indonesian school children walking after class

Surat Cinta (Pahit) untuk Pendidikan Kuningan di Hari Nasional

KARTINI – Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk melakukan audit total terhadap realitas di lapangan, bukan sekadar upacara seremonial yang dihiasi kutipan manis Ki Hajar Dewantara. Jika kita jujur melihat wajah pendidikan kita di tahun 2026, kita sedang berada di persimpangan yang berbahaya: ambisi digital yang melangit, namun fondasi literasi dan kesejahteraan yang masih membumi.

Di tingkat nasional, pemerintah gencar mendorong implementasi penuh Kurikulum Merdeka yang kini mulai mengintegrasikan koding dan kecerdasan artifisial (AI) sebagai mata pelajaran pilihan. Di satu sisi, ini adalah langkah progresif untuk menjawab tantangan zaman.

Namun, di sisi lain, kebijakan seperti Deep Learning yang baru saja diperkenalkan seringkali membuat para pendidik di daerah merasa seperti “kelinci percobaan” yang belum selesai memahami aturan lama, namun sudah dipaksa berlari dengan aturan baru. Kebijakan ini terlihat sangat “Jakarta-sentris”. Memaksakan digitalisasi di daerah yang sinyalnya masih timbul-tenggelam adalah sebuah kenaifan birokrasi.

Mari kita tarik realitas ini ke kaki Gunung Ciremai. Di Kabupaten Kuningan, “Kota Kuda” ini sedang menghadapi paradoks pendidikan yang menyesakkan dada:

  1. Krisis Literasi Dasar: Laporan terbaru menunjukkan masih ada ratusan siswa di jenjang sekolah dasar yang belum lancar membaca dan menulis. Ini adalah tamparan keras bagi jargon “Merdeka Belajar”. Bagaimana mungkin kita bicara AI dan koding jika kemampuan dasar literasi (calistung) masih menjadi hantu di ruang kelas?
  2. Angka Putus Sekolah & RLS: Rata-rata Lama Sekolah (RLS) di Kuningan yang masih berada di angka 7,91 tahun menunjukkan bahwa secara rata-rata, penduduk Kuningan bahkan tidak lulus SMP. Ini adalah sinyal bahwa akses dan keberlanjutan pendidikan di pedesaan Kuningan sedang mengalami kerapuhan sistemik.
  3. Ketimpangan Sapras & Kesejahteraan: Sementara sekolah-sekolah di pusat kota mulai bersolek dengan fasilitas digital, sekolah-sekolah di pelosok seperti di pinggiran Cilimus atau daerah Kuningan Selatan masih berjuang dengan atap bocor dan kekurangan guru PNS. Guru-guru honorer masih menjadi tulang punggung yang memikul beban kurikulum berat dengan apresiasi yang jauh dari kata layak.

Pendidikan di Kuningan tidak butuh lebih banyak jargon aplikasi; ia butuh intervensi berbasis realitas.

  1. Re-prioritas Literasi dan Numerasi (Back to Basics)

Jangan biarkan guru terjebak pada administrasi aplikasi PMM (Platform Merdeka Mengajar) hingga lupa mengajari anak membaca. Semestinya Pemerintah Daerah Kuningan melalui Disdikbud meluncurkan Gerakan Kuningan Melek Aksara dengan program intervensi khusus (remedial intensif) bagi siswa yang tertinggal, tanpa rasa malu mengakui bahwa ada masalah di tingkat dasar.

  • Pemerataan Infrastruktur Digital dan Fisik

Jangan ada lagi dikotomi sekolah “unggulan” dan “pelosok”. Alokasi APBD harus difokuskan pada perbaikan ruang kelas rusak yang mencapai ratusan unit di Kuningan. Digitalisasi harus didahului dengan penyediaan infrastruktur internet desa yang stabil di seluruh kecamatan.

  • Reformasi Data dan Penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS)

Data pendidikan di Kuningan seringkali bermasalah antara realitas lapangan dan laporan formal. Integrasi data antara Dinas Sosial, Disdukcapil, dan Disdikbud untuk melacak setiap anak yang putus sekolah secara door-to-door. Pendidikan kesetaraan (Paket A, B, C) harus diperkuat kualitasnya, bukan sekadar menjadi formalitas pencarian ijazah.

  • Memanusiakan Guru

Kebijakan pendidikan sesempurna apa pun akan mati di tangan guru yang demotivasi. Berikan insentif daerah tambahan bagi guru-guru yang bertugas di daerah terpencil di Kuningan. Selain itu, pangkas beban administratif guru agar mereka punya waktu lebih banyak untuk melakukan pendekatan personal kepada siswa, sesuai filosofi olah rasa dan olah hati.

Hari Pendidikan Nasional di Kuningan tahun ini harus menjadi titik balik. Jangan biarkan statistik RLS yang rendah menjadi “nasib” yang diterima begitu saja. Jika kita ingin melompat tinggi dengan teknologi AI dan kurikulum modern, pastikan kaki kita berpijak pada tanah yang kuat—yaitu kemampuan literasi dasar yang kokoh dan keadilan akses bagi setiap anak Kuningan, dari Lembah Ciremai hingga pelosok desa terjauh. (vr)***   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *