Drama Litera Kolosal
KARTINI – Bertebar slogan tertera, di akun-akun bergambar padi dan kapas. Semua tentang kesetaraan dan kesejahteraan. Seperti terbentang pada lambang bertubuh garuda, namun lupa pada sila berapa terbaca. Sebuah meja makan terpajang, kursi-kursi masih kosong. Para pemiliknya masih berebut hidangan.
Berbagai restoran menawarkan, dari sekelas warteg hingga restoran reservasi. Yang hanya bisa terhidang oleh orang-orang berdasi. Sementara di bawah meja makan, ketika mereka sudah duduk berhadapan, satu kaki dengan kaki lainnya saling bersentuhan halus, sebagai sebuah sandi.
“Kita adalah koalisi yang berkongsi.”
Sementara di ruang-ruang sempit, tersembunyi di bawah gedung-gedung berlambang kuda, rumah-rumah sederhana nan hangat, yang selalu penuh oleh cerita nyata ejaan litera. Masih sibuk menata saku mereka yang terus bolong oleh panggilan nurani.
“Jangan percaya janji pejabat,” kata rak buku
Ketika mereka berseteru pada satu waktu, di lain pagi mereka menikmati kopi di teras yang sama. Berbincang tentang betapa enaknya memiliki rakyat yang terlalu mudah disuap sajak indah. Sedang wajah-wajah sederhana yang setia berbaju pergerakan, masih berjuang menemukan pegangan.
Seperti halnya buku-buku di rak, yang setiap saat menunggu disentuh dan dibuka lembar-demi lembarnya. Lalu, berbincang tentang cinta yang terlahir darinya. Bukan sekedar slogan semata, tapi litera yang menjiwa tidak pernah berkhianat pada sesama.
Langit biar tetap terlihat menggantung, seperti impian para penggerak. Bumi biarkan tetap bertumbuh, kadang subur, gersang bahkan porak poranda. Setidaknya hilang satu bertumbuh pula yang baru. Siklus itu akan selalu ada, namun yang setia akan terus bergerak, pelan tapi berdampak.
Kuningan, 2 Oktober 2026
Ditulis oleh Vera Verawati seorang kolomnis yang aktif di gerakan literasi. Tercatat sebagi Ketua TBM Pondok Kata RZ sekaligus Ketua Forum TBM Kuningan.