Kuningan Jadi Etalase Pengendalian Inflasi dan Ketahanan Pangan Jelang Ramadan
KARTINI (Kuningan) – Kabupaten Kuningan dipercaya menjadi tuan rumah Pasamoan Agung High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Jawa Barat yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Bank Indonesia (BI), Kamis (05/02/2026), di Taman Kota Kuningan.
Penunjukan Kuningan bukan tanpa alasan. Daerah agraris ini dinilai mampu menunjukkan praktik nyata pengendalian inflasi berbasis penguatan sektor pertanian dan kolaborasi lintas wilayah, terutama menjelang meningkatnya kebutuhan pangan pada momentum Ramadhan, Idulfitri, dan Cap Go Meh 2026.

Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si menyampaikan bahwa kepercayaan tersebut menjadi pengakuan atas kinerja daerah dalam menjaga stabilitas ekonomi lokal. Ia memaparkan pertumbuhan ekonomi Kuningan yang mencapai 10,4 persen pada semester pertama 2025 dan bertahan di angka 9,3 persen hingga akhir tahun, disertai penurunan angka kemiskinan dan pengangguran.
Menurutnya, capaian tersebut tidak lepas dari fokus pemerintah daerah pada sektor pertanian melalui program “Kembali Ka Karuhun”. Program ini mencakup subsidi pupuk, penyediaan benih bersertifikat, serta pembangunan infrastruktur penunjang pertanian seperti jalan usaha tani dan irigasi yang menjangkau ratusan kelompok tani.
Di sisi lain, Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menilai praktik di daerah seperti Kuningan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas harga di tingkat provinsi. Ia menekankan pentingnya pemantauan harga berbasis data real-time, operasi pasar, serta kesiapsiagaan distribusi pangan menghadapi potensi cuaca ekstrem dengan melibatkan BMKG dan BPBD.

Senada dengan Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman juga memberikan apresiasi atas keberhasilan Kabupaten Kuningan dalam menekan angka inflasi, sehingga terlihat berbagai kemajuan terutama peningkatan ekonomi masyarakat.
“Dengan keberhasilan tersebut, memberi peluang besar bagi masyarakat untuk menciptakan industri mandiri, mulai dari industri rumah tangga,” ujarnya saat ditemui disela-sela makan siangnya di Saung Kopi Hawwu Kuningan.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Jawa Barat Muhammad Nur menegaskan bahwa penguatan sisi suplai pangan di daerah menjadi krusial, terlebih dengan adanya tambahan permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mencontohkan kemitraan pangan seperti yang dilakukan Pesantren Al-Ittifaq sebagai model kolaborasi yang mampu menjaga keseimbangan pasokan.
Melalui forum ini, Kuningan juga menegaskan komitmennya memperkuat kerja sama regional Ciayumajakuning lewat aliansi “Kunci Bersama”, dengan pendekatan pengendalian inflasi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Pasamoan Agung ini tidak hanya menjadi forum koordinasi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana praktik di tingkat daerah dapat menjadi fondasi utama stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat Jawa Barat secara berkelanjutan. (vr)










