Solusi Cegah Stunting Lewat Program Pangan Terpadu Rumah Bibit.
KARTINI – Upaya penurunan angka stunting di Kabupaten Kuningan kini bergerak ke arah yang lebih inovatif dan berbasis masyarakat. Pemerintah Kabupaten Kuningan, melalui Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), memperkuat pendekatan pemberdayaan desa lewat program Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) yang saat ini telah dikembangkan di 25 desa.
Program tersebut menghadirkan integrasi antara rumah bibit, kolam ikan, dan kandang ayam sebagai solusi konkret untuk menjamin ketersediaan pangan bergizi yang berkelanjutan di tingkat keluarga. Rumah bibit berfungsi sebagai pusat pembibitan sayuran dan tanaman pangan lokal, dikelola oleh kelompok wanita tani, sementara kolam ikan dan kandang ayam difungsikan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani keluarga sasaran stunting.

“Melalui integrasi ini, kami ingin memastikan ketersediaan pangan bergizi yang berkelanjutan di tingkat keluarga. Upaya ini juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat agar penurunan stunting tidak hanya berhasil dari sisi kesehatan, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan,” jelas Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., dalam Rapat Koordinasi TPPS di Sekretariat Daerah, Selasa (7/10/2025).
Langkah tersebut mendapat dukungan penuh dari Wakil Bupati sekaligus Ketua TPPS, Tuti Andriani, S.H., M.Kn., yang menegaskan bahwa penanganan stunting bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan gerakan bersama seluruh lapisan masyarakat.
“Penanganan stunting bukan soal angka semata, tapi tentang masa depan anak-anak Kuningan. Keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi hambatan, justru menjadi dorongan untuk berinovasi,” ujarnya.

Menurut data TPPS, angka stunting di Kabupaten Kuningan menunjukkan penurunan sebesar 0,7 persen pada 2024, setelah sempat meningkat pada periode 2021–2023. Wilayah dengan angka stunting tertinggi masih berada di Kecamatan Cigandamekar, Garawangi, dan Cigugur.
Selain memperkuat inovasi pangan di desa, pemerintah daerah juga menyiapkan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) serta sistem pendataan digital melalui aplikasi SIMPATI untuk memastikan penanganan yang lebih tepat sasaran.
Kepala Bappeda Kuningan, Purwadi Hasan Darsono, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memastikan percepatan penurunan stunting berjalan efektif.
“Ketika setiap unsur masyarakat ikut bergerak, dari ASN hingga perangkat desa, maka penanganan stunting tidak lagi menjadi beban, tapi menjadi gerakan bersama,” ujarnya optimistis.
Melalui strategi berbasis desa dan pemberdayaan keluarga ini, Kabupaten Kuningan menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 20,7 persen pada tahun 2025 dengan semangat gotong royong dan kemandirian sebagai fondasi utama. (vr)










