Saat Majelis Ulama Indonesia dan LPPL Radio Kuningan FM Menghidupkan Dakwah Lewat Frekuensi 100.5 FM

KARTINI (Kuningan) – Ramadhan tahun ini tak hanya hadir di mimbar masjid dan majelis taklim. Di Kabupaten Kuningan, dakwah juga mengalun melalui gelombang radio. Melalui program “Syiar Ramadhan” 1447 H/2026 M, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kuningan menggandeng LPPL Radio Kuningan FM 100.5 MHz untuk menghadirkan siaran keagamaan setiap hari menjelang berbuka puasa, pukul 17.00–18.00 WIB.

Berbeda dari pola dakwah konvensional, program ini menunjukkan bagaimana medium radio tetap relevan di tengah arus digitalisasi. Saat sebagian masyarakat sibuk dengan gawai dan media sosial, radio justru menjadi ruang sunyi yang intim—menemani perjalanan pulang kerja, aktivitas di dapur, hingga persiapan berbuka puasa.

Ketua Umum MUI Kabupaten Kuningan, Drs. K.H. D. Syarif Hidayatullah, M.A., menyebut program ini sebagai bentuk pelayanan keagamaan agar waktu menunggu ifthar diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Siaran perdana dimulai Kamis, 19 Februari 2026, dengan tema “Definisi, Perintah, dan Tujuan Puasa” yang disampaikan langsung olehnya.

Selama Ramadhan, beragam tema akan dibahas para ulama, kyai, dan ustad pengurus MUI. Materinya tidak hanya menyentuh aspek fikih seperti hukum dan rukun puasa, tetapi juga dimensi sosial dan spiritual: pembangunan energi ruhani, zakat dalam perspektif hukum dan hikmah, puasa sebagai pendidikan kejujuran, hingga upaya memakmurkan masjid di sepuluh malam terakhir.

Program ini dijadwalkan berakhir pada 19 Maret 2026, bertepatan dengan hari ke-29 Ramadhan, dengan tema penutup “Puasa Ramadhan Memanusiakan Manusia” yang akan disampaikan H. Yusron Kholid, S.Ag., M.Si.

Kerja sama ini sekaligus menegaskan fungsi strategis lembaga penyiaran publik lokal sebagai jembatan informasi dan nilai. Di tengah tantangan disrupsi media, radio lokal tidak sekadar bertahan, tetapi bertransformasi menjadi kanal syiar yang merangkul semua kalangan—tanpa batas usia dan tanpa sekat algoritma.

Ramadhan di Kuningan pun terasa berbeda. Bukan hanya soal tausiyah, melainkan tentang bagaimana dakwah menemukan kembali ruangnya di udara, menghubungkan rumah ke rumah, hati ke hati, melalui frekuensi yang sederhana namun penuh makna. (vr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *