Skip to content
-
Berlangganan buletin kami & jangan pernah ketinggalan postingan terbaik kami. Berlangganan Sekarang!
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Home/Artikel/Opini/Merayakan Kata, Menjaga Suara di Bulan Bahasa
OpiniPendidikan

Merayakan Kata, Menjaga Suara di Bulan Bahasa

By admin_kartini
Oktober 27, 2026
0

KARTINI – Bulan Bahasa dan Sastra yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober, tahun ini hadir membawa pesan yang mendalam: “Bahasa Indonesia Bermartabat, Indonesia Berdaulat.” Sebuah ingatan besar bahwa kedaulatan sebuah bangsa tidak sekadar diukur dari batas wilayah atau kekuatan ekonomi semata, tetapi juga dari sejauh mana masyarakatnya menghargai, menggunakan, dan merawat bahasanya sendiri.

Namun, di manakah sejatinya “martabat” itu diuji? Jawabannya bukan di balik mimbar pidato yang kaku atau ruang simposium yang dingin, melainkan di akar rumput—di saung-saung baca di kaki Gunung Ciremai, di tepi sawah desa, dan di ruang-ruang tutur warga yang terus berjuang menghidupkan tradisi baca-tulis.

Bahasa Sebagai Jembatan Peradaban Lokal

Di Kabupaten Kuningan, bahasa bergerak secara dinamis dan hangat. Kita hidup berdampingan dengan kelembutan bahasa Sunda yang kaya akan etika tutur, sekaligus bertumbuh dalam bahasa Indonesia sebagai simpul pemersatu. Bahasa yang bermartabat bukanlah bahasa yang mengasingkan, melainkan bahasa yang merangkul dan membebaskan. Ketika seorang ibu di desa belajar memahami literasi keuangan atau pola asuh lewat lembaran buku sederhana, saat itulah bahasa menjalankan fungsi kedaulatannya yang paling hakiki: mengangkat martabat manusia dari ketertinggalan dan ketidakberdayaan.

Refleksi Masa Kini, Menjaga Kata Agar Tak Kehilangan Jiwa

Di tengah arus informasi yang serba cepat—di mana kata-kata sering kali diecer demi sensasi atau dijadikan obral janji tanpa arti—Bulan Bahasa mengajak kita melakukan perenungan mendalam. Sudahkah kata-kata yang kita produksi sehari-hari membawa kemanfaatan?

Daya literasi dan sastra mengajarkan kita untuk tidak sekadar “bersuara”, tetapi juga “berpikir”. Melalui tulisan dan refleksi, masyarakat diajak mengasah daya kritis tanpa harus kehilangan empati, serta menatap berbagai dinamika sosial dengan kepala dingin dan hati yang jernih.

Merajut Kata Menjadi Karya di Kabupaten Kuningan

Peringatan Bulan Bahasa tentu tak boleh berhenti sebatas selebrasi seremonial. Kedaulatan bahasa baru menemukan bentuk utamanya ketika ia hidup dan menjelma menjadi tindakan nyata di tengah warga.  Di Kabupaten Kuningan, gerakan ini dimulai dari keberanian untuk menceritakan kisah kita sendiri. Setiap sudut pedesaan, pematang sawah, hingga lebatnya lereng Ciremai menyimpan sejarah, tradisi, dan kearifan yang tak boleh raib ditelan zaman. Ketika anak-anak, remaja, hingga para orang tua diajak untuk menuangkan gelisah, cita-cita, dan pengalaman hidupnya ke dalam tulisan, saat itulah kita sedang merawat jejak peradaban lokal agar terus berlanjut.

Gerakan ini juga bertumbuh dalam keharmonisan tuturan. Kita merawat kehalusan dan kesantunan bahasa daerah sebagai akar budaya yang menghidupi jiwa, sembari terus memperkokoh bahasa Indonesia sebagai jembatan pembawa gagasan luas. Keduanya tidak saling meniadakan, melainkan saling memperkaya.

Pada akhirnya, saung-saung baca dan ruang komunitas literasi di desa-desa bukan lagi sekadar tempat menumpuk buku, melainkan ruang perjumpaan yang inklusif. Di sinilah warga belajar bahwa kata-kata bukan milik cendekiawan semata. Dari puisi yang ditulis dengan jujur, cerita rakyat yang didokumentasikan kembali, hingga esai reflektif tentang keseharian, masyarakat bergerak dari sekadar konsumen kata menjadi pencipta karya yang berdaya. Sebab pada akhirnya, bahasa yang berdaulat adalah bahasa yang memberi kehidupan dan kemanfaatan bagi pemiliknya.

Ditulis Oleh : Vera Verawati (Ketua forum TBM Kuningan, Kolomnis)

Tags:

BerdaulatBermartabatBulan Bahasa dan SastraPenulisVera Verawati
Author

admin_kartini

Other Articles
marketing slogan on paper
Previous

Quotes Hari Ini

Next

Bukan Sekadar Bikin Konten, PWI Kuningan Masuk Sekolah, Bekali Pelajar Benteng Kejahatan Siber dan AI

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kartini Kuningan adalah media portal berita independen yang menghadirkan informasi tepercaya, aktual, dan mendalam seputar dinamika Kabupaten Kuningan hingga beragam peristiwa penting di tingkat nasional.

Mengusung slogan "Phalosa Inspiratif", kami berkomitmen menjadi ruang informasi yang tak hanya menceritakan fakta, tetapi juga memancarkan cahaya inspirasi (phalosa) bagi masyarakat. Kami percaya bahwa setiap berita, kisah lokal, dan dinamika daerah memiliki potensi untuk mengedukasi, menginspirasi, serta mendorong perubahan positif.

  • Facebook
  • X
  • Instagram
  • LinkedIn
Copyright 2026 — Kartini Kuningan. All rights reserved. Theme By Derijck Nugroho