Pelatihan Agroporestry di Gunung Jawa Strategi Baru bagi Petani Kopi di Karangkancana
KARTINI — Sebanyak 16 petani dari empat desa di Kecamatan Karangkancana mengikuti pelatihan agroporestry selama lima hari (22–26 September 2025), yang digelar oleh BPVP Bandung dengan lokasi teori di Balai Dusun Gunung Jawa dan praktik langsung di kebun kopi Desa Karangkancana. Pembukaan secara daring melalui Zoom Meeting menghubungkan lokasi pelatihan ini dengan 15 titik pelatihan se-Jawa Barat.
Acara pembukaan dipimpin oleh Kepala BPVP Bandung. Dalam sambutannya, beliau menyatakan bahwa pelatihan agroporestri ini adalah salah satu wujud komitmen BPVP Bandung dalam memperkuat kapasitas petani lokal agar lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan tantangan lahan.
“Dengan pendekatan agroporestry, kita ingin petani kopi tak hanya menanam pohon kopi, tapi juga memadukan tanaman sela yang memperbaiki kesuburan tanah, meningkatkan keanekaragaman hayati, sekaligus menjadi sumber penghasilan tambahan,” ujarnya.
Sambutan dari sisi dunia usaha disampaikan oleh Wisnu Kusuma, perwakilan APEKI Jawa Barat, Wisnu menyampaikan apresiasi atas kolaborasi lembaga pendidikan vokasi dan petani di level desa.
“Program seperti ini sangat tepat, karena koneksi antara petani kopi dengan model pertanian berkelanjutan sangat strategis. Semoga dari pelatihan ini muncul inovasi dan model bisnis baru bagi kopi Jawa Barat,” katanya.

Sementara itu Yasin Burhanudin, Kepala Dusun Gunung Jawa sekaligus Ketua Kelompok Tani Benda Mekar Desa Karangkancana menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya pelatihan tersebut dan berharap dampaknya nyata dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani kopi local.
“Kami di Gunung Jawa merasa sangat terbantu dengan kehadiran pelatihan seperti ini. Para petani biasa bekerja tradisional, dengan pelatihan ini kami berharap teknik baru, diversifikasi tanaman, dan pemahaman ekologi lahan kami meningkat. Harapan kami, para peserta bisa segera menerapkan agroporestri di kebun masing-masing dan menularkan ilmunya ke rekan petani lain,” ujarnya.
Selama lima hari, peserta mendapatkan kombinasi materi teori dan praktik:
- Teori: dilaksanakan di Balai Dusun Gunung Jawa, mencakup konsep dasar agroporestri, seleksi tanaman sela yang kompatibel dengan kopi, manajemen lahan, konservasi tanah, dan teknik pemeliharaan terpadu.
- Praktik lapangan: dilakukan di kebun kopi Desa Karangkancana, di mana peserta bersama instruktur memasang sistem tanaman sela (misalnya tanaman pelindung, tanaman pupuk hijau, tanaman penghasil tambahan) di antara barisan kopi, mengobservasi interaksi tanaman, serta melakukan pengukuran awal dampak terhadap kelembapan, naungan, dan kesuburan tanah.
Peserta berasal dari empat desa di sekitar Karangkancana, total 16 orang, sehingga setiap desa diwakili oleh beberapa petani. Model pembelajaran intensif ini memungkinkan tiap peserta mendapatkan perhatian dari instruktur dan berbagi pengalaman langsung di lapangan.
“Pelatihan agroporestry ini adalah investasi ilmu bagi petani kopi kami. Selama ini banyak lahan yang mulai terasa kurang produktif akibat erosi atau kekurangan unsur hara — kami berharap teknik baru ini dapat menjadi solusi nyata. Kami berharap setelah pelatihan, tidak hanya pertumbuhan tanaman membaik, tetapi pendapatan petani juga meningkat,” lanjut Yasin Burhanudin.
Para peserta petani kopi diharapkan bukan hanya memahami teori, tetapi bisa segera menerapkannya di kebun mereka sendiri. Harapan lain adalah agar model agroporestri ini menjadi percontohan bagi petani di desa-desa sekitar Karangkancana, sehingga terbentuk jejaring petani yang menerapkan pertanian berkelanjutan.
Namun demikian, tantangan ke depan tidak sedikit. Beberapa tantangan yang perlu diantisipasi antara lain:
- Adaptasi teknis: tanaman sela yang cocok perlu dipilih sangat hati-hati agar tidak bersaing berlebihan dengan kopi dalam hal cahaya, air, dan unsur hara.
- Pemeliharaan intensif: sistem agroporestri membutuhkan pemantauan lebih ketat terhadap hama, penyakit, dan interaksi antar tanaman.
- Modal dan input: para petani perlu akses benih, pupuk organik, dan sumber daya lainnya untuk memulai sistem baru.
- Ketersediaan dukungan lanjutan: pelatihan ini idealnya diikuti dengan pendampingan teknis secara periodik agar praktiknya berkelanjutan.
Dari sisi BPVP Bandung dan APEKI Jabar, pelatihan ini bisa menjadi titik awal memperkuat kerjasama antara lembaga vokasi, asosiasi kopi, dan komunitas petani. Bila berhasil, model ini dapat direplikasi ke kawasan kopi lainnya di Jawa Barat. (vr)










