Surplus Beras Melimpah, Petani Kuningan Kian Percaya Diri Hadapi 2026

KARTINI (Kuningan) – Melimpahnya produksi beras di Kabupaten Kuningan tidak hanya bicara soal angka surplus, tetapi juga tentang meningkatnya rasa aman dan kepercayaan diri petani dalam mengelola usaha tani mereka. Di tengah kekhawatiran fluktuasi pangan nasional, petani Kuningan justru menikmati stabilitas produksi dan harga yang relatif terjaga.

Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan menunjukkan, produksi beras pada tahun 2025 mencapai 254.124 ton. Dengan kebutuhan konsumsi masyarakat sekitar 134.191 ton per tahun, daerah ini mencatat surplus hingga 119.933 ton. Kondisi tersebut membuat Kuningan tidak sekadar mampu memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga menjadi penopang pasokan beras bagi wilayah lain.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., menyebut bahwa keberhasilan ini berdampak langsung pada keberlanjutan usaha tani. Produksi yang meningkat dan stabil memberikan ruang bagi petani untuk mengatur waktu jual hasil panen tanpa tekanan harga.

“Petani tidak harus menjual gabah sekaligus saat panen raya. Sebagian disimpan di gudang dan dilepas bertahap, sehingga harga tetap menguntungkan,” ujar Wahyu, Kamis (18/12/2025).

Kepercayaan diri petani juga ditopang oleh capaian luas tanam dan panen yang melampaui target provinsi. Hingga musim tanam 2024/2025 sampai 2025, luas tanam padi mencapai 64.185 hektare dan luas panen 64.188 hektare. Angka tersebut jauh di atas target Provinsi Jawa Barat, menandakan semangat tanam petani yang terus terjaga.

Produktivitas rata-rata 61,75 kuintal per hektare dengan total produksi gabah 396.388 ton memperkuat keyakinan bahwa lahan pertanian yang ada masih sangat potensial. Dukungan pola iklim yang relatif stabil memungkinkan petani meningkatkan indeks pertanaman, bahkan di beberapa wilayah mampu panen hingga tiga kali setahun tanpa perlu membuka lahan baru.

Dari sisi kebijakan, kehadiran pemerintah daerah turut dirasakan langsung oleh petani. Bantuan alat dan mesin pertanian, pengembangan irigasi pemompaan, serta stimulan pengelolaan lahan membantu menekan biaya produksi dan mempercepat masa tanam. Ditambah lagi, kebijakan penyerapan gabah oleh Bulog dengan harga Rp6.500 per kilogram GKP memberikan jaminan dasar bagi pendapatan petani.

Kinerja pertanian Kuningan yang diakui secara nasional semakin mempertegas posisi daerah ini. Apresiasi dari Kementerian Pertanian RI atas kontribusi terhadap produksi padi Jawa Barat menjadi bukti bahwa kerja petani di tingkat lokal berdampak hingga skala nasional.

Dengan kondisi surplus yang terkelola, harga yang relatif stabil, dan dukungan kebijakan yang konsisten, petani Kuningan kini tidak hanya berperan sebagai produsen pangan, tetapi juga sebagai aktor utama dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. (vr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *