“Mengakar di Tanah, Bertumbuh Untuk Bangsa” Refleksi Milad Pemuda Muhammadiyah ke-94
KARTINI (Kuningan) – Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah tidak berhenti pada seremoni dan romantisme sejarah. Tema “Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Jaya” menuntut pembacaan yang lebih tajam.
Pertumbuhan bukan sekadar ekspansi struktur, melainkan peningkatan kualitas kader. s
Sementara mengakar bukan hanya jargon kedekatan dengan rakyat, tetapi keterlibatan langsung dalam denyut ekonomi dan problem keseharian masyarakat.
Dalam konteks ini, gerakan Pemuda Muhammadiyah Kuningan menunjukkan arah yang tepat—menjadikan kewirausahan Sosial kemasyarakatan sebagai basis penguatan kader sekaligus instrumen kedaulatan ekonomi. Di tengah ancaman krisis pangan global, fluktuasi harga komoditas, dan melemahnya daya beli masyarakat, langkah ini bukan hanya relevan, tetapi strategis.
Selama ini, salah satu problem organisasi kepemudaan adalah terjebak pada diskursus tanpa produksi. Pemuda Muhammadiyah Kuningan mencoba memutus rantai itu. Kader tidak hanya berdakwah di mimbar, tetapi juga turun ke lahan mengelola kopi, membudidayakan buah markisa, mengembangkan ubi, dan menghidupkan potensi pertanian lokal di berbagai kecamatan.
Ini penting ditegaskan pertanian bukan sekadar sektor ekonomi, tetapi ruang ideologis. Di sana ada kemandirian, keberlanjutan, dan keadilan distribusi. Ketika kader terlibat langsung dalam produksi pangan, mereka sedang membangun pondasi ketahanan nasional dari bawah.
Namun, gerakan ini tidak boleh berhenti pada skala komunitas yang sporadis. Ia harus naik kelas menjadi gerakan terukur, terintegrasi, dan berdampak luas.
Mitra Strategis Pemerintah
Fokus penguatan kader di tingkat kecamatan melalui kewirausahaan sosial adalah langkah cerdas, membutuhkan desain yang lebih sistemik. tidak cukup hanya menjadi pelaksana program, tetapi peran kader pemuda muhammadiyah harus menjadi pusat inovasi ekonomi berbasis komunitas.
Apa yang dilakukan Pemuda Muhammadiyah Kuningan sesungguhnya adalah miniatur dari agenda besar bangsa dalam ketahanan pangan. Dalam hal ini, kader tidak hanya menjadi pelaksana di lapangan, tetapi juga aktor yang memengaruhi kebijakan.
Pemuda Muhammadiyah tampil sebagai mitra strategis pemerintah daerah dan pusat bukan sekadar pendukung, tetapi penggerak. Data, pengalaman lapangan, dan model yang sudah berjalan harus diangkat menjadi rekomendasi kebijakan mulai dari pembersayaan petani muda, monitoring berkelanjutan, hingga penguatan pasar produk lokal.
Milad ke-94 ini seharusnya menjadi titik tolak konsolidasi gerakan bahwa Pemuda Muhammadiyah tidak lagi cukup dikenal sebagai organisasi besar, tetapi harus diakui sebagai kekuatan yang produktif dan solutif.
Mengakar berarti hadir di tanah, di kebun kopi, di lahan markisa, di ladang ubi bersama masyarakat. Bertumbuh berarti meningkatkan kapasitas kader agar mampu mengelola, mengembangkan, dan memperluas dampak dari kerja-kerja tersebut.
Indonesia Jaya tidak lahir dari pidato, tetapi dari kerja nyata yang konsisten dan terukur. Dan jika Pemuda Muhammadiyah mampu menjaga arah ini menggabungkan idealisme dengan produktivitas maka bukan hanya organisasi yang akan bertumbuh, tetapi juga harapan masyarakat yang akan menemukan akarnya. ***
Oleh : Alvian R Nugraha, Bendahara Umum Pemuda Muhammadiyah Kab. Kuningan










