Bukan Cuma Diskusi Agama, Lintas Iman Majalengka-Indramayu Justru Sibuk Urus Jelantah dan Buruh Migran
KARTINI (Majalengka) — Di saat banyak forum lintas agama masih terjebak pada perdebatan teologis dan seremonial di atas kertas, Komunitas Lintas Iman dari Kampung Bhineka 1 Indramayu dan Kampung Bhineka 2 Majalengka justru memilih jalan berbeda. Mereka membuktikan bahwa kerukunan sejati tercipta saat sekat agama dilebur dalam aksi sosial yang nyata.

Aksi konkret ini ditunjukkan dalam pertemuan bersama yang digelar di Gereja Kristen Pasundan (GKP) Jemaat Bethesda, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Majalengka, Sabtu (13/6/2026). Pertemuan ini bahkan menarik perhatian delegasi organisasi kemanusiaan internasional, Mission 21, yang turun langsung ke lapangan untuk meninjau implementasi toleransi di tingkat akar rumput.
Daripada sibuk memperdebatkan perbedaan keyakinan, para penggerak lokal ini justru memaparkan program kerja yang berfokus pada kemanusiaan, sosial, dan lingkungan hidup.
Perwakilan dari Indramayu, Usman, menyatakan bahwa esensi dari gerakan lintas iman ini adalah merayakan kebersamaan lewat aktivitas sehari-hari yang inklusif.

“Jadi kita tidak lagi bicara soal agama, tapi merayakan hidup. Bahagia dengan main bola, bahagia dengan baur bersama,” ujar Usman saat membuka sesi dialog di dalam aula.
Semangat serupa ditegaskan oleh Ode Sariningsih, perwakilan dari GKP Jemaat Bethesda. Menurutnya, fokus utama kolaborasi Kampung Bhineka adalah berjalan bersama demi kemaslahatan masyarakat luas tanpa memandang latar belakang teologis.
“Kami tidak melihat unsur baik itu kepercayaan (atau) agama. Kami tidak melihat itu, tapi yang jelas interest-nya kita harus jalan,” tegas Ode.

Dalam sesi pemaparan program, komunitas ini langsung membedah isu-isu krusial di daerah masing-masing. Karmila, salah satu penggerak, memaparkan bahwa fokus utama gerakan mereka saat ini adalah memberikan perhatian nyata terhadap isu sosial kemasyarakatan, khususnya perlindungan bagi buruh migran serta pemenuhan hak anak-anak.
Sementara di sektor lingkungan, anak-anak muda lintas iman bergerak aktif mengelola ekosistem lokal. Intan Damayanti dari Kumparan Majalengka menjabarkan aksi konkret penanganan lingkungan melalui program pemanfaatan barang sisa bernilai guna.
“Aksi mengolah limbah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi,” papar Intan saat menjelaskan agenda kegiatan sosial ekonomi yang dirancang oleh pemuda setempat. (vr)**










