Ketahanan Pangan Kuningan Diuji Nataru, Produksi Hortikultura Jadi Penopang Utama

KARTINI (Kuningan) – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, ketahanan pangan di Kabupaten Kuningan tidak hanya bertumpu pada lahan pertanian skala besar, tetapi juga pada ribuan pekarangan rumah warga yang kini produktif menanam sayuran. Optimalisasi pekarangan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang membuat pasokan pangan daerah tetap aman dan harga relatif stabil di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan mencatat, produksi hortikultura sepanjang Januari hingga November 2025 menunjukkan tren positif. Kenaikan produksi sejumlah komoditas strategis, seperti cabai, tomat, kentang, hingga sawi, turut memperkuat pasokan pangan lokal menjelang momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Kepala Diskatan Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., menyebut bahwa keterlibatan masyarakat melalui pemanfaatan pekarangan menjadi salah satu penyangga ketahanan pangan yang efektif. Program Tanam di Halaman Mitra Sinergi Jaga Inflasi (Taman Masagi) mendorong warga menanam sayuran sendiri, terutama komoditas yang rentan bergejolak harganya.

“Pekarangan rumah kini bukan sekadar ruang kosong, tetapi menjadi sumber pangan tambahan bagi keluarga sekaligus membantu menambah pasokan di tingkat lokal,” ujar Wahyu.

Berdasarkan data Diskatan, produksi cabai rawit hingga November 2025 mencapai 995 ton, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan juga terjadi pada cabai keriting, tomat, kentang, kubis, wortel, kembang kol, dan sawi. Peningkatan tersebut sejalan dengan bertambahnya luasan lahan tanam, baik di lahan pertanian maupun pekarangan warga.

Peran aktif Kelompok Wanita Tani (KWT) menjadi penggerak utama di tingkat masyarakat. Tingginya harga cabai yang kerap berulang setiap tahun mendorong KWT melakukan penanaman mandiri, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga untuk mendukung ketersediaan pasar lokal.

Meski demikian, tidak semua komoditas mengalami peningkatan produksi. Diskatan mencatat penurunan pada bawang daun dan bawang merah akibat kondisi iklim kemarau basah sepanjang tahun 2025 yang meningkatkan risiko penyakit tanaman. Namun, penurunan tersebut dinilai tidak mengganggu stabilitas pasokan secara keseluruhan karena ditopang oleh komoditas hortikultura lainnya.

Dari sisi harga, hasil pemantauan per 16 Desember 2025 menunjukkan kondisi relatif stabil. Harga beras, sayuran, hingga bahan pangan strategis lainnya masih berada pada kisaran normal dan tidak menunjukkan lonjakan signifikan menjelang Nataru.

Wahyu menegaskan, pemantauan produksi dan harga pangan dilakukan setiap hari sebagai langkah antisipasi. Selain itu, penguatan distribusi dan dukungan terhadap petani serta masyarakat terus dilakukan agar stabilitas pangan tetap terjaga.

“Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi besar, tetapi juga partisipasi masyarakat. Ketika warga ikut menanam, tekanan permintaan di pasar bisa ditekan, dan itu sangat membantu menjaga harga tetap stabil,” pungkasnya. (vr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *