Mengayuh Kebaikan di Atas Dua Roda. Kisah Arya Sepeda, Remaja Kuningan yang Menolak Diam
KARTINI (Kuningan) – Di era digital saat ini, pemandangan remaja yang asyik dengan gawai atau larut dalam permainan game online sudah menjadi hal yang lumrah di setiap sudut rumah. Menghabiskan waktu luang di zona nyaman sering kali menjadi pilihan utama generasi Z. Namun, sebuah cerita berbeda yang sarat akan empati justru datang dari sebuah desa di kaki Gunung Ciremai.
Adalah Muhammad Arya Rizky Saputra, seorang remaja kelahiran Kuningan, 25 September 2007, yang memilih jalan yang tidak biasa. Di usianya yang menginjak 18 tahun, pemuda yang akrab disapa Arya ini membuktikan bahwa peduli pada sesama tidak harus menunggu kita beranjak tua atau berkelimpahan harta. Kepekaan sosial bisa dimulai kapan saja, bahkan lewat hobi yang kita cintai. Lulusan SMA Negeri I Kuningan Tahun 2026, kini melanjutkan pendidikannya di Universitas Negeri Jakarta Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga.

Warga Desa Bandorasa Wetan, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan ini mendadak menjadi perbincangan hangat. Bukan karena rekor balap sepeda, melainkan karena aksi nyata kemanusiaan yang ia gagas secara mandiri. Dengan mengandalkan kekuatan kayuhan kakinya, Arya nekat bersepeda menempuh jarak ratusan kilometer dari kampung halamannya di Kuningan menuju Yogyakarta.
Sebuah Misi Mulia Bertajuk “Muharam Bahagia”
Perjalanan jauh yang menguras fisik itu bukan sekadar ajang uji nyali. Di balik setiap keringat yang menetes di sepanjang jalan aspal, ada sebuah misi mulia. Arya bersepeda untuk menggalang donasi. Ia mendedikasikan waktu, tenaga, dan lelahnya demi mengumpulkan bantuan yang ditujukan bagi anak-anak yatim.
Bekerja sama dengan lembaga sosial DT Peduli Kuningan, donasi yang dikumpulkan Arya disalurkan langsung dalam kegiatan bertajuk Muharam Bahagia. Melalui program ini, anak-anak yatim diajak merasakan kebahagiaan bersama, salah satunya dengan berbelanja kebutuhan mereka layaknya anak-anak lain yang memiliki orang tua utuh. Senyum sumringah anak-anak yatim saat ditemani Arya menjadi bayaran yang lebih dari cukup atas rasa lelah yang ia rasakan selama di perjalanan.
“Ketika kita memiliki niat baik, jarak sejauh apa pun akan terasa dekat, dan kayuhan seberat apa pun akan terasa ringan. Karena di ujung jalan sana, ada senyuman anak yatim yang sedang menunggu kita.”

Menjadi Menara Suar bagi Generasi Muda
Apa yang dilakukan oleh pemilik akun Instagram @m.arya_09 ini selayaknya menjadi cermin dan tamparan lembut bagi kita semua, terutama para orang tua dalam mendidik anak. Arya memberikan teladan nyata bahwa kemajuan teknologi tidak boleh mengikis rasa kemanusiaan di dalam diri anak muda.
Adapun prestasi yang pernah diraihnya :
- Juara 3 kejuaraan Ciremai Trail Run kategori 5km ( tingkat nasional)
- Juara 1 kejuaraan Universitas Bhakti Husada Indonesia run kategori
5km putra (tingkat provinsi) - Juara 2 kejuaraan SMK Angkasa Kalijati Run kategori 5km putra ( tingkat provinsi)
- Juara 1 kejuaraan Smanda Pemalang Run kategori 5km putra ( tingkat nasional)

Kisah Arya adalah bukti bahwa kebaikan itu menular. Aksi gowes kemanusiaannya tidak hanya mengantarkan bantuan fisik, tetapi juga mengirimkan pesan kuat kepada generasi seusianya: bahwa hidup akan jauh lebih bermakna saat kita mampu menjadi manfaat bagi orang lain.
Mari jadikan kisah inspiratif remaja dari Bandorasa Wetan ini sebagai penyemangat di dalam keluarga kita. Mengajarkan kepada anak-anak kita bahwa untuk memulai sebuah perubahan dan berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat), yang kita butuhkan hanyalah satu hal: memulai dengan apa yang kita bisa.
Terima kasih, Arya. Teruslah mengayuh, teruslah menyebarkan inspirasi, dan biarkan roda kebaikanmu terus berputar menggerakkan hati anak muda lainnya di seluruh penjuru negeri. (vr)**










