Gedung Timur Saksi Kematian
Oleh : Vera Verawati
Gedung Timur Kampus Arwana berdiri setinggi 12 lantai, menjulang seperti penjaga tua yang memandangi seluruh kompleks kampus. Di pagi hari, kaca-kaca besar di fasad bangunan memantulkan cahaya keemasan. Namun sejak tragedi itu, bangunan itu berubah—seolah cahaya tidak lagi bisa masuk sepenuhnya. Ada sudut-sudut gelap yang terasa lebih gelap dari seharusnya, dan lorong-lorong yang menggema terlalu lama.
Nama Galih kini menjadi bisikan yang menghantui kampus. Mahasiswa pendiam yang lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan atau balkon gedung, sekadar untuk melihat langit sore. Ia tidak banyak bicara, tapi senyumnya selalu ringan, kadang bahkan canggung. Tidak ada alasan untuk membencinya—tapi bagi beberapa orang, alasan tidak selalu penting.
Hari ketika tubuhnya ditemukan, kampus seperti terhenti. Sirene ambulans meraung, garis polisi dipasang melintang, dan para mahasiswa bergerombol dengan wajah pucat. Tubuh Galih terbujur di bawah Gedung Timur, dan tak ada yang berani mendekat. Angin pagi yang biasanya sejuk terasa menusuk dingin.
Rumor cepat menyebar—Galih loncat. Tidak ada saksi mata, tidak ada catatan terakhir. Hanya keheningan yang menyesakkan, mengisi setiap sudut kampus.
Beberapa minggu sebelum kejadian, Galih sering datang ke kelas dengan wajah lelah. Teman dekatnya, Angga, pernah mendengar ia mengeluh tentang beberapa mahasiswa yang “suka keterlaluan”. Awalnya hanya ejekan kecil: model rambutnya, cara bicaranya yang pelan, caranya berjalan sambil menunduk. Namun, seperti api kecil yang dibiarkan, itu tumbuh.
Dion, Ferdi, dan Lala, tiga mahasiswa populer dengan pengaruh kuat di lingkungannya, menjadi pusat lingkaran itu. Mereka tidak pernah memukul atau melakukan kekerasan fisik. Tapi kata-kata, tatapan meremehkan, dan tawa licik yang muncul setiap kali Galih lewat—membentuk jerat yang perlahan mempersempit dunianya.
Pesan anonim mulai datang. “Gak pantas,” “Aneh,” “Kampus ini terlalu bagus buat orang kayak kamu.” Kadang hanya tiga kata, tapi cukup untuk menusuk. Suatu hari, Angga menemukan Galih duduk sendirian di tangga darurat Gedung Timur, menatap lantai-lantai di atas seakan ada sesuatu yang menariknya ke sana.
“Lo nggak apa-apa, Lih?”
Galih hanya tersenyum kecil. “Kadang… capek aja.”
Tidak ada yang menduga kalimat itu adalah penanda.
Sejak tanggal itu, Gedung Timur jadi tempat yang dihindari. Setiap langkah terasa menggema dua kali lebih keras, dan setiap pintu kaca memantulkan bayangan seolah ada orang lain di belakangmu. Dion, Ferdi, dan Lala awalnya bersikap santai. Mereka mengatakan pada polisi dan pihak kampus:
“Galih cuma bercanda terlalu serius. Kami juga bercanda.”
“Dia baper.”
“Kami nggak nyangka bakal sejauh itu.”
Namun ketenangan itu hilang dalam empat hari.
Hari Pertama:
Dion mulai mendengar langkah di koridor kosnya. Pelan, terseret, seolah seseorang berjalan tanpa mengangkat kaki. Ketika ia membuka pintu—lorong kosong, tapi udara dingin mengalir dari arah tangga.
Hari Kedua:
Ferdi melihat pantulan aneh di layar laptopnya: bayangan seseorang berdiri di belakangnya, padahal kamarnya terkunci. Bayangan itu tidak jelas, tapi ia mengenali siluetnya—jaket yang selalu dipakai Raka.
Hari Ketiga:
Lala mengalami yang terburuk. Saat melewati Gedung Timur sepulang kelas malam, ia melihat seseorang berdiri di balkon lantai 12, tempat Raka terjatuh. Tubuhnya samar, tapi kepala tertunduk. Angin kencang berembus, tapi sosok itu tidak bergerak sedikit pun. Dan ketika Lala berkedip—sosok itu hilang seperti kabut tertiup.
Malam itu ia menjerit dalam tidur. Teman kamarnya menemukannya terisak, memegang leher seolah ada tangan yang baru saja menggenggamnya. Ketakutan itu bukan sekadar rasa bersalah. Itu menghantui.
Pada hari keempat, ketiganya berkumpul tanpa direncanakan di depan kantor administrasi kampus. Wajah pucat, mata cekung, tangan dingin seperti batu.
Dion berbisik, “Dia ngikutin kita… tiap malam.”
Ferdi menangis tanpa suara. “Dia nyari kita.”
Lala gemetar. “Dia nggak mau pergi sebelum kita ngaku…”
Mereka masuk bersama, memaksa diri berbicara di hadapan rektor dan staf kampus.
“Kami… kami yang ngebully dia,” kata Dion, suaranya hancur.
“Kami bikin dia merasa gak layak hidup,” tambah Ferdi.
“Kami pikir itu cuma bercanda,” Lala tersedu, “tapi dia… dia datang di mimpi, di lorong, di mana-mana…”
Pihak kampus terdiam. Pengakuan itu akhirnya membuka simpul yang selama ini menggantung. Apakah yang menghantui mereka benar-benar Raka? Atau rasa bersalah yang berubah menjadi mimpi buruk? Tidak ada yang tahu.
Bulan demi bulan berlalu. Prosedur anti-bullying diperkuat. Konseling dibuka lebih luas. Nama Raka tidak lagi disebut dengan rasa takut—tapi dengan penyesalan yang mendalam. Gedung Timur masih berdiri tegar. Pada sore hari, ketika cahaya matahari masuk dari arah barat, lantai 12 kadang tampak seperti bersinar pucat. Beberapa mahasiswa mengaku melihat bayangan seorang pemuda berdiri dengan tenang, menatap langit. Tidak menakutkan. Tidak mengancam. Hanya… seolah menunggu.
Mungkin bayangan itu bukan hantu. Mungkin itu hanya kenangan tentang seseorang yang terlalu lama menanggung luka yang tidak terlihat. Atau mungkin… itu pengingat. Bahwa “candaan” yang tidak berhenti bisa membunuh. Dan penyesalan—terutama yang datang terlambat—kadang lebih menakutkan daripada sosok apa pun.
Kuningan, 6 Desember 2025










