendalam akan pelestarian nilai sejarah, atau sekadar pemenuhan target serapan anggaran di sektor kebudayaan?

Kekhawatiran ini mencuat setelah Menteri Kebudayaan RI melakukan kunjungan kerja ke gedung yang berlokasi di Kabupaten Kuningan tersebut pada Jumat (3/4). Dalam kunjungannya, Menteri menegaskan ambisi pemerintah untuk menyelesaikan revitalisasi bangunan yang menjadi saksi bisu peristirahatan Sutan Sjahrir, Soekarno, dan Hatta selama Perundingan Linggarjati itu sebelum tahun 2026 berakhir.

“Kita targetkan tahun ini bisa kita selesaikan,” tegas Menteri di hadapan jajaran Forkopimda Kuningan.

Di Balik Janji “Kejar Tayang”

Menanggapi target kilat tersebut, sejumlah pihak mulai menyuarakan kekhawatiran. Merevitalisasi bangunan cagar budaya bukanlah perkara membangun gedung baru. Proses ini membutuhkan kajian mendalam dari para arkeolog, sejarawan, dan ahli konservasi agar tidak merusak keaslian (authenticity) situs. Target “selesai tahun ini” dikhawatirkan mengorbankan kualitas restorasi demi mengejar tenggat waktu birokrasi.

Selain itu, tantangan terbesar pasca-revitalisasi cagar budaya di daerah seringkali adalah pengelolaan setelah proyek fisik selesai. Banyak situs sejarah di berbagai daerah berakhir terbengkalai dan sepi pengunjung setelah diresmikan karena ketiadaan konsep aktivasi kegiatan dan perawatan yang berkelanjutan.

Menepis Anggapan Monumen Mati

Menjawab kekhawatiran tersebut, Bupati Kuningan Dr. Dian Rachmat Yanuar, M.Si, mencoba meyakinkan publik bahwa proyek ini memiliki kedalaman visi. Ia menegaskan bahwa revitalisasi situs sejarah di Kuningan—termasuk Gedung Sjahrir, Gedung Naskah, dan Museum Cipari—merupakan langkah strategis untuk masa depan daerah.

“Pertama sebagai wahana edukasi bagi generasi muda supaya tidak terputus dari sejarah. Kedua sebagai penguat Kuningan sebagai destinasi wisata. Selain bentang alam yang indah, kita juga punya sejarah perjuangan dan budaya yang panjang,” ujar Bupati Dian.

Bupati Dian bahkan melempar wacana yang lebih masif dengan rencana menghadirkan Museum Angklung pertama di Kuningan.

Ujian Kolaborasi

Keberhasilan ambisi besar ini kini berada di pundak kolaborasi lintas sektor yang dijanjikan oleh Menteri Kebudayaan. Publik kini menunggu, apakah pelibatan “para ahli pelestarian budaya” yang disebut oleh Menteri benar-benar diberi ruang penuh untuk memimpin jalannya restorasi, atau sekadar menjadi pemanis dokumen proyek.

Gedung Sjahrir bukan sekadar tumpukan bata dan kayu tua. Ia adalah simbol diplomasi Indonesia yang gigih di masa lalu. Sangat disayangkan jika nilai historis sedalam itu pada akhirnya hanya bermuara pada laporan proyek berlabel “selesai”. (vr)

Tags:

bupati kuninganGedungMentri Kebudayaan RIRevitalisasiSutan Syahrir
Author

admin_kartini

Other Articles
Previous

Semua Bisa Meraih Kesuksesan dan Kebahagiaan

Next

Bupati Dian Lepas Proton FC dengan Satu Pesan Keras, Jaga Nama Kuningan!

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kartini Kuningan adalah media portal berita independen yang menghadirkan informasi tepercaya, aktual, dan mendalam seputar dinamika Kabupaten Kuningan hingga beragam peristiwa penting di tingkat nasional.

Mengusung slogan "Phalosa Inspiratif", kami berkomitmen menjadi ruang informasi yang tak hanya menceritakan fakta, tetapi juga memancarkan cahaya inspirasi (phalosa) bagi masyarakat. Kami percaya bahwa setiap berita, kisah lokal, dan dinamika daerah memiliki potensi untuk mengedukasi, menginspirasi, serta mendorong perubahan positif.

  • Facebook
  • X
  • Instagram
  • LinkedIn
Copyright 2026 — Kartini Kuningan. All rights reserved. Theme By Derijck Nugroho