Bukan Sekadar Angka Surplus, Saatnya Penyuluh Pertanian Kuningan “Menampakkan Diri”
KARTINI (Kuningan) – Di balik gemilangnya angka surplus beras Kabupaten Kuningan yang menembus 120 ribu ton, terselip sebuah teguran keras bagi para “ujung tombak” pangan. Pemerintah Kabupaten Kuningan kini menuntut perubahan radikal: tidak boleh ada lagi penyuluh pertanian yang hanya menjadi sosok “gaib” bagi para petani.
Selama ini, prestasi Kuningan memang mentereng. Pada 2025, produksi padi mencapai lebih dari 396 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG). Namun, tumpukan angka tersebut dinilai tidak akan berkelanjutan jika ada jarak antara kebijakan pemerintah dan realitas di pematang sawah.

Menjawab Kritik “Penyuluh Tak Terlihat”
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., tidak menampik adanya keluhan dari akar rumput. Masih ada petani yang merasa berjuang sendirian tanpa pendampingan teknis yang nyata.
“Kita harus jujur. Masih ada petani yang merasa belum pernah didampingi penyuluh. Ini peringatan keras. Tidak boleh terjadi lagi,” tegas Wahyu dalam agenda pembinaan penyuluh, Kamis (9/4/2026).
Pesan ini jelas, Surplus beras bukan alasan untuk berpuas diri. Bagi Pemkab Kuningan, keberhasilan panen yang lebih awal—mencapai 78 persen luas lahan pada Maret ini—harus dibarengi dengan kualitas kehadiran manusia di lapangan.

Transformasi Jadi “Agen Perubahan”
Tantangan ke depan bukan lagi sekadar soal pupuk dan benih. Perubahan iklim yang tak menentu serta dinamika pasar global menuntut petani untuk lebih cerdas. Di sinilah penyuluh diminta “naik kelas”.
Penyuluh tidak lagi hanya bertugas memberikan instruksi teknis, melainkan harus bertransformasi menjadi:
- Penggerak: Memotivasi petani untuk beradaptasi dengan teknologi baru.
- Solusi Berjalan: Hadir saat hama menyerang atau saat cuaca mulai ekstrem.
- Membangun Kepercayaan: Menghapus jarak komunikasi agar petani merasa memiliki rekan diskusi yang kompeten.
Menjaga Nafas Swasembada
Dengan kebutuhan konsumsi lokal yang hanya sekitar 134 ribu ton per tahun, Kuningan memang menjadi lumbung pangan strategis bagi Jawa Barat. Namun, efisiensi ini bergantung pada integritas para penyuluhnya.
Wahyu menekankan bahwa tiga kekuatan utama penyuluh masa depan adalah pengetahuan, kepercayaan, dan integritas. Tanpa ketiganya, angka surplus hanya akan menjadi catatan di atas kertas, sementara petani tetap rentan terhadap ancaman gagal panen.
“Kuningan punya modal kuat. Sekarang kuncinya satu: penyuluh harus benar-benar hadir dan bekerja untuk petani,” pungkasnya. Transformasi ini kini menjadi prioritas utama demi memastikan piring masyarakat tetap terisi, dan kesejahteraan petani tetap terjaga. (vr)










