Refleksi Kartini dan Arus Literasi Perempuan di Kabupaten Kuningan
KARTINI – Setiap tanggal 21 April, ingatan kolektif bangsa kembali pada sosok Raden Adjeng Kartini. Namun, merefleksikan Kartini bukan sekadar tentang kebaya atau sanggul yang rapi, melainkan tentang “pemberontakan intelektual” yang melampaui batas tembok pingitan. Di Kabupaten Kuningan, semangat ini tidak hilang ditelan zaman; ia bertransformasi menjadi gerakan akar rumput yang hidup di sela-sela gang desa hingga ke kaki Gunung Ciremai.
Literasi sebagai “Pingitan” Modern
Jika dulu Kartini berjuang melawan keterbatasan akses pendidikan, perempuan Kuningan hari ini menghadapi tantangan berupa derasnya arus informasi yang tidak terbendung. Pergerakan perempuan di Kuningan kini banyak mewujud dalam bentuk pengabdian literasi. Kehadiran taman-taman bacaan masyarakat yang dikelola oleh tangan dingin kaum perempuan menjadi bukti bahwa “habis gelap terbitlah terang” kini berarti “bebas buta aksara dan cerdas berlogika.”

Perempuan di Kuningan tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan, tetapi subjek yang menggerakkan ekonomi kreatif dan pendidikan non-formal. Dari pengelolaan kopi lokal hingga inisiatif literasi di pelosok desa, perempuan Kuningan sedang menulis ulang sejarah mereka sendiri. Mereka adalah “Kartini Nyata” yang percaya bahwa kecerdasan seorang ibu adalah fondasi peradaban sebuah daerah.
Kolaborasi, Bukan Kompetisi
Hal yang menarik dari pergerakan perempuan di Kuningan adalah kuatnya semangat kolaborasi. Forum-forum literasi dan komunitas sosial menjadi wadah bagi para perempuan untuk saling menguatkan. Mereka membuktikan bahwa kemajuan tidak harus dicapai dengan menjatuhkan sesama, melainkan dengan saling bergandengan tangan. Edukasi yang paling berharga dari refleksi Hari Kartini tahun ini adalah kesadaran bahwa perjuangan belum usai. Tantangan seperti akses ekonomi yang setara dan perlindungan terhadap hak-hak perempuan masih memerlukan perhatian serius. Namun, dengan semangat kepemimpinan perempuan yang inklusif dan humanis, optimisme itu tetap menyala.
Menuju Masa Depan, Harapan dari “Kota Kuda”
Menjadi perempuan yang terinspirasi oleh Kartini di era modern berarti menjadi perempuan yang berani memiliki suara. Di Kabupaten Kuningan, keberanian itu tampak pada mereka yang tekun membina karakter anak bangsa melalui buku, mereka yang melestarikan kearifan lokal melalui produk UMKM, dan mereka yang berani bersuara di ruang-ruang publik untuk kebijakan yang lebih adil.
Mari kita jadikan momentum Hari Kartini ini untuk memperkuat komitmen kita: bahwa pendidikan dan pemberdayaan perempuan adalah investasi terbaik bagi masa depan Kuningan. Sebab, ketika seorang perempuan tercerahkan, maka satu generasi terselamatkan. Selamat Hari Kartini. Teruslah bersinar, perempuan-perempuan tangguh penghuni tanah Kuningan.
Kuningan, 21 April 2026
Ditulis oleh : Vera Verawati seorang penulis dan aktivis literasi yang membangun ruang edukasi di sebuah Taman Baca bernama TBM Pondok Kata Rz, berlokasi di Desa Bojong Kecamatan Kramatmulya. Kini, menjabat sebagai Ketua Forum TBM Kuningan 2026-2031. Merilis 2 buku solo berjudul 99 Puisi Asmaul Husna dalam Labirin Pencarian dan Kumpulan Bunga Rampai Kopi Pagi di Gelas Retak dan puluhan buku antologi lainnya. Walaupun dilahirkan di Jambi tapi memilih mendedikasikan diri untuk Kuningan.










