person s hand touching wall

Arlina dan Rumah Senja

Oleh : Vera Verawati

Rumah itu selalu tampak tenang. Setiap sore, dari jendela besar di lantai dua, seorang wanita muda kerap terlihat menulis. Rambut hitamnya tergerai, matanya menatap jauh, dan senyum lembutnya seolah menyembunyikan banyak hal.

Namanya Arlina, 32 tahun — dosen sastra salah satu universitas di Surabaya. Cantik, santun, dan pendiam. Mahasiswa sering menyebutnya “Ibu Guru dari Senja” karena suka mengakhiri kelas dengan kutipan puitis: “Senja mengajarkan kita, bahwa yang indah pun bisa berakhir perlahan.”

Tidak ada yang tahu, kalimat itu ternyata menjadi pertanda.

Suatu hari, Arlina mulai sering tersenyum di depan layar laptopnya. Teman-teman dosen melihat perubahan itu — cara dia menatap ponselnya, atau sesekali menulis di buku catatan kecil dengan hati-hati. Namanya muncul di sana — Rama. Seorang pria yang dikenalnya melalui grup sastra daring. Mereka membahas puisi, lalu berlanjut ke percakapan pribadi.


Rama tampak sopan, lembut, penuh perhatian. Ia sering mengirim kutipan Rilke, dan Arlina merasa menemukan seseorang yang “mengerti bahasa sunyi”. Mereka berencana bertemu.
Dan pada malam Jumat yang kelabu itu, Rama datang ke rumahnya.

Keesokan paginya, Arlina ditemukan tewas. Tetangga mencium bau aneh dan mendobrak pintu. Tubuhnya tergeletak di ruang tamu, dengan luka di dada. Tidak ada tanda perampokan. Laptop, ponsel, dan buku catatannya masih rapi di meja. Polisi mencari jejak pelaku dari media sosialnya. Nama Rama muncul, tetapi akun itu sudah lenyap.

IP address terakhir berasal dari warnet kecil di pinggiran kota. Tak ada CCTV. Tak ada saksi.

Beberapa hari kemudian, berita kematian Arlina tersebar di kampus. Mahasiswa datang meletakkan bunga di depan pintu rumahnya.Rekan-rekannya menatap kosong, mencoba memahami, bagaimana seseorang sebaik dan sesantun itu berakhir begitu tragis?

Sementara itu, di sebuah kamar kecil berisi tumpukan kertas dan cermin retak, seorang pria menatap layar ponsel dengan wajah datar. Ia membaca berita yang menuliskan, “Dosen cantik korban pembunuhan dikenal lewat media sosial.”

Pria itu — Rama, atau setidaknya orang yang memakai nama itu — tersenyum tipis. Ia menghapus aplikasi, lalu membuka catatan digital berjudul “Kisah Arlina – Draft Akhir”. Beberapa paragraf terakhir ia edit perlahan. Di situ tertulis:

“Dan pada malam Jumat itu, tokoh utama akhirnya menemui cinta sejatinya, di antara darah dan sunyi yang sama-sama merah.”

Ia menekan tombol save, menutup laptop, lalu berdiri di depan cermin. Wajah yang menatap balik bukanlah pria asing. Wajah itu milik Arlina sendiri.

Kuningan, 8 November 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *