Petani Cikaso Bergerak Cegah Tungro, Upaya Menyelamatkan Panen Padi Sejak Dini
KARTINI (Kuningan) -Ancaman penyakit tungro pada tanaman padi mendorong petani Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya, untuk bergerak cepat melakukan pengendalian sejak dini. Melalui kegiatan Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) di lahan seluas 5 hektare, petani berupaya melindungi tanaman padi agar tetap tumbuh optimal hingga masa panen.
Langkah pengendalian dilakukan setelah petani menerima informasi hasil pengamatan lapangan yang menunjukkan adanya potensi perkembangan penyakit tungro. Penyakit yang ditularkan oleh serangga wereng hijau ini dikenal berisiko tinggi menurunkan produksi jika tidak segera ditangani.

Kelompok Tani Bina Karya III Desa Cikaso menjadi pelaksana utama kegiatan pengendalian di lapangan. Bagi petani, Gerdal bukan sekadar kegiatan teknis, melainkan langkah penting untuk memutus siklus penyebaran penyakit yang dapat mengancam sumber penghidupan mereka.
Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Kramatmulya, Anas Nasrudin, menjelaskan bahwa pengendalian terpadu menjadi kunci utama dalam menghadapi penyakit tungro.
“Jika gejala awal sudah terdeteksi, pengendalian harus segera dilakukan agar serangan tidak meluas dan kerugian petani bisa ditekan,” ujarnya.

Dalam pelaksanaan Gerdal, petani juga mendapatkan pendampingan teknis langsung di sawah, mulai dari pengenalan gejala penyakit, cara pengendalian vektor wereng hijau, hingga penerapan pola tanam yang lebih serempak. Pendampingan ini membantu petani memahami bahwa pengendalian tungro tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus bersama-sama dan berkelanjutan.
Penyakit tungro sendiri ditandai dengan perubahan warna daun menjadi kuning hingga oranye, pertumbuhan tanaman yang terhambat, serta hasil malai yang tidak terisi sempurna. Kondisi tersebut dapat berdampak langsung pada penurunan hasil panen, bahkan berpotensi gagal panen apabila dibiarkan.
Kepala Desa Cikaso, Hidayat Noor, menyebut bahwa kewaspadaan petani terhadap penyakit tanaman menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan produksi padi di desa.
“Petani kini semakin sadar bahwa pencegahan lebih baik daripada menunggu serangan semakin parah. Gerakan pengendalian ini menjadi bentuk kepedulian bersama terhadap masa depan pertanian desa,” ungkapnya.
Melalui kesigapan petani, pengamatan rutin, dan pengendalian yang dilakukan secara terpadu, diharapkan ancaman penyakit tungro dapat ditekan sejak awal. Upaya ini menjadi bagian dari ikhtiar petani Desa Cikaso dalam menjaga hasil panen, mempertahankan produktivitas lahan, dan memastikan keberlanjutan usaha tani padi di wilayahnya. (vr)










