Bincang Buku di Kopi Hawu,Komunitas Sastra Kuningan Bertemu dalam Suara dan Cerita
KARTINI (Kuningan) — Aroma kopi dan semilir udara sejuk di Kopi Hawu, Sabtu (8/11/2025), menjadi saksi gelaran Bincang Buku bertajuk “Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham”, karya Annisa Resmana. Ia dikenal sebagai penulis yang mahir menciptakan lirik-lirik cantik. Acara yang digelar pada Sabtu sore ini berlangsung penuh kehangatan dan antusiasme, menghadirkan lebih dari dua puluh peserta dari beragam latar belakang komunitas sastra dan seni di Kuningan.

Diskusi ini dipandu oleh M. Indra Wiguna (Yayasan Hibar Budaya) sebagai moderator, dengan dua pembahas yakni Muh Ragil Ar-Raqib (Youth Forum Abistya) dan Vera Verawati (Ketua TBM Pondok Kata Rz). Mereka mengupas tema besar buku yang menyoroti pentingnya kepekaan manusia di tengah dunia yang semakin materialistis dan bising oleh suara pasar.
Menambah semarak acara, hadir pula Drs. Asep Budi Setiawan, M.Si., Penasihat Forum Lingkar Pena (FLP) sekaligus Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kuningan, yang turut memberikan pandangan reflektif mengenai Buku Telinga Yang Tidak Dijual di Pasar Saham.

“Ruang seperti ini penting agar generasi muda tidak hanya membaca dan menulis, tapi juga berdialog, berani berbeda pendapat, dan berpikir kritis,” ungkap Asep dalam sesi diskusi.
Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi sepanjang acara. Mereka aktif menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan, serta berbagi refleksi pribadi terkait isi buku. Keaktifan ini semakin berwarna karena peserta berasal dari berbagai komunitas, di antaranya Teater Sado, Bukusam, dan Teater Pecut Universitas Kuningan.

Menurut Annisa Resmana, kehadiran para pembaca dan pegiat komunitas menjadi energi tersendiri.
“Saya merasa terharu. Buku ini lahir dari kegelisahan pribadi, tapi ternyata banyak yang merasakan hal serupa. Semoga diskusi seperti ini bisa terus hidup,” ujarnya.
Acara diakhiri dengan foto bersama, penuh tawa dan semangat kolaborasi. Bincang Buku kali ini bukan sekadar ajang berbagi cerita, melainkan juga ruang tumbuh bagi ekosistem literasi Kuningan—tempat ide, dialog, dan empati diperdengarkan, tanpa harus dijual di pasar saham. (vr)










