Rayakan Kreativitas, DKV Uniku Bersama EKRAF Kuningan Gelar Pameran Seni dan Literasi di LQ Forest

KARTINI (Kuningan) – Kolaborasi apik antara dunia akademik, komunitas kreatif, dan sektor swasta sukses melahirkan sebuah ruang apresiasi seni yang memukau. Bertempat di kawasan asri LQ Forest, Jl. Desa Setianegara, Cilicmus, Festival Seni, Budaya, dan Literasi (FSBL) Ciremai resmi digelar mulai 25 hingga 27 Juni 2026. Acara ini menjadi panggung unjuk kreativitas sekaligus ruang temu bagi para seniman, akademisi, dan pegiat literasi lintas daerah.

Festival yang mengusung misi “Merayakan Kreativitas, Merawat Budaya, Menguatkan Komunitas” ini secara resmi dibuka oleh owner LQ Forest, Lilis M. Sundari. Acara pembukaan berlangsung meriah dan sarat akan nilai estetika, diperkuat oleh sinergi kuat antara Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kuningan (Uniku), Ekonomi Kreatif (EKRAF) Kuningan, dan LQ Forest.

Ketua Panitia Pelaksana, Endang Komara, yang juga menjabat sebagai Ketua EKRAF Kuningan, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menekankan bahwa FSBL Ciremai dirancang bukan sekadar sebagai ajang pameran statis, melainkan sebuah ekosistem hidup tempat bertukarnya gagasan kreatif dan pelestarian nilai-nilai lokal.

Salah satu daya tarik utama dalam festival ini adalah pameran karya mahasiswa DKV Uniku. Ruang pameran di LQ Forest disulap menjadi galeri seni yang estetik dengan deretan poster desain grafis, ilustrasi, dan karya visual bertema budaya seperti “Rencong”, “Panji”, hingga “Enggang Gading” yang digantung apik di area joglo kayu.

Selain pameran visual, hari pertama festival juga dimeriahkan oleh penampilan memukau Tari Kontemporer oleh seniman tari ternama asal Indramayu, Iing Sayuti. Suasana semakin meriah oleh penampilan Stand Up Kuningan, pembacaan serta musikalisasi puisi yang dibawakan oleh para pegiat literasi. Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh, seniman regional, serta pakar budaya, salah satunya Asep Budi Setiawan.

Festival ini juga diisi dengan rangkaian diskusi publik yang berbobot, menghadirkan pembicara nasional dan akademisi seperti Kurnia Effendi, Dr. Andrinof Chaniago, Wien Muldian, hingga Dekan Fakultas Hukum Uniku, Prof. Dr. Suwari Akhmaddhian, M.H.

Lilis M. Sundari selaku owner LQ Forest mengungkapkan harapannya agar tempat yang ia kelola tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga menjadi creative hub atau ruang terbuka hijau yang mendukung penuh pemajuan kebudayaan dan literasi di Kabupaten Kuningan.

Senada dengan hal tersebut, Endang Komara berharap kegiatan FSBL Ciremai ini bisa menjadi agenda tahunan yang konsisten. “Kita ingin memicu generasi muda, khususnya mahasiswa DKV, agar terus melahirkan karya yang memiliki nilai ekonomi kreatif tinggi tanpa kehilangan akar budayanya,” ujarnya.

Apresiasi tinggi turut datang dari pakar budaya Kuningan, Asep Budi Setiawan. Menurut pengamatannya festival ini merupakan langkah taktis yang sangat baik dalam menjembatani seni modern (desain komunikasi visual) dengan nilai-nilai tradisi lokal. Menurutnya, kolaborasi semacam inilah yang dibutuhkan agar kebudayaan Ciremai dan Kuningan pada umumnya tetap relevan dan lestari di tengah perkembangan zaman.

Acara FSBL Ciremai 2026 dihadiri oleh Dinas Kearipan dan Perpustakaan Daerah Kuningan, Kepala Desa Setia Negara dan undangan lainnya. Selain itu acara tersebut terbuka untuk umum dan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai, mengundang seluruh masyarakat untuk datang, berbagi, dan merayakan kebudayaan bersama. (vr)**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *