Mengawinkan Tradisi dan Teknologi, Strategi Kuningan Cetak Petani Modern di Hari Krida

KARTINI (Kuningan) — Anggapan bahwa sektor pertanian adalah dunia yang usang, melelahkan, dan ditinggalkan zaman perlahan mulai terkikis di Kabupaten Kuningan. Menghadapi ancaman nyata alih fungsi lahan, perubahan iklim, hingga menyusutnya tenaga kerja, daerah yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Jawa Barat ini memilih jalan berani: merombak total wajah pertaniannya menjadi lebih modern, digital, dan adaptif.

Langkah transformatif ini terlihat nyata dalam peringatan Hari Krida Pertanian (HKP) ke-54 Kabupaten Kuningan yang digelar di Lapangan Sepak Bola Gunungkeling, Kecamatan Cigugur, pada 9–10 Juni 2026. Mengusung tema “Melalui Hari Krida Pertanian Kita Jaga Tradisi, Kembangkan Inovasi untuk Ketahanan Pangan Kuningan”, momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ajang pembuktian bahwa pertanian Kuningan sedang berevolusi.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., menegaskan bahwa cara-cara konvensional tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan zaman.

“Modernisasi, mekanisasi, digitalisasi, dan inovasi menjadi kebutuhan yang harus kita dorong bersama. Namun di saat yang sama, kita tetap harus menjaga nilai-nilai kearifan lokal,” ujar Wahyu saat memberikan keterangan.

Strategi memodernisasi “alat tempur” para petani terbukti bukan sekadar wacana. Di lapangan, efisiensi digenjot lewat percepatan mekanisasi. Salah satu langkah konkretnya adalah penyerahan bantuan alat pemanen modern, Combine Harvester, kepada UPJA Motekar Desa Cihirup, Kecamatan Ciawigebang. Mesin ini dihadirkan untuk memangkas biaya produksi, mempercepat masa panen, dan menekan angka kehilangan hasil padi.

Hasil dari investasi inovasi ini pun langsung berbicara lewat data. Dalam setahun terakhir, Kuningan mencatatkan lompatan performa yang impresif:

  • Produksi Beras: Melejit dari 225.995 ton (2024) menjadi 254.124 ton (2025).
  • Surplus Beras: Meningkat tajam dari 93.070 ton menjadi 120.244 ton, atau tumbuh hampir 29 persen.

Capaian ini memperkokoh posisi Kuningan sebagai benteng pertahanan pangan strategis di Jawa Barat, sekaligus membuktikan bahwa efisiensi berbasis teknologi mampu mendongkrak produktivitas secara signifikan.

Di balik mesin-mesin modern, tantangan terbesar sesungguhnya ada pada siapa yang mengoperasikannya. Menyadari isu krusial regenerasi petani, Pemkab Kuningan memanfaatkan HKP ke-54 untuk menggeser persepsi anak muda terhadap sektor agraris.

Lewat berbagai kompetisi kreatif—mulai dari lomba inovasi pertanian, asah terampil, hingga lomba video edukatif Tatapakan Jati—pemerintah daerah ingin menunjukkan wajah baru pertanian yang keren, menjanjikan, dan berbasis kewirausahaan.

“Pertanian masa depan membutuhkan generasi yang adaptif terhadap teknologi. Kita ingin semakin banyak anak muda yang bangga menjadi petani,” tambah Wahyu.

Meskipun teknologi mutakhir mulai mengambil alih peran di sawah, Kuningan menolak melupakan akarnya. Tradisi sedekah bumi tetap digelar khidmat dalam rangkaian acara sebagai simbol syukur dan penghormatan terhadap alam. Bagi Kuningan, maju tidak berarti harus mencabut akar budaya.

Tak berhenti di hulu, dampak nyata HKP ke-54 ini juga langsung dirasakan masyarakat luas di hilir lewat penyelenggaraan Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi daerah.

Menutup rangkaian kegiatan, Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., dalam sambutan yang dibacakan oleh Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Wawan Setiawan, S.Hut., M.T., menegaskan arah komitmen ini.

“Tujuan akhir pembangunan pertanian adalah kesejahteraan. Petani harus semakin maju dan sejahtera, masyarakat memperoleh pangan yang cukup dan terjangkau, serta ekonomi daerah tumbuh semakin kuat,” pungkasnya. (vr)**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *