Sindir Pembangunan yang Cuma Kejar Setoran Fisik, Bupati Kuningan Pilih Jaga Warisan UNESCO Lewat Silat
KARTINI (Kuningan) — Pemerintah Kabupaten Kuningan menegaskan bahwa kemajuan sebuah daerah tidak bisa hanya diukur dari megahnya infrastruktur fisik. Pembangunan karakter manusia dan pelestarian identitas budaya dinilai memiliki porsi yang sama pentingnya untuk masa depan daerah.
Pesan kuat tersebut disampaikan oleh Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., saat mengapresiasi tingginya animo peserta dalam Kejuaraan Pencak Silat Nasional Ciremai Fest Series 2026 di GOR Ewangga, Kamis (18/6/2026).

“Pembangunan daerah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik seperti jalan, jembatan, dan gedung, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satunya melalui olahraga yang mampu membentuk karakter, disiplin, serta mental yang kuat,” tegas Bupati Dian.
Nama “Ciremai Fest” yang dipilih oleh pihak penyelenggara ternyata bukan sekadar pelengkap keren. Ketua Panitia Pelaksana, Mukhlis Aminudin (Ami), membeberkan makna mendalam di balik penamaan ajang berskala nasional tersebut.
Gunung Ciremai, yang menjadi ikon tertinggi di Jawa Barat sekaligus kebanggaan Kuningan, diambil sebagai simbol filosofis karena perannya sebagai sumber kehidupan masyarakat melalui mata air yang terus mengalir tanpa henti. Melalui kejuaraan ini, panitia berharap ajang ini bisa menjadi “mata air” serupa yang terus mengalirkan bibit-bibit atlet berprestasi bagi negeri.

Ajang perdana yang diinisiasi oleh SKC Prima di bawah Yayasan Prima Jati Indah ini langsung menyedot perhatian besar dengan total 765 peserta dari 44 kontingen perguruan maupun sekolah di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) dan sekitarnya.
Melihat suksesnya kolaborasi mandiri dari komunitas olahraga dan sponsor ini, Bupati Dian langsung menantang panitia untuk menaikkan level turnamen ini di tahun depan. Pemda Kuningan menyatakan komitmennya untuk turun tangan memberikan dukungan penuh.

“Saya berharap Ciremai Fest Series tidak berhenti sampai di sini. Tahun depan harus kembali dilaksanakan dengan skala yang lebih besar. Pemerintah Daerah akan memberikan dukungan agar event ini menjadi kebanggaan Kabupaten Kuningan,” janjinya.
Di akhir sambutannya, Bupati juga mengingatkan ratusan pesilat muda bahwa pencak silat bukan sekadar teknik bela diri fisik atau ajang pamer kekuatan, melainkan identitas bangsa yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.
Para atlet pun diminta untuk membawa nilai-nilai luhur silat ke dalam matras pertandingan melalui sportivitas yang tinggi. “Menang tanpa merendahkan dan kalah dengan kepala tegak. Melalui olahraga, kita belajar menghormati lawan, menerima hasil pertandingan, serta memperkuat persaudaraan,” tutup Bupati Dian. (vr)**










