Merayakan Kata, Menjaga Suara di Bulan Bahasa
KARTINI – Bulan Bahasa dan Sastra yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober, tahun ini hadir membawa pesan yang mendalam: “Bahasa Indonesia Bermartabat, Indonesia Berdaulat.” Sebuah ingatan besar bahwa kedaulatan sebuah bangsa tidak sekadar diukur dari batas wilayah atau kekuatan ekonomi semata, tetapi juga dari sejauh mana masyarakatnya menghargai, menggunakan, dan merawat bahasanya sendiri.
Namun, di manakah sejatinya “martabat” itu diuji? Jawabannya bukan di balik mimbar pidato yang kaku atau ruang simposium yang dingin, melainkan di akar rumput—di saung-saung baca di kaki Gunung Ciremai, di tepi sawah desa, dan di ruang-ruang tutur warga yang terus berjuang menghidupkan tradisi baca-tulis.
Bahasa Sebagai Jembatan Peradaban Lokal
Di Kabupaten Kuningan, bahasa bergerak secara dinamis dan hangat. Kita hidup berdampingan dengan kelembutan bahasa Sunda yang kaya akan etika tutur, sekaligus bertumbuh dalam bahasa Indonesia sebagai simpul pemersatu. Bahasa yang bermartabat bukanlah bahasa yang mengasingkan, melainkan bahasa yang merangkul dan membebaskan. Ketika seorang ibu di desa belajar memahami literasi keuangan atau pola asuh lewat lembaran buku sederhana, saat itulah bahasa menjalankan fungsi kedaulatannya yang paling hakiki: mengangkat martabat manusia dari ketertinggalan dan ketidakberdayaan.
Refleksi Masa Kini, Menjaga Kata Agar Tak Kehilangan Jiwa
Di tengah arus informasi yang serba cepat—di mana kata-kata sering kali diecer demi sensasi atau dijadikan obral janji tanpa arti—Bulan Bahasa mengajak kita melakukan perenungan mendalam. Sudahkah kata-kata yang kita produksi sehari-hari membawa kemanfaatan?
Daya literasi dan sastra mengajarkan kita untuk tidak sekadar “bersuara”, tetapi juga “berpikir”. Melalui tulisan dan refleksi, masyarakat diajak mengasah daya kritis tanpa harus kehilangan empati, serta menatap berbagai dinamika sosial dengan kepala dingin dan hati yang jernih.
Merajut Kata Menjadi Karya di Kabupaten Kuningan
Peringatan Bulan Bahasa tentu tak boleh berhenti sebatas selebrasi seremonial. Kedaulatan bahasa baru menemukan bentuk utamanya ketika ia hidup dan menjelma menjadi tindakan nyata di tengah warga. Di Kabupaten Kuningan, gerakan ini dimulai dari keberanian untuk menceritakan kisah kita sendiri. Setiap sudut pedesaan, pematang sawah, hingga lebatnya lereng Ciremai menyimpan sejarah, tradisi, dan kearifan yang tak boleh raib ditelan zaman. Ketika anak-anak, remaja, hingga para orang tua diajak untuk menuangkan gelisah, cita-cita, dan pengalaman hidupnya ke dalam tulisan, saat itulah kita sedang merawat jejak peradaban lokal agar terus berlanjut.
Gerakan ini juga bertumbuh dalam keharmonisan tuturan. Kita merawat kehalusan dan kesantunan bahasa daerah sebagai akar budaya yang menghidupi jiwa, sembari terus memperkokoh bahasa Indonesia sebagai jembatan pembawa gagasan luas. Keduanya tidak saling meniadakan, melainkan saling memperkaya.
Pada akhirnya, saung-saung baca dan ruang komunitas literasi di desa-desa bukan lagi sekadar tempat menumpuk buku, melainkan ruang perjumpaan yang inklusif. Di sinilah warga belajar bahwa kata-kata bukan milik cendekiawan semata. Dari puisi yang ditulis dengan jujur, cerita rakyat yang didokumentasikan kembali, hingga esai reflektif tentang keseharian, masyarakat bergerak dari sekadar konsumen kata menjadi pencipta karya yang berdaya. Sebab pada akhirnya, bahasa yang berdaulat adalah bahasa yang memberi kehidupan dan kemanfaatan bagi pemiliknya.
Ditulis Oleh : Vera Verawati (Ketua forum TBM Kuningan, Kolomnis)