Puasa Anak- Anak Langit
Ditulis oleh : Vera Verawati
Senja turun perlahan, entah kenapa hujan seperti tangis bidadari yang kehilangan selendang. Sedari pagi hingga petang terus menderas, lantai bumi yang dingin menggenapi sepi yang menyayat. Anak-anak langit dan dhuafa terbiasa menelan lara, dalam diam menyebut nama-Mu, menjadikannya kuat bertahan Jalani kehidupan.
Perut mereka kosong, hari-harinya sudah penuh oleh janji-janji mereka yang gambarnya memenuhi spanduk di jalanan kota. Namun hati mereka penuh śraddhā¹. Sebab sia-sia mendendam bahkan pada kemiskinan yang mendera. Lapar mereka bukan sekadar lapar, ia menjadi tapas² sunyi. Damaikan hati dari memaki dan membenci.
Ya Rabb,
Di antara desir angin dan cahaya redup merajuk, Engkau titipkan karuṇā³ pada jiwa-jiwa kecil yang berserah. Berbuka dengan sederhana, tiga butir kurma yang di dapatnya dari pembagian takjil di depan Gedung Putih yang konon keadilan ada di sana. Syukur mereka seluas ākāśa⁴ menggugurkan dosa-dosa.
Air mata yang jatuh di pipi kurus adalah doa yang menjelma ānanda⁵. Puasanya adalah dharma⁶ yang jernih— jalan sunyi menuju ridha-Mu. Dan pada tangan-tangan kecil yang terangkat, kami belajar arti kaya yang sesungguhnya. Bahwa sesekali lapar memberi jeda bagi raga-raga pengejar nafsu belaka.
Catatan Kaki
- Śraddhā: iman atau keyakinan yang tulus.
- Tapas: laku pengendalian diri sebagai ibadah.
- Karuṇā: kasih sayang ilahi.
- Ākāśa: langit atau ruang tanpa batas.
- Ānanda: kebahagiaan batin yang suci.
- Dharma: jalan kebenaran atau kewajiban suci.










