Produksi Susu Kuningan Tembus 9 Juta Liter, Limbah KOHE Kini Ditarget Jadi Pupuk Organik Bernilai Ekonomis
KARTINI (Kuningan) – Di tengah pesatnya pertumbuhan sektor peternakan sapi perah di Kabupaten Kuningan, pengelolaan limbah kotoran hewan (KOHE) kini menjadi tantangan lingkungan yang krusial. Merespons hal tersebut, Program Studi Administrasi Publik FISIP Universitas Pasundan (Unpas) menggandeng Pemda Kuningan menggelar transfer pengetahuan lintas negara berskala internasional di Ruang Rapat Grage Hotel Sangkan, Senin (11/5/2026).
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Kemitraan Komunitas Internasional” ini mempertemukan para penyuluh, peternak, serta pengurus koperasi besar di Kuningan—seperti Koperasi Saluyu, Larasati, dan Karya Nugraha—dengan pakar lingkungan dari Filipina untuk mengadopsi teknologi pengolahan limbah ramah lingkungan.

Kaprodi Administrasi Publik FISIP Unpas, Dr. Ine Mariane, M.Si., menegaskan bahwa tata kelola peternakan modern wajib mengintegrasikan aspek ekonomi dan kelestarian alam. “KOHE tidak boleh lagi dilihat sebagai masalah atau sumber pencemaran, melainkan harus diubah menjadi sumber daya baru yang bernilai ekonomi tinggi,” ujarnya.
Dalam sesi utama, pakar internasional dari Filipina, Prof. Dr. Norberto Paranga Jr., Ph.D., memaparkan secara virtual bagaimana peternak di negaranya sukses melakukan transformasi digital dan inovasi teknologi dalam mengelola limbah tebu dan kotoran ternak.
Di Filipina, KOHE sapi diproses secara masif menjadi biogas untuk kebutuhan memasak rumah tangga. Langkah ini terbukti efektif membantu masyarakat lepas dari ketergantungan gas elpiji yang harganya terus melambung.

“Tidak ada yang terbuang. Residu atau sisa hasil pengolahan biogas dari KOHE itu diolah kembali menjadi pupuk cair dan padat bermutu tinggi untuk pertanian organik. Bahkan, sebagian diubah menjadi briket bahan bakar alternatif. Ini memotong biaya produksi pertanian sekaligus mendatangkan cuan baru bagi peternak,” papar Prof. Norberto.
Langkah hilirisasi limbah ini dinilai sangat tepat momentumnya. Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kuningan, H. Toni Kusumanto, AP., M.Si., mengungkapkan bahwa kinerja koperasi peternakan di Kuningan sedanDg tumbuh agresif.

Sebagai gambaran, Koperasi Produsen Karya Nugraha Jaya mencatat lonjakan produksi susu hingga 24,75 persen sepanjang tahun lalu, dengan total mencapai 9,29 juta liter susu dari 876 anggota aktif. Di satu sisi, angka ini merupakan prestasi ekonomi, namun di sisi lain berarti volume limbah KOHE yang dihasilkan juga melonjak tajam.
Senada dengan hal itu, Kepala Bidang PPHLH Dinas Lingkungan Hidup Kuningan, Rismunandar, S.Hut., M.Si., menyebutkan bahwa adopsi teknologi pengolahan KOHE menjadi pupuk organik dan biogas adalah solusi mutlak untuk merealisasikan visi “Kuningan Melesat” yang berbasis ekonomi hijau.
Melalui kolaborasi antara akademisi Unpas, teknologi dari Filipina, dan penguatan kelembagaan koperasi lokal, Kabupaten Kuningan kini bersiap melangkah ke era baru peternakan: di mana susu menghasilkan kecukupan gizi, dan kotorannya menghasilkan kemandirian energi. (vr)**










