SMKN 1 Kuningan Bahas Pencegahan Kenakalan Remaja, Sekolah dan Orang Tua Diminta Kompak Jaga Generasi Muda

KARTINI (Kuningan) — Dalam rangka memperkuat karakter dan kedisiplinan peserta didik, Jurusan Agribisnis Perikanan Air Tawar (APAT) SMKN 1 Kuningan menggelar Rapat Wali Murid pada Selasa (14/10/2025) bertempat di Ruang Praktik Kelas Perikanan.Kegiatan ini dihadiri oleh 28 orang tua siswa dan 6 guru wali kelas, yang bersama-sama membahas pencegahan kenakalan remaja dan penerapan nilai-nilai Pancawaluya sebagai pondasi pembentukan karakter siswa SMK.

Materi utama disampaikan oleh Ali Shidqi Fathan, S.P., wali kelas sekaligus narasumber kegiatan, yang menyoroti beragam fenomena kenakalan remaja masa kini, mulai dari penyalahgunaan narkoba, perilaku berisiko di dunia digital, hingga menurunnya etika sosial dan moral remaja. Ali menekankan pentingnya peran aktif orang tua dalam mengawasi aktivitas anak, terutama di era media sosial yang sangat terbuka.

“Kunci utamanya ada pada komunikasi dan keteladanan. Orang tua bukan hanya pengawas, tapi juga pembimbing. Remaja perlu diarahkan, bukan dimarahi,” jelasnya.


Sementara itu, Koordinator Jurusan Perikanan, Sumadi, S.P., menyampaikan harapannya agar kegiatan seperti ini menjadi budaya positif yang berkelanjutan.

“Kami ingin membangun sinergi yang kuat antara sekolah dan orang tua. Dengan kolaborasi yang baik, kita bisa membentuk siswa yang tidak hanya pintar, tapi juga berkarakter dan mandiri,” ujarnya.

Selain pembahasan kenakalan remaja, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan sosialisasi program Pancawaluya — nilai luhur khas Jawa Barat yang meliputi Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer.
Program ini diperkuat dengan kebijakan Gubernur Jawa Barat yang diterapkan di SMKN 1 Kuningan, antara lain:

  1. Jam masuk sekolah pukul 06.30 WIB, sebagai upaya melatih kedisiplinan.
  2. Larangan membawa kendaraan bermotor ke lingkungan sekolah bagi siswa yang belum memiliki SIM.
  3. Penerapan jam malam bagi siswa, yaitu pukul 21.00 WIB seluruh siswa diharapkan sudah beristirahat di rumah.
  4. Program “Poe Ibu, Sapoe Sarebu”, yaitu gerakan solidaritas sukarela untuk membantu sesama warga sekolah yang membutuhkan.
  5. MBG (Makan Bergizi Gratis) yang telah diterima oleh siswa.

Semua kebijakan tersebut dijalankan dalam semangat pencapaian nilai Pancawaluya, sekaligus menanamkan jiwa wirausaha sejak dini kepada siswa melalui pemanfaatan lahan pekarangan rumah sebagai media belajar dan praktik kewirausahaan perikanan.

Rapat juga diakhiri dengan komitmen bersama seluruh orang tua untuk mendukung penuh seluruh program yang diterapkan di SMKN 1 Kuningan, baik dalam bidang akademik, karakter, maupun kewirausahaan.

Salah satu wali murid, Ibu Eli Herliani, orang tua dari M. Defri, siswa kelas XI APAT 1 asal Kelurahan Pagajahan Lamepayung, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini.

“Kami sangat bangga dengan program sekolah. Sosialisasi seperti ini membuka wawasan kami sebagai orang tua agar bisa mendampingi anak-anak dengan lebih bijak,” ungkapnya.

Menurut data Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024, 1 dari 2 remaja Indonesia usia 13–17 tahun pernah mengalami kekerasan, dan lebih dari 400 kasus kenakalan remaja tercatat pada awal tahun 2025.


Melihat fakta tersebut, SMKN 1 Kuningan menegaskan pentingnya kolaborasi antara keluarga dan sekolah dalam mencetak generasi yang sehat, beretika, berdaya saing, dan berjiwa wirausaha.

“Mencegah kenakalan remaja bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi tanggung jawab bersama untuk mewujudkan generasi Pancawaluya: Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer,” tutup Sumadi.(vr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *