an arm with tattoo

Rajah di Lengan Kiri

KARTINI (Cerpen) – Kabut turun perlahan dari lereng Gunung Ciremai ketika matahari baru saja menampakkan semburat keemasannya. Kabupaten Kuningan bangun dengan caranya sendiri; suara ayam bersahutan dari kampung-kampung, embusan angin membawa harum tanah basah dari sawah di sepanjang jalan-jalan desa. Di kejauhan, pucuk-pucuk bambu bergoyang pelan, seolah sedang menyambut hari yang baru.

Alya selalu menyukai pagi. Baginya, pagi bukan sekadar pergantian waktu. Pagi adalah bukti bahwa ia berhasil melewati satu malam lagi tanpa ketakutan. Tak banyak orang yang tahu bahwa perempuan yang kini sering diundang ke sekolah, perpustakaan, dan festival literasi itu pernah berlari menyelamatkan nyawanya sendiri. Mereka mengenalnya sebagai penulis. Buku-bukunya terpajang di etalase toko buku. Cerpennya dimuat di berbagai media. Namanya perlahan dikenal. Tak seorang pun melihat bekas luka yang tidak pernah benar-benar hilang.

***

Dua belas tahun lalu, Alya meninggalkan pondok kecil di pinggiran hutan di sebuah desa transmigran di Lampung,  ketika hujan mengguyur begitu deras. Ia tidak membawa koper, tidak membawa perhiasan, tidak membawa surat-surat berharga. Yang ia bawa hanyalah dua anak yang masih kecil dan keberanian yang bahkan saat itu belum ia yakini benar-benar ada. Putrinya yang berusia lima tahun terus menangis. Anak laki-lakinya menggenggam erat ujung kerudungnya.

“Bu… Ayah marah lagi?”

Alya tidak menjawab. Ia takut suaranya pecah. Di belakang mereka, rumah itu masih berdiri. Rumah yang dahulu dibangun dengan impian, lalu perlahan berubah menjadi ruang penyiksaan.Suaminya merupakan warga lokal. Tubuhnya tidak tinggi, bahkan cenderung kecil. Namun, kemarahannya mampu memenuhi seluruh ruangan. Di lengan kirinya terdapat rajah hitam yang melingkar hingga mendekati siku. Dulu Alya menganggap rajah itu hanya kenangan masa mudanya. Belakangan ia menyadari, rajah itu seperti bayangan hidup yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan.

Tamparan pertama datang setelah suaminya kehilangan pekerjaan. Tamparan kedua datang karena uang rokok dianggap berkurang. Tamparan ketiga datang tanpa alasan. Lalu pukulan menjadi bahasa sehari-hari. Yang paling menyakitkan bukan ketika darah mengalir dari bibirnya. Melainkan ketika kedua anaknya mulai menganggap tangisan ibunya sebagai suara yang biasa.  Malam itu Alya memutuskan pergi.Ia tidak ingin anak-anaknya tumbuh dengan keyakinan bahwa memukul adalah bagian dari cinta.

Hari-hari berikutnya adalah perjuangan yang tak pernah ia bayangkan. Alya memilih pulang ke kampung halamannya di Kuningan. Tinggal bersama orangtuanya membuatnya terdesak. Ultimatum Emak memaksanya  merasakan menjadi TKW di Negeri Singapura. Empat tahun Ia selesaikan kontrak kejanya dengan baik. Sebagai bukti kinerjanya bagus, majikannya  memberinya hadiah sebuah leptop.  Sejak saat itulah, Alya bisa melanjutkan hobinya sejak remaja, menulis. Selain itu, Alya juga berhasil memiliki rumah sendiri.

Alya menulis tentang perempuan, tentang kehilangan, tentang anak-anak, tentang rumah yang semestinya menjadi tempat paling aman. Belasan cerpennya ditolak. Puluhan. Lalu lebih banyak lagi. Setiap surat penolakan sempat membuatnya berpikir bahwa mungkin ia memang tidak berbakat. Namun esok malam ia kembali menulis. Sebab hanya ketika menulis, ia merasa hidupnya tidak sepenuhnya dirampas.

Suatu pagi, sebuah pesan masuk dari redaksi sebuah surat kabar. Cerpennya diterima. Honor pertama itu tidak seberapa. Tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Alya menangis bukan karena kesakitan, melainkan karena harapan.

Waktu bergerak tanpa suara. Dua anaknya tumbuh menjadi remaja yang santun, Alya menerbitkan buku pertamanya, lalu buku kedua, kemudian novel. Alya mulai berbicara di hadapan banyak orang tentang keberanian memulai hidup kembali. Setiap kali ada yang bertanya bagaimana ia bisa bangkit, Alya selalu menjawab, “Karena saya tidak ingin anak-anak saya mewarisi rasa takut.”

Sore itu langit Kuningan berwarna jingga pucat. Alya baru selesai mengisi pelatihan menulis di perpustakaan daerah. Ia memilih berjalan kaki menuju tempat parkir. Para pedagang ramai berjajar di depan SMP Negeri I Kuningan yang terletak berseberangan dengan perpustakaan daerah. Angkot dan sepeda motor saling berebut jalan.

Tiba-tiba sebuah teriakan memecah keramaian.

“Maling!”

“Maling motor!”

Orang-orang berhamburan. Seorang laki-laki berlari sempoyongan menyusuri jalan sempit di samping deretan pertokoan tak jauh darinya.  Beberapa pemuda mengejarnya. Tak lama kemudian tubuh lelaki itu tersungkur. Amarah massa lebih cepat daripada siapa pun yang mencoba berpikir. Pukulan datang dari berbagai arah. Tendangan menghujani tubuh yang sudah tak mampu melawan. Seseorang mengangkat balok kayu. Yang lain melempar batu. Suara bentakan, makian, dan tangisan bercampur menjadi satu.

Alya sebenarnya hendak menjauh. Namun pandangannya berhenti pada sesuatu yang membuat napasnya tercekat. Lengan kiri lelaki itu tersingkap. Rajah hitam. Rajah yang sangat dikenalnya. Rajah yang dulu berkali-kali muncul sebelum sebuah tamparan mendarat di wajahnya. Kakinya mendadak lemas. Ia menerobos kerumunan.

“Sudah… cukup! Berhenti!”

Tak ada yang mendengar. Saat polisi datang dan membubarkan massa, lelaki itu sudah nyaris tak bergerak. Ketika wajahnya dibersihkan dari darah yang mengalir, Alya memejamkan mata. Ia mengenal wajah itu. Keriput telah memenuhi dahinya. Rambutnya memutih. Tubuhnya jauh lebih kurus. Namun lelaki itu tetaplah orang yang pernah menjadi suaminya. Orang yang pernah menghancurkan hidupnya dan kini hidupnya sendiri telah hancur.

Di ruang instalasi gawat darurat, dokter berusaha melakukan segala yang mungkin. Beberapa menit kemudian terdengar satu kalimat pendek.

“Kami turut berduka.”

Alya tidak menangis. Bukan karena hatinya membeku. Melainkan karena ada perasaan yang tak mampu diberi nama. 

Sedih.

Lega.

Marah.

Kasihan.

Semuanya bercampur menjadi satu.

Seorang petugas polisi menghampirinya.

“Bu… kami menemukan barang-barangnya.”

Hanya ada dompet kosong, sebungkus rokok, obat maag dan sebuah tas kecil berwarna hitam yang talinya hampir putus. Di dalam tas itu terdapat sebuah amplop lusuh, di bagian depannya tertulis, Untuk Alya. Tangannya gemetar ketika membuka surat itu.  Tulisan itu masih dikenalnya.

Alya…

Aku tidak tahu apakah suatu hari aku berani menemuimu. Bertahun-tahun aku mencari kabar kalian dari jauh. Aku tahu kau sudah menjadi penulis. Aku membaca namamu di koran yang kubeli dari penjual barang bekas. Aku bangga, meski aku tahu aku tidak pantas merasa begitu. Aku sering membawa surat ini, tetapi setiap kali ingin datang, aku kembali pulang karena malu.Aku sadar, maaf tidak bisa menghapus semua luka.

Aku juga tahu anak-anak mungkin tidak ingin mengenalku lagi. Aku hanya ingin kau tahu satu hal. Setiap pukulan yang pernah kulakukan akhirnya kembali kepadaku dalam bentuk penyesalan yang tidak pernah selesai. Aku kehilangan keluarga karena tanganku sendiri.

Jika suatu hari Tuhan masih memberi kesempatan, aku ingin meminta maaf langsung.

Jika kesempatan itu tidak pernah datang, anggaplah surat ini sebagai pengakuan seorang laki-laki yang terlambat menyadari bahwa rumah tidak pernah dibangun dengan amarah.

Maafkan aku. Sampaikan maafku kepada anak-anak. Ayah mereka gagal menjadi suami yang baik. Gagal menjadi ayah yang pantas dibanggakan. Tetapi sampai akhir hidupku, aku tetap mencintai mereka. Alya menutup surat itu perlahan. Air matanya jatuh tanpa suara. Bukan karena cinta lama kembali tumbuh. Bukan pula karena semua kesalahan mendadak hilang. Ia menangis karena menyadari bahwa penyesalan selalu datang ketika waktu tak lagi bisa diputar.

Malam telah menyelimuti Kuningan. Lampu-lampu kota memantul di jalan yang masih basah oleh gerimis. Angin dari arah Ciremai bertiup pelan, membawa aroma dedaunan dan tanah yang baru diguyur hujan.

Sesampainya di rumah, Alya memandangi kedua anaknya yang sedang belajar di ruang tengah. Mereka tertawa membahas sesuatu yang sederhana. Tak ada bentakan. Tak ada suara piring dihempaskan. Tak ada tubuh yang gemetar ketakutan. Rumah itu akhirnya menjadi tempat yang benar-benar layak disebut rumah. Alya melipat surat itu dengan hati-hati, lalu menyimpannya di laci meja tempat ia biasa menulis. Bukan untuk dikenang sebagai luka. Melainkan sebagai pengingat bahwa keberanian meninggalkan kekerasan telah menyelamatkan tiga kehidupan sekaligus.

Di luar jendela, kabut kembali turun dari lereng Gunung Ciremai, memeluk sawah, jalan-jalan kecil, dan rumah-rumah yang mulai memadamkan lampunya. Esok pagi, matahari akan terbit lagi. Dan Alya tahu, seperti halaman terakhir sebuah buku yang akhirnya selesai ditulis, hidup tidak selalu memberi akhir yang bahagia. Tetapi selalu memberi kesempatan untuk memilih akhir yang bermartabat.

Kuningan, 22 Juli 2026

Bionarasi Penulis :

Vera Verawati, lahir di Jambi. Ibu dua anak ini aktif menulis di berbagai media, karya-karyanya terkumpul pada lebih 50 buku antologi dan 2 buku solo (99 Puisi Asmaul Husna dan Bunga Rampai Kopi Pagi di Gelas Retak). Untuk mengenalnya lebih dekat bisa add instagramnya ve43_79 atau datang ke TBM Pondok Kata RZ di Desa Bojong Kecamatan Kramatmulya Kabupaten Kuningan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *