Skip to content
-
Berlangganan buletin kami & jangan pernah ketinggalan postingan terbaik kami. Berlangganan Sekarang!
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

Kartini Kuningan Kartini Kuningan Kartini Kuningan

Phalosa Inspiratif

  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
  • Home
  • Berita
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Seni & Budaya
  • Kuliner
  • Opini
  • Profil
  • Wisata
  • Roman
  • Quotes
  • Tentang Kami
Close

Search

  • Facebook
  • instagram
  • Tiktok
  • youtube
Home/Berita/Gotong Royong atau Ketergantungan? Pesan Tersirat dari Milangkala Barakuda
BeritaSosial Ekonomi

Gotong Royong atau Ketergantungan? Pesan Tersirat dari Milangkala Barakuda

By admin_kartini
Maret 24, 2026
0

KARTINI (Kuningan) – Di tengah perayaan Milangkala ke-14 Paguyuban Barakuda di Taman Open Space Kertawangunan (OSK), Selasa (24/3/2026), terselip satu pesan penting yang memantik refleksi, pembangunan daerah ternyata masih sangat bergantung pada kekuatan di luar pemerintah, termasuk para perantau.

Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., secara terbuka mengakui bahwa peran masyarakat—terutama mereka yang merantau—menjadi faktor signifikan dalam mendorong percepatan pembangunan di daerah. Ia menyebut paguyuban seperti Barakuda bukan sekadar wadah silaturahmi, melainkan “energi tambahan” yang nyata.

Namun di balik optimisme itu, muncul pertanyaan yang lebih dalam,  sejauh mana ketergantungan terhadap kontribusi perantau ini mencerminkan kekuatan internal daerah itu sendiri?

Dalam sambutannya, Bupati Dian menggambarkan bagaimana para perantau kerap menjadi motor penggerak di desa, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga kegiatan sosial. Mereka tidak hanya pulang membawa kerinduan, tetapi juga solusi dan sumber daya.

Fenomena ini menunjukkan adanya solidaritas sosial yang kuat. Namun di sisi lain, hal ini juga mengindikasikan bahwa pembangunan lokal belum sepenuhnya ditopang oleh sistem yang mandiri dan berkelanjutan dari dalam daerah.

Satu tahun masa kepemimpinannya, Bupati Dian mengakui bahwa kondisi awal Kuningan tidaklah mudah. Berbagai persoalan menjadi tantangan besar yang harus dihadapi secara bertahap. Ia menegaskan bahwa kebersamaan menjadi kunci untuk mulai menata keadaan.

Optimisme tetap digaungkan, terutama dengan mulai terbukanya peluang investasi yang diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru. Tetapi harapan tersebut juga membawa konsekuensi: kesiapan sumber daya manusia lokal menjadi krusial, termasuk peluang bagi para perantau untuk kembali dan berkontribusi langsung.

Di sisi lain, Wakil Bupati Tuti Andriani menyoroti pentingnya menjaga koneksi emosional antara perantau dan kampung halaman. Ia menilai bahwa kekompakan seperti yang ditunjukkan Barakuda adalah modal sosial yang tidak ternilai.

Meski demikian, pembangunan yang terlalu bergantung pada ikatan emosional dan kontribusi sukarela berisiko tidak stabil jika tidak diimbangi dengan kebijakan struktural yang kuat.

Menariknya, pesan Bupati Dian tentang organisasi juga mengandung kritik tersirat. Ia menegaskan bahwa berorganisasi bukan soal gengsi, melainkan manfaat. Pernyataan ini seolah menjadi pengingat bahwa keberadaan komunitas harus benar-benar berdampak, bukan sekadar simbol kebersamaan.

Perayaan Milangkala Barakuda ditutup dengan kegiatan santunan anak yatim, memperlihatkan sisi humanis dan kepedulian sosial yang masih menjadi kekuatan utama masyarakat Kuningan.

Namun pada akhirnya, perayaan ini bukan hanya tentang perjalanan 14 tahun sebuah paguyuban, melainkan juga tentang arah masa depan: apakah Kuningan akan terus bertumpu pada semangat gotong royong perantau, atau mulai membangun kemandirian yang lebih kokoh dari dalam. (vr)

Tags:

Barakudabupati kuninganPerantauWabup Kuningan
Author

admin_kartini

Other Articles
Previous

Kebakaran Dini Hari, Pemerintah Gerak Cepat Salurkan Bantuan untuk Warga Bayuning

Next

Dari Panggung Hiburan ke Aksi Nyata, Cara Desa Baok Membuktikan Pembangunan Dimulai dari Kebersamaan

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kartini Kuningan adalah media portal berita independen yang menghadirkan informasi tepercaya, aktual, dan mendalam seputar dinamika Kabupaten Kuningan hingga beragam peristiwa penting di tingkat nasional.

Mengusung slogan "Phalosa Inspiratif", kami berkomitmen menjadi ruang informasi yang tak hanya menceritakan fakta, tetapi juga memancarkan cahaya inspirasi (phalosa) bagi masyarakat. Kami percaya bahwa setiap berita, kisah lokal, dan dinamika daerah memiliki potensi untuk mengedukasi, menginspirasi, serta mendorong perubahan positif.

  • Facebook
  • X
  • Instagram
  • LinkedIn
Copyright 2026 — Kartini Kuningan. All rights reserved. Theme By Derijck Nugroho