woman silhouette in darkness

Lima Tahun yang Tidak Pernah Selesai

KARTINI (Cerpen) – Malam selalu datang dengan cara yang sama. Pelan, dingin, dan membawa suara-suara lama yang tak pernah benar-benar pergi. Di bawah lampu jalan yang redup, Sarna berdiri mematung, tubuhnya berusia delapan belas tahun, tetapi jiwanya telah menua jauh sebelum waktunya.

Rumah di hadapannya sunyi. Dindingnya kusam, catnya mengelupas seperti kulit yang menolak sembuh. Di sanalah semuanya bermula—dan berakhir.

Lima tahun lalu, Sarna masih anak kelas dua SMP yang percaya bahwa dunia, sekejam apa pun, masih bisa diajak berunding. Malam itu hujan turun deras, seperti ingin menghapus jejak kaki manusia dari bumi. Ibunya pulang dari berjualan kacang rebus lebih lambat dari biasanya. Ketika pintu akhirnya terbuka, perempuan yang selama ini menjadi matahari kecil dalam hidupnya masuk dengan tubuh gemetar dan mata kosong. Tak ada kata-kata. Hanya darah di sudut bibir, pakaian kusut, dan tatapan yang seperti patah.

Tetangga mereka—lelaki itu—pelakunya. Sarna ingat bagaimana tangannya mengepal, kukunya menancap di telapak sendiri. Amarahnya menyala seperti bensin disiram api. Namun dunia tidak berpihak pada kemarahan anak lelaki berusia tiga belas tahun. Polisi datang, tetua kampung berkumpul, kata “damai” melayang-layang di udara seperti doa palsu.

“Demi kebaikan bersama,” kata mereka.
“Demi masa depan anakmu,” bujuk mereka pada ibunya.

Dan ibunya, dengan suara yang sudah remuk, mengangguk.

Sejak malam itu, Sarna belajar satu hal, keadilan tidak selalu turun dari langit  kadang ia harus diambil dengan tangan sendiri. Ibunya menjadi sunyi. Senyumnya tinggal bayangan. Setiap malam ia terbangun karena mimpi buruk, memeluk lututnya, menangis tanpa suara. Sarna sering mengintip dari balik pintu, merasa tak berdaya, seperti anak kecil yang gagal menjaga rumahnya sendiri. Dendam mulai tumbuh di dadanya—pelan tapi pasti. Ia tidak meledak. Ia mengendap. Seperti bara di bawah abu.

Lima tahun berlalu. Lelaki itu masih hidup bebas, tertawa di warung kopi, menyapa orang-orang seolah tangannya tak pernah kotor. Setiap kali Sarna melihatnya, darahnya mendidih, tetapi wajahnya tetap tenang. Ia belajar menyembunyikan api di balik tatapan dingin. Malam ini, hujan kembali turun. Seperti lingkaran yang menutup dirinya sendiri.

Sarna melangkah mendekat. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tetapi karena terlalu lama menahan amarah. Di saku jaketnya, ada pisau dapur—benda sederhana, saksi bisu dari niat yang telah lama matang. Pintu rumah itu terbuka setelah ketukan ketiga. Wajah lelaki itu muncul, menua, tetapi mata itu—mata yang sama—masih menyimpan kesombongan.

“Kamu anak siapa?” tanyanya santai.

Sarna menatapnya lama. Dalam tatapan itu ada lima tahun air mata ibunya, lima tahun tidur yang tak pernah nyenyak, lima tahun hidup yang dipaksa berjalan di atas luka.

“Aku anak dari perempuan yang kau hancurkan,” jawabnya pelan.

Waktu seperti berhenti. Lelaki itu mundur setapak, matanya menyempit. Mulutnya terbuka, hendak berkata sesuatu—mungkin alasan, mungkin kebohongan.

Tapi Sarna tak ingin mendengar apa pun lagi.

Gerakannya cepat, tetapi perasaannya lambat. Saat pisau itu menusuk, ia tidak merasa gagah, tidak pula lega. Yang ada hanya kesedihan yang runtuh, seperti bangunan tua yang akhirnya roboh karena menahan beban terlalu lama. Lelaki itu jatuh. Darah mengalir, menyatu dengan air hujan di lantai, seperti dosa yang akhirnya menemukan jalannya sendiri.

Sarna terhuyung. Dadanya sesak. Ia berlutut, tangannya bergetar hebat. Dalam keheningan itu, wajah ibunya muncul di benaknya—bukan wajah yang menangis, tetapi wajah yang dulu tersenyum, sebelum semuanya direnggut.

“Ma,” bisiknya, suara pecah oleh isak yang tertahan sejak lama.
“Aku sudah mencoba memaafkan.”

Sirene terdengar dari kejauhan. Dunia kembali bergerak.

Ketika polisi membawanya pergi, Sarna menoleh sekali lagi ke rumah itu. Tidak ada kemenangan di sana. Hanya akhir dari penantian panjang.

Ia tahu, hukuman sejati bukanlah penjara atau borgol besi. Hukuman sejati adalah hidup dengan kenangan, dengan darah di tangan dan cinta yang tak pernah benar-benar bisa diselamatkan. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang membuatnya tetap berdiri.  Ia tidak lagi diam. Ia memilih bersuara, meski suaranya terbuat dari luka.

Seperti hujan yang menutup malam itu dengan deru semakin deras. Dan dendam—akhirnya—menemukan titik akhir, bukan sebagai pahlawan, bukan pula sebagai iblis, melainkan sebagai anak yang terlalu lama dipaksa berdamai dengan ketidakadilan.

Kuningan, 19 Januari 2026

Penulis : Vera Verawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *