Awas Echo Chamber! Diskominfo Kuningan Bongkar Cara Algoritma Medsos Jebak Gen-Z ke Paham Radikal
KARTINI (Kuningan) — Algoritma media sosial kini menjadi ancaman nyata yang menjebak Generasi Z (Gen-Z) ke dalam pusaran paham radikalisme dan anarkisme. Fenomena ruang gema (echo chamber) di dunia maya membuat anak muda yang sedang mencari jati diri rawan terdoktrinasi secara ekstrem tanpa mereka sadari.
Hal tersebut dibongkar oleh Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo Kabupaten Kuningan, Nana Suhendra, M.Pd., dalam Diklat Kebangsaan yang digelar Gerakan Masyarakat Anti Radikalisme (GEMAR) di Pondok Pesantren Daarul Mukhlishin, Cisantana, Cigugur.
Menurut Nana, kecanggihan teknologi saat ini dimanfaatkan oleh kelompok radikal dengan memanfaatkan algoritma platform digital. Konten radikalisme tidak lagi disebar secara konvensional, melainkan dikemas modern lewat video pendek, meme, hingga potongan ceramah yang dimanipulasi.

“Ketika seseorang menyukai atau berlama-lama melihat satu konten radikal, algoritma akan terus menyajikan konten serupa. Akibatnya, sudut pandang menjadi sempit dan keyakinan yang keliru semakin menguat,” ujar Nana di hadapan sekitar 100 santri, pelajar, dan mahasiswa.
Situasi echo chamber inilah yang dinilai berbahaya karena mengisolasi pengguna media sosial dari informasi yang berimbang. Ironisnya, Gen-Z menjadi sasaran empuk karena faktor psikologis mereka yang berada di fase pencarian identitas diri.
Nana menegaskan, langkah pemerintah dalam memblokir situs atau konten negatif saja tidak akan pernah cukup untuk menyelesaikan masalah ini. Benteng terkuat harus tumbuh dari dalam diri pengguna itu sendiri melalui daya tahan digital (digital resilience).

Untuk memutus rantai jebakan algoritma tersebut, Diskominfo Kuningan mendesak Gen-Z menguasai empat pilar literasi digital: Digital Skills, Digital Culture, Digital Ethics, dan Digital Safety. Kemampuan berpikir kritis dan pemahaman 4 Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) harus menjadi kompas moral saat berselancar di dunia maya. Sebagai langkah perlawanan, anak muda diajak untuk mengubah peran mereka di ruang digital.
“Banjiri ruang digital dengan pesan perdamaian, toleransi, kreativitas, dan optimisme untuk menenggelamkan konten radikal,” pungkas Nana.
Acara strategis ini dibuka resmi oleh Bunda Literasi Kabupaten Kuningan, Hj. Ela Helayati, S.Sos., serta menghadirkan narasumber lain seperti Dr. H. Fenny Rahman, HS., M.Pd., dan Bambang Priatna, S.Kom. Ketua GEMAR Kuningan, KH. Yayat Hidayat, S.Ag, M.Pd., menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi respons nyata atas maraknya ancaman digital mulai dari hoaks, judi online, pinjol ilegal, hingga radikalisme yang mengintai generasi muda. (vr)**










