Skip to content
-
Berlangganan buletin kami & jangan pernah ketinggalan postingan terbaik kami. Berlangganan Sekarang!
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Home/Artikel/Opini/Selesai dengan Diri Sendiri, Tentang Belajar Pulih Sebelum Mencintai Lagi
Opini

Selesai dengan Diri Sendiri, Tentang Belajar Pulih Sebelum Mencintai Lagi

By admin_kartini
Maret 5, 2026
0

Ditulis Oleh : Vera Verawati

Ada luka yang tidak terlihat, tetapi terasa setiap hari. Luka itu tidak berdarah, namun diam-diam mengubah cara kita memandang diri sendiri, orang lain, dan bahkan cinta. Perpisahan dalam pernikahan sering kali meninggalkan luka semacam itu—terutama ketika hubungan tersebut diwarnai oleh kekerasan atau pengkhianatan.

Bagi mereka yang pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga, cinta yang dulu dijanjikan berubah menjadi ruang yang menakutkan. Kata-kata yang seharusnya menguatkan justru melukai. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang malah terasa seperti tempat bertahan. Sementara bagi mereka yang pernah dikhianati oleh perselingkuhan, rasa percaya seolah runtuh seketika. Pertanyaan yang sama terus berulang di kepala: Apa yang kurang dari diriku? Mengapa aku tidak cukup?

Dalam kondisi seperti ini, tidak sedikit orang yang ingin segera memulai hubungan baru. Bukan karena benar-benar siap mencintai lagi, tetapi karena ingin membuktikan bahwa dirinya masih layak dicintai. Ada juga yang berharap kehadiran orang baru bisa menutup rasa sepi atau menenangkan luka lama.

Namun, sering kali yang terjadi justru sebaliknya. Luka yang belum selesai diam-diam ikut masuk ke dalam hubungan baru. Ketakutan lama muncul kembali. Curiga menjadi mudah. Kepercayaan terasa rapuh. Bukan karena pasangan yang baru melakukan kesalahan, tetapi karena hati kita masih membawa sisa-sisa luka yang belum benar-benar dipeluk dan dipahami. Di sinilah pentingnya sebuah proses yang sering kali tidak nyaman, selesai dengan diri sendiri terlebih dahulu.

Selesai dengan diri sendiri bukan berarti kita harus menjadi orang yang sepenuhnya sembuh atau tidak pernah lagi mengingat masa lalu. Tidak ada manusia yang benar-benar bebas dari bekas luka. Tetapi selesai dengan diri sendiri berarti kita berani duduk bersama luka itu, mengakuinya, dan perlahan belajar berdamai dengannya.

Proses ini sering kali sunyi. Ada hari-hari ketika kita harus menerima bahwa hubungan yang dulu diperjuangkan ternyata tidak bisa diselamatkan. Ada malam-malam ketika kenangan datang tanpa diundang. Ada momen ketika kita merasa marah, kecewa, atau bahkan menyalahkan diri sendiri. Tetapi justru dari ruang sunyi itulah kita mulai menemukan kembali diri kita.

Kita mulai menyadari bahwa nilai diri kita tidak pernah ditentukan oleh kekerasan yang pernah kita terima. Kita mulai memahami bahwa pengkhianatan pasangan bukanlah ukuran dari kelayakan kita untuk dicintai. Kita belajar membangun kembali batasan, menghargai diri sendiri, dan memahami seperti apa cinta yang sehat seharusnya terlihat. Dan perlahan, sesuatu yang sederhana tetapi sangat berharga mulai kembali tumbuh, rasa percaya pada diri sendiri.

Ketika seseorang sudah sampai pada titik ini, hubungan baru tidak lagi menjadi pelarian dari luka. Ia menjadi pilihan yang lebih sadar. Kita tidak lagi mencari seseorang untuk “menyelamatkan” kita, tetapi untuk berjalan bersama kita. Cinta yang lahir dari proses seperti ini biasanya lebih tenang. Tidak terburu-buru. Tidak didorong oleh ketakutan akan kesepian.

Ada ruang untuk saling menghargai, saling percaya, dan saling menjaga. Karena pada akhirnya, mencintai orang lain dengan sehat sering kali dimulai dari satu hal yang sederhana tetapi tidak mudah, berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu. Bukan untuk menutup masa lalu, tetapi untuk memastikan bahwa luka lama tidak lagi menentukan masa depan kita.

Kuningan, 5 Maret 2026

Tags:

BerdamaiDiri SendiriPsikologiUmum
Author

admin_kartini

Other Articles
silhouette of boys standing together
Previous

Puasa Anak- Anak  Langit

refreshing iced coffee with jelly cubes on table
Next

Es Cappuccino Cincau, Minuman Segar Penghilang Lapar Untuk Berbuka

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kartini Kuningan adalah media portal berita independen yang menghadirkan informasi tepercaya, aktual, dan mendalam seputar dinamika Kabupaten Kuningan hingga beragam peristiwa penting di tingkat nasional.

Mengusung slogan "Phalosa Inspiratif", kami berkomitmen menjadi ruang informasi yang tak hanya menceritakan fakta, tetapi juga memancarkan cahaya inspirasi (phalosa) bagi masyarakat. Kami percaya bahwa setiap berita, kisah lokal, dan dinamika daerah memiliki potensi untuk mengedukasi, menginspirasi, serta mendorong perubahan positif.

  • Facebook
  • X
  • Instagram
  • LinkedIn
Copyright 2026 — Kartini Kuningan. All rights reserved. Theme By Derijck Nugroho