Kematian Ikan Keramat Balong Cigugur Jadi Alarm Lingkungan dan Ancaman Nilai Sakral Warisan Kuningan
KARTINI (Kuningan) – Kematian ratusan ikan keramat di Balong Girang, Kecamatan Cigugur, bukan sekadar peristiwa biologis, melainkan menjadi alarm serius bagi keseimbangan lingkungan sekaligus nilai sakral warisan budaya Kuningan. Dalam beberapa hari terakhir, jumlah ikan yang mati terus bertambah dan menimbulkan keprihatinan mendalam di tengah masyarakat.
Warga setempat menyebut, fenomena kematian massal ikan keramat belum pernah terjadi sebelumnya. Sejak Kamis lalu, ikan mulai ditemukan mati satu per satu, hingga kini jumlahnya dilaporkan melampaui 150 ekor. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan rusaknya ekosistem balong yang selama ini dijaga secara turun-temurun.

Hasil pemantauan awal menunjukkan adanya indikasi penyakit pada ikan, seperti perubahan warna mulut menjadi putih, ditemukannya parasit cacing, serta dugaan perubahan suhu air yang ekstrem. Faktor-faktor tersebut diduga berkaitan dengan kondisi kolam yang sudah lama tidak dikuras dan menurunnya kualitas air.
Balong Cigugur selama ini bukan hanya destinasi wisata religi, tetapi juga ruang simbolik yang menyimpan nilai sejarah dan spiritual masyarakat Kuningan. Ikan keramat di dalamnya dipercaya sebagai bagian dari identitas lokal yang tidak ditemukan di daerah lain.

Pengamat lingkungan menilai, kejadian ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan kawasan wisata berbasis alam dan budaya. Tanpa perawatan ekosistem yang berkelanjutan, simbol-simbol kearifan lokal berisiko rusak, bahkan hilang.
Masyarakat berharap, penanganan yang dilakukan tidak berhenti pada langkah darurat, tetapi diikuti dengan perbaikan jangka panjang agar Balong Cigugur tetap lestari sebagai ruang sakral, ekologis, dan kebanggaan Kuningan.
Kematian ikan keramat ini menjadi pengingat bahwa kelestarian budaya tidak bisa dipisahkan dari kesehatan lingkungan. Jika alam terganggu, maka nilai-nilai yang hidup di dalamnya pun ikut terancam. (vr)










