Skip to content
-
Berlangganan buletin kami & jangan pernah ketinggalan postingan terbaik kami. Berlangganan Sekarang!
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Home/Berita/Perang Cerdas” di Sawah Cipakem, Kuningan Kerahkan Pasukan Alami Amankan Stok Pangan
BeritaSosial Ekonomi

Perang Cerdas” di Sawah Cipakem, Kuningan Kerahkan Pasukan Alami Amankan Stok Pangan

By admin_kartini
Mei 7, 2026
0

KARTINI (Kuningan)  – Pemerintah Kabupaten Kuningan tidak lagi hanya mengandalkan bahan kimia untuk menjaga lumbung padinya. Dalam sebuah langkah taktis di Desa Cipakem, Kecamatan Maleber, Rabu (6/5/2026), ribuan “agen hayati” resmi dilibatkan sebagai lini pertahanan utama dalam melawan serangan hama penggerek batang padi yang mengancam produktivitas musim tanam 2026.

Langkah ini menandai pergeseran strategi dari pengendalian konvensional menuju pendekatan berbasis ekosistem yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Di tengah serangan penggerek batang yang mencapai intensitas 10-18 persen pada lahan seluas 20 hektare, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kuningan justru menaruh harapan besar pada keseimbangan alam.

Data lapangan menunjukkan keberadaan “pasukan alami” seperti laba-laba Lycosa sp. dan serangga predator Paederus sp. yang aktif memangsa hama di sela-sela rumpun padi varietas Inpari dan Ciherang.

Kepala Diskatan Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., menegaskan bahwa intervensi manusia tidak boleh merusak kerja alami para predator tersebut.

“Kami mendorong petani memanfaatkan musuh alami sebagai lini pertahanan utama. Penggunaan kimia adalah opsi terakhir yang dilakukan secara selektif dan terukur dengan prinsip ‘Enam Tepat’. Kita ingin memutus siklus hama, bukan merusak ekosistemnya,” ujar Wahyu di lokasi Gerakan Pengendalian (Gerdal).

Strategi “Perang Cerdas” ini juga melibatkan taktik kultur teknis. Petani diajarkan untuk melakukan pengaturan air secara intermiten (berselang) dan sanitasi lahan yang ketat. Mencabut tanaman yang terserang (sundep) menjadi langkah manual yang efektif untuk menghentikan penyebaran larva sebelum mereka berubah menjadi ancaman yang lebih besar.

Camat Maleber, H. Diding Wahyudin, S.Pd., M.Si., yang turut hadir, memberikan apresiasi atas pendekatan edukatif ini. Menurutnya, pemahaman petani mengenai ekosistem adalah kunci agar mereka tidak panik dan asal “bom” pestisida saat melihat serangan hama.

Keberhasilan pengamanan produksi padi di Kuningan kini sangat bergantung pada konsistensi pengamatan pasca-gerakan pengendalian. Wahyu menekankan bahwa petani dan penyuluh harus bertindak seperti intelijen pangan yang terus memantau dinamika populasi hama di lapangan.

“Pengendalian hama adalah kerja bersama. Ketika petani, penyuluh, dan pemerintah bergerak serentak menjaga keseimbangan alam, maka potensi kehilangan hasil bisa ditekan tanpa harus mengorbankan kualitas lingkungan,” tambahnya.

Dengan mengedepankan taktik berbasis agroekosistem, Kabupaten Kuningan optimistis bahwa tantangan perubahan iklim dan serangan hama di tahun 2026 dapat diatasi secara elegan, sekaligus memastikan piring masyarakat tetap terisi dengan beras berkualitas yang sehat. (vr)***

Tags:

CipakemKadiskatan KuninganPanganPengendalian
Author

admin_kartini

Other Articles
Previous

Lawan Dominasi Tengkulak, KPPU Turun Tangan “Bedah” Tata Niaga Kelapa di Kuningan

close up shot of scrabble tiles on a white surface
Next

Quotes Hari Ini

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kartini Kuningan adalah media portal berita independen yang menghadirkan informasi tepercaya, aktual, dan mendalam seputar dinamika Kabupaten Kuningan hingga beragam peristiwa penting di tingkat nasional.

Mengusung slogan "Phalosa Inspiratif", kami berkomitmen menjadi ruang informasi yang tak hanya menceritakan fakta, tetapi juga memancarkan cahaya inspirasi (phalosa) bagi masyarakat. Kami percaya bahwa setiap berita, kisah lokal, dan dinamika daerah memiliki potensi untuk mengedukasi, menginspirasi, serta mendorong perubahan positif.

  • Facebook
  • X
  • Instagram
  • LinkedIn
Copyright 2026 — Kartini Kuningan. All rights reserved. Theme By Derijck Nugroho