Ketika Jarak Berdamai dan Rindu Kian Tak Berjeda
KARTINI (Prosa) – Ada cinta yang tidak terlahir dari pelataran dipenuhi kilau permata, tumbuh dari tanah gersang, dipahat oleh peluh dan air mata. Adalah sepasang jelata yang fasih mengeja arti kekurangan,dua manusia sejak remaja memahami bahwa sepiring nasi sering kali harus dibagi dengan doa-doa panjang ke langit. Namun, di hadapan takdir yang sering kali culas, tidak memilih untuk saling melepaskan.
Melukis sekat tebal. Jarak berdendang nada sumbang, memaksa kekasih berjalan di bawah langit kelabu, memungut remah-remah peruntungan. Di bilik sepi, rindu menjelma hampa. Datang tanpa mengetuk, membisikkan namamu pada angin yang berembus menembus ruang kesetiaan.
Tumbuh menjadi dua jiwa yang dewasa oleh lara. Tidak lagi menangisi jarak dengan kekanakan. Air mata takkan pernah bisa mengisi periuk yang kosong atau melunasi cicilan rumah. Merawat asa dengan cara paling terhormat, membuatnya teguh bermartabat. Keterbatasan boleh saja membatasi ruang gerak, tapi jangan biarkan ia menjatuhkan kepercayaan.
“Ini hanya soal waktu.”
Ketika dunia memandang rendah, dua manusia ringkih dicipta zaman, mereka lupa satu hal, cinta yang teruji rahim kesulitan dan dipisahkan oleh jarak adalah cinta yang paling gagah mengakar. Teruslah bertahan, sampai takdir lelah menyerah, dan waktu akhirnya berdamai pada ketabahan kita.
Kuningan, 16 Mei 2026
Tentang Penulis
Vera Verawati lahir di Jambi namun jatuh cinta pada Kuningan, aktif menulis dalam berbagai tulisan. Senang berada di antara anak-anak dan buku. Aktif sebagai Ketua TBM Pondok Kata Rz. Kesukaannya menikmati kopi hitam tanpa gula dan buku-buku yang bisa membuatnya tertawa hingga berurai air mata. Hasil karyanya lebih dari 40 buku antologi dan 2 buku solo (Bunga Rampai Kopi Pagi di Gelas Retak & Puisi 99 Asmaul Husna Dalam Labirin Pencarian).










