Lawan Candu Digital, Pentas PAI Garawangi Jadi Senjata Cetak “Benteng Moral” Anak Kuningan

KARTINI (Kuningan) – Di tengah gempuran arus digital dan informasi tanpa batas yang kian sulit dibendung, ratusan anak Sekolah Dasar (SD) di Kuningan justru memilih jalan berbeda. Dengan busana Islami dan kepercayaan diri tinggi, mereka unjuk gigi di halaman kantor Kecamatan Garawangi, Senin (25/5/2026).

Ajang Pentas Seni Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat SD ini dibuka langsung oleh Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. Namun, acara ini bukan sekadar panggung seremonial tahunan untuk memperebutkan piala. Lebih dari itu, kompetisi ini menjadi ruang konkret untuk membentengi generasi muda dari dampak negatif dunia virtual.

Bupati Dian menegaskan, kecerdasan akademik anak zaman sekarang tidak lagi cukup jika tidak dibarengi dengan fondasi moral yang kokoh. Menurutnya, anak-anak hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih berat karena hidup di era keterbukaan informasi.

“Anak-anak hari ini hidup di era digital dengan akses informasi tanpa batas. Karena itu, pendidikan karakter dan pendidikan agama menjadi benteng moral yang sangat penting agar mereka tumbuh menjadi generasi yang cerdas, santun, disiplin, dan berakhlak,” ujar Dian lugas.

Melalui panggung-panggung seperti Pentas PAI ini, anak-anak dipaksa keluar dari layar gawai untuk belajar tentang keberanian, sportivitas, kreativitas, dan interaksi sosial yang nyata. Dari sinilah mental generasi masa depan dibentuk agar siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas budaya dan nilai religiusnya.

Suasana di lokasi perlombaan berlangsung riuh dan hangat. Dukungan penuh dari orang tua dan guru yang mendampingi menunjukkan adanya kesadaran bersama bahwa mendidik anak di era modern membutuhkan kerja keras kolektif.

Bupati Dian pun melempar apresiasi tinggi kepada para guru PAI dan Kelompok Kerja Guru (KKG) PAI SD yang konsisten menjadi garda terdepan dalam menjaga moral anak-anak di sekolah. Ia mengingatkan bahwa membentuk karakter anak adalah investasi jangka panjang.

“Generasi hebat tidak tumbuh secara instan. Mereka dibentuk melalui pendidikan yang konsisten, lingkungan yang baik, dan keteladanan yang terus menerus,” pungkas Dian.

Lewat gelaran Pentas Seni PAI 2026 ini, Kabupaten Kuningan sedang mengirim pesan kuat: di tengah modernisasi yang melesat, nilai religiusitas dan karakter tetap menjadi harga mati untuk mencetak generasi emas yang siap bersaing. (vr)***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *