Cahaya Harapan Dari Bank Mata Manislor
KARTINI (Kuningan) – Penglihatan merupakan salah satu anugerah Tuhan yang tiada taranya, siapapun tentunya akan merasa tersiksa jika mengalami ketidaknormalan penglihatan, apalagi jika sampai mengalami kebutaan.
Salah satu penyebab kebutaan selain buta sejak lahir adalah akibat rusaknya kornea mata. Kabar baiknya bahwa kerusakan kornea mata dapat diperbaiki dengan melakukan cangkok kornea mata yang dapat diperoleh dari para pendonor mata melalui Bank Mata Indonesia.
Di Kabupaten Kuningan sendiri, Bank Mata Indonesia membuka cabangnya di Desa Manislor Kecamatan Jalaksana tepatnya di Jalan Wisaprana No. 48 Manislor. Dibukanya kantor Cabang di Desa Manislor karena kebanyakan pendonor baik yang sudah diambil (eksisi) kornea matanya maupun yang belum dieksisi mayoritas dari Desa Manislor terutama dari komunitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia.
Dari data pendonor yang sudah dieksisi kornea matanya tercatat pada tahun 2015 terdapat 1 orang yang sudah dieksisi, 2016 ada 2 orang, tahun 2017 ada 14 orang, tahun 2018 ada 20 orang, 2019 ada 12 orang, 2020 ada 16 orang, 2021 ada 15 orang, 2022 ada 20 orang, 2023 ada 24 orang, dan 2024 ada 21 orang.
Sementara warga komunitas Ahmadiyah yang sudah mendaftar sebagai pendonor kornea mata tercatat sejumlah 2.100 lebih pendonor yang terdiri dari perempuan sejumlah 1.015 orang, laki-laki dewasa 900 orang dan para remaja tercatat ada 200 orang.
Menurut Bidan Leni untuk petugas yang akan melakukan eksisi kornea mata di Manislor terdapat tiga tenaga ahli yang sudah bersertifikat yakni Bidan Leni sendiri, Bidan Latifa dan Bapak Rusdi Sriwiyata, SPkp. yang merupakan Kepala Desa Manislor dan Kepala Bank Mata Kuningan saat ini.
Penderita HIV Tidak Bisa Dieksisi
Lebih lanjut Bidan Leni menjelaskan bahwa pengambilan kornea mata dilakukan setelah pendonor meninggal dunia dengan terlebih dahulu melakukan pengecekan penyakit si pendonor.
“Bagi pendonor yang memiliki penyakit tertentu seperti HIV maka tidak dapat dilakukan eksisi sehingga petugas harus melakukan pengecekan terlebih dahulu, proses eksisi tidak memerlukan waktu lama hanya sekitar 30 menit karena kornea mata bentuknya tipis sekali seperti kulit bawang, pengambilannyapun hanya seperti kita membuka softlens mata saja, jadi bola matanya tetap utuh seperti biasa, “ujarnya, saat berbincang dengan kartinikuningan.id, Minggu (18 Januari 2026).
Berkat partisipasi masyarakat Desa Manislor dalam kegiatan donor kornea mata yang mayoritas dilakukan oleh komunitas Jemaat Ahmadiyah, pada tahun 2017 Manislor mendapat piagam penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai desa dengan donor kornea mata terbanyak secara berkesinambungan dengan 1.700 warga terdaftar.
“Kami melakukan hal ini semata-mata demi kemanusiaan dan kami hanya ingin terus beramal jariah walau kami sudah meninggal, kami tidak pernah tahu siapa yang mendapatkan kornea mata dari pendonor kami karena kami melakukan ini secara tulus untuk membantu masyarakat yang membutuhkannya, siapapun dia dan darimanapun dia,” ujar Bidan Leni yang juga sudah mendaftar sebagai pendonor kornea mata. (Nana) **










