Kombinasi Literasi Sejarah dan Alam, TBM Pondok Kata Rz Ajak Puluhan Peserta ‘Outing Class’ ke Museum dan Kopi Hawwu
KARTINI (Kuningan) – Ruang belajar tidak pernah terbatas pada sekat-sekat dinding kelas. Semangat inilah yang terpancar nyata pada Sabtu (16/5/2026), saat 22 peserta lintas generasi—mulai dari anak-anak yang lincah, remaja yang penuh rasa ingin tahu, hingga ibu-ibu yang bersemangat—bergerak bersama dalam sebuah petualangan edukatif. Mereka adalah keluarga besar Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Pondok Kata Rz yang tengah mengikuti kegiatan outing class spesial.
Kegiatan yang sarat akan nilai literasi bergerak ini lahir dari buah sinergi dan kolaborasi hangat lintas komunitas. TBM Pondok Kata Rz menggandeng Forum TBM Kabupaten Kuningan dan Yayasan Hibar Budaya Kopi Hawwu untuk merajut sebuah konsep eduwisata yang utuh: memadukan pelestarian sejarah masa lalu dan kepedulian terhadap bumi di masa depan.
Kegiatan dimulai dengan mengunjungi Museum Purbakala. Langkah kaki ceria para peserta disambut oleh deretan bukti peradaban masa lampau. Di bawah bimbingan pemandu museum yang sabar, anak-anak dan ibu-ibu diajak menyusuri sejarah Zaman Neolitik.

Suasana edukasi terasa hidup secara visual dan interaktif. Para peserta tampak bergantian menyentuh layar digital edukatif, membaca infografis, serta mengamati replika pembuatan gerabah kuno. Di sini, literasi bukan lagi sekadar membaca teks di buku, melainkan menyentuh dan merasakan kedekatan dengan akar budaya leluhur sendiri.
“Kami ingin menghadirkan esensi literasi yang aktif dan berdampak. Melalui perpaduan wisata purbakala dan edukasi pertanian ini, kami sedang membangun karakter generasi yang tidak lupa pada sejarahnya, sekaligus tangguh dan peduli pada alamnya. Sinergi bersama Forum TBM Kuningan dan Kopi Hawwu membuktikan bahwa jika komunitas bergerak bersama, ruang tumbuh bagi anak-anak kita akan menjadi jauh lebih luas,” ungkap Vera Verawati selaku Ketua TBM Pondok Kata RZ.

Puas menyelami masa lalu, rombongan bergerak menuju kawasan agro-edukasi Yayasan Hibar Budaya Kopi Hawwu. Di tempat ini, petualangan berganti rupa menjadi kelas alam terbuka yang hijau. Anggota TBM belajar menanam bibit padi langsung di area mini. Tak hanya itu, para peserta juga diajarkan cara memindahkan bibit tanaman ke dalam media polibeg sebagai simbol merawat kehidupan.
Melalui aktivitas bertani ini, anak-anak tidak hanya melatih kemampuan motorik mereka, tetapi juga diajak membangun karakter yang menghargai proses, menumbuhkan rasa cinta pada lingkungan, serta menghormati tetesan keringat para petani.
Respon hangat dan apresiasi mendalam juga datang dari Ketua Yayasan Hibar Budaya Kopi Hawwu, M. Indra, atau yang akrab disapa dengan panggilan Mang Tulang. Ia menyambut gembira kehadiran energi positif dari anak-anak dan ibu-ibu TBM.

“Kami di Yayasan Hibar Budaya Kopi Hawwu selalu membuka pintu lebar-lebar untuk kegiatan yang mengakar pada budaya dan edukasi seperti ini. Melihat antusiasme anak-anak, remaja, bahkan ibu-ibu yang tidak canggung bersentuhan dengan tanah, membuat kami optimis. Ini adalah bentuk konkret dari pelestarian budaya agraris kita. Semoga kolaborasi bersama TBM Pondok Kata Rz dan Forum TBM Kuningan ini terus berlanjut dan menginspirasi tempat lain,” tutur Mang Tulang.
Kegembiraan juga meluncur dari polosnya kalimat salah satu peserta. “Seru banget ikut acara hari ini! Tadi di museum aku bisa lihat cara orang zaman dulu bikin pot dari tanah pakai layar sentuh yang besar. Terus pas di Kopi Hawwu paling suka pas belajar nanam padi di sawah pendek dan megang polibeg tanaman sendiri. Tanaman ini mau aku bawa pulang dan rawat di rumah. Pengen ikut lagi kalau ada acara seru kayak gini!” kata Silfa Afifah, siswa kelas 3 MI PUI Cikaso, sambil memamerkan tanaman dalam polibegnya dengan bangga.
Kegiatan pun diakhiri dengan sesi dokumentasi bersama di depan monumen angklung emas yang megah dan ikonik. Senyum yang merekah peserta menjadi simbol keberhasilan dari sebuah kolaborasi nyata yang tidak hanya menyegarkan pikiran, tetapi juga sukses menanamkan benih-benih karakter, literasi, dan cinta budaya di hati generasi muda Kuningan. (vr)***










