Skip to content
-
Berlangganan buletin kami & jangan pernah ketinggalan postingan terbaik kami. Berlangganan Sekarang!
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Home/Roman/“Aku Datang, untuk Mengambilnya Kembali.”
Roman

“Aku Datang, untuk Mengambilnya Kembali.”

By admin_kartini
November 24, 2025
0

Oleh : Vera Verawati

Hujan sore itu turun pelan, seperti sengaja menahan napas saat Dina mengetuk pintu rumah sahabatnya, Rara. Sudah dua bulan suaminya, Ardan, menghilang tanpa jejak. Polisi menyebutnya kemungkinan besar tersesat, mungkin celaka—serangkaian kalimat yang tak pernah memberi jawaban. Dina datang dengan mata sembap, tubuh gemetar oleh kecemasan yang seakan tak ada batasnya. Rara membuka pintu. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang setiap hari menyaksikan sahabatnya larut dalam pilu.

“Masuk, Din.” Suaranya lembut.

Dina langsung memeluknya, terisak.

“Ra… aku mimpi Ardan lagi. Dia manggil-manggil aku. Suaranya… dingin. Seperti dari tempat gelap.”

Rara membelai punggungnya, tersenyum kecil—senyum yang tak sampai ke mata.

“Mungkin kamu terlalu lelah.”

Namun hening yang jatuh sesudahnya terasa berat, seperti ada sesuatu di udara yang menebarkan aroma rahasia.

“Ra,” kata Dina pelan.

“Kamu sahabatku sejak kecil. Kalau ada hal yang harus aku tahu tentang Ardan… tolong bilang,” lanjutnya.

Rara menatapnya lama.

 “Aku selalu di sisimu.”

Dina merasa ada sesuatu yang janggal, tetapi ia lelah untuk menyelidikinya. Ia mengangguk, mengusap air mata, dan Rara mengajaknya duduk di ruang tamu. Lampu terasa lebih redup dari biasanya.  

Malam itu, setelah Dina pulang, Rara mengunci pintu rumah rapat-rapat. Ia berjalan ke ruang belakang—ruang yang Dina tidak pernah lihat, selalu tertutup rapat. Ada bau logam dan udara yang sangat dingin. Ia menyalakan lampu neon. Di sudut ruangan itu, berdiri sebuah peti es industri, besar dan berlapis baja. Matanya menatap peti itu seperti menatap sesuatu yang ia cintai sekaligus ditakutkan, takut kehilangan.

Dengan tangan gemetar, ia membuka kuncinya. Embun dingin mengepul keluar. Di dalamnya, terbujur tubuh Ardan—tak bergerak, membeku sempurna. Wajahnya tenang, seperti sedang tidur. Jantung Rara mencelos melihatnya, seperti setiap malam sebelumnya.

“Seharusnya kamu memilih aku,” bisik Rara lirih, suaranya retak.

“Aku mencintaimu bahkan sebelum Dina mengenalmu.”

Ia mengusap pipi Ardan yang sudah membeku.

“Kalau aku tak bisa memilikimu hidup-hidup… maka aku akan memiliki waktumu. Setidaknya begini aku bisa bersamamu.”

Namun malam itu berbeda.

Tok. Tok. Tok.

Ada ketukan keras.

Rara terlonjak dan buru-buru menutup peti es. Dadanya berdegup cepat. Ia berjalan ke pintu dengan langkah yang dipaksakan tenang. Ketika pintu terbuka, Dina berdiri di sana, basah kuyup oleh hujan. Tatapannya tajam, tak lagi rapuh.

“Maaf datang lagi, Ra,” katanya tanpa berkedip.

 “Aku lupa bilang sesuatu.”

Rara menelan ludah.

“Apa?”

Dina tersenyum. Senyum yang sama sekali tak pernah Rara lihat sebelumnya—senyum yang membuat bulu kuduk berdiri.

“Aku tahu kamu mencintai Ardan.”

Dina melangkah masuk tanpa diundang.

“Dan aku juga tahu… kamu bukan satu-satunya yang menyembunyikan sesuatu.”

Rara membeku.

“Kamu tahu kenapa Ardan datang padaku dan bukan padamu?” Dina menutup pintu. Bunyi klik kunci terdengar sangat keras.

“Karena hanya aku yang bisa membuatnya hidup kembali.”

Rara mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Dina mendekat. Tatapannya menggelap.

“Aku tidak datang untuk mencari Ardan.”

Ia tersenyum pelan, menakutkan.

“Aku datang untuk mengambilnya kembali.”

Teriakan Rara menggema di rumah itu, namun hujan menelan semuanya.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya… peti es itu terbuka bukan di tangan Rara.

Kuningan, 24 November 2025

Tags:

CeritaPendek
Author

admin_kartini

Other Articles
Previous

Apa Itu Teman Toxic dan Cara Keluar dari Zona Pertemanan Toxic

hands holding thank you note and envelope
Next

Quotes Hari Ini

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kartini Kuningan adalah media portal berita independen yang menghadirkan informasi tepercaya, aktual, dan mendalam seputar dinamika Kabupaten Kuningan hingga beragam peristiwa penting di tingkat nasional.

Mengusung slogan "Phalosa Inspiratif", kami berkomitmen menjadi ruang informasi yang tak hanya menceritakan fakta, tetapi juga memancarkan cahaya inspirasi (phalosa) bagi masyarakat. Kami percaya bahwa setiap berita, kisah lokal, dan dinamika daerah memiliki potensi untuk mengedukasi, menginspirasi, serta mendorong perubahan positif.

  • Facebook
  • X
  • Instagram
  • LinkedIn
Copyright 2026 — Kartini Kuningan. All rights reserved. Theme By Derijck Nugroho