Tangan Terakhir di Tengah Arus
Oleh : Vera Verawati
Hujan turun tanpa henti sejak malam sebelumnya, memukul atap rumah-rumah di sebuah desa kecil di Aceh. Cahaya pagi seharusnya muncul, namun langit kelam menggantung seperti mendung yang menahan amarah. Di balik jendela rumah panggung sederhana itu, Zahra memeluk dua anaknya—Aisyah yang baru berumur lima tahun, dan Fahri, anak lelakinya yang delapan tahun, berwajah tampan dan selalu melindungi adiknya.
Suaminya, Ramli, sejak subuh mencoba membersihkan aliran parit di samping rumah, khawatir debit air meningkat. Tapi suara gemuruh yang datang dari arah bukit mengguncang dada mereka. Bukan suara biasa. Bukan sekadar air. Itu suara tanah yang bergerak. Dan Zahra tahu, sesuatu yang buruk sedang turun dari gunung.
“Air naik!” teriak Ramli dari luar, suaranya tertelan angin.
Zahra menggendong Aisyah, sementara Fahri menggenggam erat ujung sarung ibunya. Ketika mereka membuka pintu, air cokelat langsung menerobos masuk, dingin dan semakin tinggi hanya dalam hitungan detik.
“Ke bukit! Sekarang!” Ramli menarik lengan mereka, panik namun tetap mencoba tenang.
Mereka berlari, berusaha menerjang arus yang semakin liar. Hujan memukul wajah, angin membawa daun dan ranting berterbangan. Di kejauhan, Zahra mendengar suara retakan besar—tanah longsor mulai turun, membawa serpihan pohon dan batu.
Teriakan tetangga bersahutan, sebagian berlari, sebagian tenggelam dalam kepanikan. Ketika mereka hampir mencapai tanah yang sedikit lebih tinggi, arus mendadak menghantam lebih kuat. Sebuah batang pohon besar meluncur dari hulu, menghajar kaki Ramli dan membuatnya terjatuh.
“Abang!” Zahra berteriak, suara hampir hilang diterjang gemuruh air.
Ramli berusaha berdiri, namun arus menyeretnya beberapa meter ke belakang. Zahra ingin mengejar, namun Aisyah terlepas dari gendongannya dan terjerembab ke arus kecil di sampingnya. Zahra buru-buru meraih anak perempuannya dan mendekapnya erat-erat.
Dan di detik yang sama— “Ummi! Ummi! Tolong!”
Itu suara Fahri. Zahra menoleh. Anaknya itu terpisah beberapa meter, terseret arus yang lebih dalam. Tangan kecil itu terangkat, menggapai-gapai, berusaha meraih tangan ibunya.
“Fahri!” Zahra menjerit, lututnya bergetar.
Aisyah memeluk leher ibunya sambil menangis ketakutan. Zahra harus memilih. Waktu tidak memberi ruang untuk berpikir panjang. Jika ia melonggarkan gendongan Aisyah—anak itu akan hanyut. Jika ia menahan Aisyah dan mencoba meraih Fahri—keduanya bisa terseret. Dan arus itu semakin menggila.
“Ummi… toloooong…”
Tangan itu menggapai.
Tangan Zahra gemetar.
Hatinya terbelah.
“Maafkan Ummi… Ya Allah, maafkan Ummi…” bisiknya sambil memeluk kuat Aisyah.
Ia menutup mata, menahan jeritan dalam dada. Fahri terlepas dari pandangan, ditelan arus yang tak mengenal belas kasih. Zahra, dengan sisa tenaga, merayap ke tanah yang sedikit lebih tinggi. Air menerjang betisnya, lumpur merayap hingga lutut. Nafasnya tersengal. Di belakangnya, longsoran tanah semakin dekat, suara gemuruhnya menyalip suara hujan.
Beberapa tetangga membantunya naik ke batu besar di tepi bukit. Tubuhnya basah kuyup, dingin menusuk hingga ke tulang. Namun ia tidak melepaskan Aisyah barang sedetik pun. Anak itu menangis terisak, wajahnya menempel di dada ibunya. Dari atas batu itu, Zahra melihat rumah-rumah tersapu air. Ia berkata pelan, hampir seperti bisikan, “Fahri… Abang…”
Dan di tengah kekacauan itu, ia tidak melihat suaminya—hanya arus besar yang terus membawa serpihan hidup mereka.
Beberapa jam setelah air mulai surut dan tim SAR mencapai desa, Zahra masih terduduk, memeluk Aisyah yang sudah tertidur kelelahan. Wajahnya pucat, matanya sembab, namun ia hidup.
“Bu, suami Ibu, anak laki-laki Ibu… belum ditemukan,” ujar salah seorang petugas dengan suara hati-hati.
Zahra mengangguk. Tidak ada air mata yang keluar. Seolah semuanya sudah habis dibawa arus.
Yang tersisa hanya satu anak perempuan kecil yang tetap bernafas di pelukannya. Dan kenangan terakhir tentang tangan kecil yang menggapai-gapai dalam hujan. Malam itu, di antara air yang mulai reda dan tanah yang masih bergerak perlahan, Zahra mengusap rambut Aisyah.
“Kaulah alasan Ummi bertahan, Nak,” katanya pelan. Namun jauh di dalam hatinya, bayangan terakhir suaminya, suara Fahri tetap bergema—seperti panggilan yang tidak akan pernah benar-benar hilang. Dan sejak hari itu, setiap rintik hujan membuat Zahra kembali menggenggam tangan Aisyah lebih erat, seolah masih merasakan genggaman kecil lain yang gagal ia selamatkan.
Aceh, Desember 2025










